Kumparan Logo

4 Stereotip Introvert di Lingkungan Kerja yang Harus Ditinggalkan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi wanita karier. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita karier. Foto: Shutter Stock

Ladies, sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam konteks bersosialisasi, seorang introvert kerap kali dipandang sebelah mata. Mindset bahwa perempuan introvert adalah pribadi yang pemalu, pendiam, dan tidak pintar bersosialisasi seakan sudah mendarah daging di masyarakat.

Padahal, introversion atau sifat introvert seseorang tidak sama dengan sifat pendiam ataupun pemalu. Dilansir Psych Central, seorang introvert mendapatkan energi untuk bersosialisasi dari dalam diri sendiri, sehingga mereka cenderung senang menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri. Namun, ini bukan berarti mereka sepenuhnya menghindari kehidupan sosial.

Stereotip yang melekat pada perempuan introvert akhirnya terbawa hingga lingkungan kerja, Ladies. Kepribadian seorang introvert yang cenderung lebih tenang sering kali disalahartikan oleh rekan kerjanya, sehingga membuat si introvert tampak kurang kompeten.

Nah, apa saja stereotip yang masih melekat pada perempuan introvert yang harus ditinggalkan? kumparanWOMAN telah merangkum sejumlah stereotip, yang bisa Ladies simak selengkapnya berikut ini.

1. Seorang introvert sudah pasti pemalu

Ilustrasi karyawan kecapekan kerja. Foto: CrizzyStudio/Shutterstock

Dikutip dari Psych Central, stereotip yang kerap kali melekat pada perempuan introvert adalah dia sudah pasti pemalu. Padahal, sifat introvert tidak sama dengan sifat pemalu.

Menurut Laurie Helgoe, Ph.D, dosen psikologi di Davis & Elkins College, Amerika Serikat, seorang introvert biasanya memproses semua hal secara internal di dalam pikiran mereka, sedangkan para ekstrovert memproses pikiran mereka sembari mereka berbicara.

“Para introvert tampak malu-malu karena mereka cenderung selalu mengambil waktu untuk berpikir banyak sebelum berbicara,” ucap Laurie, sebagaimana dikutip dari Psych Central.

2. Introvert tidak punya skill public speaking yang baik

Ilustrasi lingkungan kerja yang setara gender. Foto: Shutter.B/Shutterstock

Stereotip pemalu dan pendiam yang melekat pada introvert membuat mereka dilabeli dengan stereotip lainnya: Tidak bisa melakukan public speaking dengan baik. Padahal, dikutip dari Psychology Today, semua orang berpotensi merasakan grogi dan cemas ketika melakukan public speaking, baik seorang introvert maupun ekstrovert.

Para introvert memang merasakan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan para ekstrovert, tetapi 84 persen dari kejadian public speaking anxiety sama sekali tidak berkaitan dengan sifat introvert atau ekstrovert seseorang.

3. Introvert bukanlah pemimpin sebaik para ekstrovert

Ilustrasi pemimpin perempuan. Foto: Tirachard Kumtanom/Shutterstock

Stereotip lainnya yang melekat pada para introvert adalah mereka dianggap bukanlah pemimpin sebaik para ekstrovert. Dikutip dari Psychology Today, dalam sebuah studi, disebutkan bahwa 96 persen pemimpin dan manajer dalam organisasi mengaku bahwa mereka adalah ekstrovert. Meskipun posisi tersebut mayoritas dipegang oleh ekstrovert, bukan berarti mereka sudah pasti merupakan pemimpin yang lebih baik dibandingkan introvert.

Justru, seorang introvert memiliki kelebihan ketika menjadi seorang pemimpin. Introvert, yang cenderung merupakan pendengar yang baik, mampu menerima saran dengan tangan terbuka, termasuk dari bawahannya. Pemimpin yang berempati dan pendengar yang baik akan mampu membimbing timnya sesuai dengan masukan. Ini pun akan berujung pada kesejahteraan anggota tim atau karyawan yang baik.

4. Seorang introvert payah dalam membangun jejaring

Ilustrasi kerja di kantor. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Membangun jejaring dalam lingkungan kerja membutuhkan banyak interaksi sosial, sehingga tak heran jika introvert—yang lebih suka menyendiri—dianggap tidak andal. Padahal, membangun jejaring atau networking tidak selalu berkaitan dengan kuantitas atau jumlah orang yang dikenal, tetapi juga kualitas hubungan yang baik dengan para kenalan.

Dilansir Psychology Today, sejumlah studi menunjukkan bahwa meskipun para ekstrovert merasakan lebih banyak emosi positif saat berada di publik, mereka tidak selalu memicu perasaan positif pada orang lain. Justru, penelitian mengungkapkan bahwa para ekstrovert lebih banyak menimbulkan perasaan negatif dalam diri orang lain dan cenderung memiliki hubungan kerja yang lebih sulit dengan rekan satu timnya.