Kumparan Logo

6 Hal Seputar Pidato Bersejarah Ratu Elizabeth II di Tengah Pandemi Corona

kumparanWOMANverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ratu Elizabeth. Foto: AFP/TOLGA AKMEN
zoom-in-whitePerbesar
Ratu Elizabeth. Foto: AFP/TOLGA AKMEN

Ratu Elizabeth II akhirnya memberikan pidato terkait pandemi Corona pada Minggu (5/4). Dalam momen bersejarah ini, ratu yang telah memimpin Inggris selama 68 tahun itu memberikan suntikan semangat kepada rakyatnya, agar mereka tidak putus harapan dalam menghadapi pandemi tersebut.

Secara khusus, pidato ini dianggap sebagai momen yang bersejarah. Sebab, selama masa kepemimpinannya, Ratu Elizabeth II jarang memberikan pidato, kecuali saat Natal tiba. Sebelumnya, ia terhitung baru tiga kali memberikan pidato, yaitu pada Perang Dunia kedua di tahun 1940, pada kematian Putri Diana di 1997, juga pada hari kematian ibunya di tahun 2002. Setelah itu, sang ratu belum memberikan pidato lagi selain pada momen Natal, hingga hari ini tiba.

Maka, perhatian pun tertuju pada isi dari pidato yang langka dan bersejarah tersebut. Seperti apakah fakta seputar pidato ini? Berikut kami berikan ulasannya.

kumparan post embed

1. Pidato bersejarah yang disiarkan lewat televisi

Pada Minggu (5/4), stasiun televisi lokal inggris menyiarkan pidato sang ratu yang berdurasi sekitar 5 menit tersebut. Meski disiarkan pada Minggu malam, pidato dengan jumlah 532 kata ini sebenarnya telah direkam di kediaman ratu.

Berbagai pengamat mencatat, ini adalah salah satu gestur yang digunakan ratu untuk menunjukkan bahwa ia tetap peduli dengan rakyat dan tetap bekerja di tengah pandemi Corona. Meski harus mengisolasi diri di Windsor Castle, sang ratu menunjukkan bahwa dia ada untuk rakyatnya.

X post embed

2. Pidato yang memberikan suntikan semangat bagi para penonton

Dalam pidatonya, Ratu Elizabeth II berusaha menyuntikkan semangat kepada para rakyat Inggris yang berusaha melawan pandemi Corona. Ia mengakui, masa pandemi ini memang membawa kesulitan dan kesedihan bagi mereka yang harus terpisah dari keluarganya. Namun sang ratu meminta agar rakyatnya terus kuat di masa-masa tersebut.

"Bersama, kita akan mengalahkan penyakit ini. Saya ingin meyakinkan Anda bahwa bila kita tetap bersatu dan teguh, kita akan mengalahkan penyakit itu," tuturnya.

3. Apresiasi terhadap tenaga medis

Ratu Elizabeth. Foto: Buckingham Palace/Handout via REUTERS

Tak lupa, Ratu Elizabeth memberikan apresiasi kepada para tenaga medis dan perawat yang harus berjuang di tengah pandemi Corona. Pada bagian awal pidatonya, sang ratu berterima kasih kepada para tenaga medis yang berjuang di garda depan, juga kepada orang-orang yang menjalani peran esensial dalam menghadapi penyakit itu.

"Saya yakin, negara ini akan bergabung bersama saya dalam meyakinkan bahwa apa yang Anda lakukan dihargai, juga bahwa setiap jam dari kerja keras yang kalian berikan akan membuat kita semakin cepat kembali ke waktu-waktu yang normal," ungkapnya.

Secara khusus, sang ratu juga dianggap menunjukkan solidaritasnya kepada para tenaga medis dengan mengenakan dress berwarna turqoise saat berpidato. Itu adalah warna yang sama dengan sebagian alat pelindung diri atau APD yang dikenakan oleh tenaga medis saat bertugas.

Menurut Town & Country Magazine, menimbang sejarah pemilihan pakaian dan warna oleh kerajaan, bukannya tidak mungkin bahwa warna ini sengaja dipilih untuk menunjukkan solidaritas kepada tenaga medis.

