Kumparan Logo

5 Fakta Kematian Perempuan Iran, Tewas Usai Demonstrasi Bakar Hijab

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mural Nika Shakarami di sebuah terowongan di Paris, Prancis. Foto: Francois Mori/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Mural Nika Shakarami di sebuah terowongan di Paris, Prancis. Foto: Francois Mori/AP Photo

Ladies, sejak bulan September lalu masyarakat Iran melakukan demonstrasi pascakematian Mahsa Amini. Perempuan berusia 22 tahun itu meninggal dunia pada Jumat (16/9) setelah ditahan oleh Guidance Patrol atau polisi moral Iran, unit kepolisian yang bertugas untuk menegakkan aturan dalam berpakaian atas tuduhan "unsuitable attire" atau "berbusana secara tidak pantas".

Kematian Mahsa Amini pun menuai kecaman dari para aktivis dan masyarakat Iran. Mereka melakukan aksi protes di jalanan dan media sosial untuk meminta pertanggungjawaban dari pemerintah Iran.

Aksi protes ini telah menelan banyak korban jiwa. Mengutip kumparanNEWS, Kelompok HAM Iran Human Rights (IHR) mencatat 185 korban jiwa demonstrasi usai kematian Mahsa Amini. Salah satu yang menjadi perhatian publik adalah kematian Nika Shakarami yang meninggal setelah melakukan demonstrasi aksi bakar hijab.

embed from external kumparan

Untuk mengetahui lebih dalam, berikut ini kumparanWOMAN telah merangkum beberapa fakta mengenai kematian Nika Shakarami. Simak selengkapnya di sini, ya.

Sempat hilang sebelum dikabarkan tewas

Mengutip laman Washington Post, Nika hilang di Teheran pada Selasa (20/10). Pada saat itu, diketahui Nika pergi dari rumah sekitar pukul 5 sore untuk mengunjungi saudara perempuannya. Namun, ternyata Nika ke luar rumah untuk melakukan demonstrasi. Ia sempat mengabarkan temannya karena terpisah dari rombongan bahwa saat itu sedang dikejar oleh polisi. Terakhir kali, Nika terlihat pada pukul 7 malam di tanggal 20 September 2022.

Nika melakukan aksi bakar hijab sebelum menghilang

Dikutip dari BBC, sebelum menghilang, seorang teman mengabarkan kepada bibinya Nika, Atash Shahkarami, bahwa Nika sempat membagikan cerita ke Instagram saat dirinya melakukan aksi protes dengan membakar hijab.

embed from external kumparan

Nika dikabarkan tewas setelah 10 hari menghilang

Nika dinyatakan hilang sejak Selasa (20/9). Pihak keluarga pun melaporkan kabar kehilangan Nika kepada pihak yang berwajib. Mereka bahkan mengunggah foto Nika di media sosial sebagai usaha pencarian.

Dikutip dari CNN International, keberadaan Nika tidak diketahui selama 10 hari. Sampai akhirnya pihak keluarga dikabarkan bahwa ada jasad yang mirip dengan karakteristik Nika menjadi salah satu korban tewas pada saat demonstrasi.

"Ketika kami pergi untuk mengidentifikasi dia, mereka tidak mengizinkan kami untuk melihat tubuhnya, hanya wajahnya selama beberapa detik," kata bibi Nika, Atash Shahkarami kepada BBC Persia.

Polisi membantah lakukan kekerasan hingga menyebabkan Nika meninggal dunia

embed from external kumparan

Kematian Nika Shakrami telah menjadi fokus bagi para aktivis HAM dari berbagai negara yang mengatakan bahwa ia terbunuh di hari pertama melakukan demonstrasi. Pemerintah Iran pun lantas menanggapi kejadian ini dengan melakukan penyelidikan.

Dikutip dari The Guardian, setelah menyelidiki kasus kematian Nika, pihak pemerintah mengatakan kepada awak media bahwa tidak ada luka tembak di tubuh Nika. Kematian Nika tidak terkait dengan aksi demonstrasi. Justru dikabarkan bahwa Nika meninggal dunia karena jatuh dari atap.

Mengutip dari CNN International, berdasarkan keterangan dari kantor berita negara Tasnim, Nika ditemukan di halaman belakang sebuah rumah di Teheran. Pihak kepolisian mengeluarkan rekaman CCTV di mana Nika memasuki sebuah gedung yang diklaim menjadi tempatnya terjatuh hingga tewas.

Sementara itu, dikutip dari BBC, seorang pejabat mengatakan Nika meninggal setelah dilempar dari sebuah gedung yang sedang dibangun oleh para pekerja bangunan.

Pihak keluarga klaim Nika dibunuh oleh aparat kepolisian

embed from external kumparan

Mengutip BBC, ibu Nika, Nasrin Shakarami mengeklaim bahwa anaknya tewas karena alami kekerasan saat demonstrasi. Pasalnya ia melihat ada luka di tubuh putrinya. Padahal pemerintah mengklaim Nika meninggal karena jatuh dari gedung.

"Saya melihat sendiri tubuh putri saya. Bagian belakang kepalanya menunjukkan bahwa dia menderita pukulan yang sangat parah karena tengkoraknya rusak. Begitulah cara dia dibunuh," kata Nasrin.

Nasrin mengatakan ada bukti sebuah laporan forensik yang mengungkapkan Nika telah terbunuh pada hari di mana ia melakukan demonstrasi. Nika meninggal dunia karena trauma benda tumpul di bagian kepalanya.

Kemudian BBC Persia juga berhasil mendapatkan sebuah sertifikat kematian yang dikeluarkan oleh sebuah pemakaman di Teheran. Sertifikat itu menyatakan bahwa Nika meninggal setelah menderita beberapa luka yang disebabkan oleh pukulan dengan benda keras.

embed from external kumparan

Pejabat kehakiman Teheran, Mohammad Shahriari, mengatakan dari hasil pemeriksaan Nika menderita patah tulang di beberapa bagian, antara lain di panggul; kepala; tungkai atas dan bawah; lengan dan kaki yang menunjukkan bahwa orang tersebut dilempar dari ketinggian.