4. Berterima kasih kepada orang-orang yang juga tinggal di rumah

Ratu Elizabeth II Foto: REUTERS/Toby Melville/Pool

Tak hanya kepada para tenaga medis yang masih berjuang di lapangan, sang ratu juga berterima kasih kepada rakyat yang memutuskan untuk tinggal di rumah. Menurutnya, mereka telah membantu agar agar orang-orang yang lebih lemah tidak tertular penyakit tersebut.

Secara keseluruhan, sang Ratu berharap agar setiap dari masyarakat bisa merasa bangga dengan kontribusi masing-masing dalam mengatasi pandemi ini. Ia juga mengajak para rakyat Inggris untuk menunjukkan ketangguhan yang selama ini diketahui menjadi karakteristik orang Inggris, yaitu adanya kedisiplinan diri, tekad yang kuat meski dilakukan dalam diam, juga kepedulian dengan sesama.

"Dan generasi yang datang setelah ini akan mengatakan bahwa Britons (rakyat Inggris) di generasi ini sekuat generasi-generasi sebelumnya," ungkapnya

"Kebanggaan terhadap identitas kita bukanlah bagian dari masa lalu, ini menggambarkan masa kini dan masa depan kita."

5. Membandingkan dengan era perang dunia kedua

Selain itu, Ratu Elizabeth juga membandingkan kondisi pandemi ini dengan momen Perang Dunia kedua. Pada 1940, sang Ratu yang ketika itu masih menjadi seorang putri membuat pidato pertamanya untuk publik bersama saudaranya, Putri Margaret. Pidato itu ditujukan bagi para anak-anak yang harus dievakuasi dari rumahnya karena perang yang sedang berlangsung.

X post embed

Sang Ratu kemudian membandingkan masa tersebut dengan saat ini, ketika orang-orang juga terpaksa jadi terpisah dengan keluarga dan teman yang dicintainya karena pandemi Corona.

"Hari ini, sekali lagi, akan ada banyak orang yang merasakan perpisahan menyedihkan dengan orang-orang yang mereka mencintai. Tapi, seperti waktu itu, dalam hati, kita tahu bahwa ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan," tutur sang Ratu.

kumparan post embed

6. Menyemangati dan mengatakan akan ada hari baik di masa depan

Tak kalah penting, sang Ratu juga berusaha menghibur rakyatnya, dengan mengatakan bahwa akan ada masa-masa baik yang datang setelah pandemi Corona ini.

Menurut Telegraph, penggalan dari pidato sang Ratu mengambil referensi dari salah satu lagu yang paling populer dari era perang. Lagu itu berjudul 'We'll Meet Again' oleh Vera Lynn. Lagu ini menjadi simbol yang penting bagi rakyat Inggris yang melepas orang tercinta mereka pergi ke medan perang.

Ratu Elizabeth. Foto: Buckingham Palace/Handout via REUTERS

Penggalan yang dimaksud dalam pidato itu berbunyi sebagai berikut:

"We should take comfort that while we may have more still to endure, better days will return: we will be with our friends again; we will be with our families again; we will meet again. But for now, I send my thanks and warmest good wishes to you all."

"Kita boleh lega, karena meskipun perjalanan kita masih panjang, hari-hari yang lebih baik akan kembali kepada kita: Kita akan berkumpul dengan teman-teman kita, kita akan bersama keluarga kita lagi, kita akan bertemu lagi. Tapi, untuk sekarang, saya mengirimkan rasa terima kasih dan harapan terbaik bagi kalian semua."

Bagian pidato ini pun dirasa penting. Apalagi, karena saat ini masyarakat Inggris tengah menjalani isolasi mandiri yang sistemnya mirip dengan lockdown. Situasi ini tidaklah mudah, karena artinya mereka tidak bisa berkumpul dengan keluarga dan orang-orang terdekat, sekalipun paskah akan tiba pada Minggu (12/4). Namun, langkah isolasi mandiri dirasa perlu untuk diambil, demi menekan laju penyebaran COVID-19 di negara itu. Per Senin (6/4), ada 47.806 kasus positif Corona di Inggris, dengan 4.934 kematian dan 5.914 kasus baru.

-------

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran virus Corona. Yuk, bantu donasi sekarang!