Kumparan Logo

Abu Vulkanik Tak Cuma Bikin Sesak Napas, Ini Dampak Lainnya pada Tubuh Perempuan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Perempuan Pakai Masker Foto: Dok. Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan Pakai Masker Foto: Dok. Shutterstock

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung pada Minggu (6/9) menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Paparan abu tersebut dapat mengganggu kesehatan, mulai dari saluran pernapasan, mata, hingga kulit.

Menurut Dr. Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan dalam jangka pendek, terutama pada saluran pernapasan dan mata.

“Dalam jangka pendek, paparan abu ini langsung memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama bagi penderita asma, serta iritasi mata,” ujar Daryono.

Lantas, bagian tubuh mana saja yang perlu diperhatikan ketika terjadi paparan abu vulkanik?

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Pernapasan

Petugas menyemprotkan air untuk membersihkan jalan yang terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Semeru di Jembatan Curah Kobokan, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO

Saluran pernapasan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling mudah terdampak ketika seseorang menghirup abu vulkanik. Partikel abu dapat mengiritasi hidung dan saluran pernapasan, terutama ketika paparannya berlangsung terus-menerus atau dalam konsentrasi tinggi.

Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga sesak napas. Risiko gangguan pernapasan juga dapat lebih besar pada orang yang memiliki kondisi pernapasan sebelumnya, seperti asma.

Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher (THT-BKL), dr. Lia Natalia, Sp.THT-BKL, menyarankan masyarakat untuk sementara menghindari aktivitas yang meningkatkan frekuensi dan volume pernapasan, termasuk olahraga di luar ruangan, selama kondisi udara masih dipenuhi abu.

“Aktivitas seperti olahraga outdoor sebaiknya dihentikan dulu sampai situasi kondusif,” kata dr. Lia.

Saat berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga seseorang akan bernapas lebih cepat dan dalam. Jika dilakukan di luar ruangan ketika udara mengandung abu vulkanik, kondisi tersebut dapat membuat lebih banyak partikel masuk ke saluran pernapasan.

Bukan berarti aktivitas fisik harus dihentikan sepenuhnya. Jika ingin tetap berolahraga, aktivitas seperti treadmill, yoga, atau pilates dapat dialihkan ke dalam ruangan. Namun, pastikan ruangan memiliki kualitas udara yang baik dan tidak menjadi tempat masuknya abu dari luar.

Ketika kondisi udara sudah kembali aman, aktivitas olahraga di luar ruangan dapat dilakukan kembali secara bertahap dengan tetap memperhatikan informasi mengenai kualitas udara dan kondisi lingkungan.

Mata dan Kulit Juga Bisa Ikut Terdampak

Ilustrasi masalah kulit wajah pada perempuan. Foto: Shutter Stock

Dampak abu vulkanik tidak berhenti pada saluran pernapasan. Mata juga rentan mengalami iritasi ketika terkena partikel abu.

Abu vulkanik memiliki sifat abrasif. Partikelnya dapat menimbulkan sensasi seperti ada benda asing di mata, menyebabkan kemerahan, gatal, atau rasa tidak nyaman. Dalam kondisi tertentu, partikel abu juga dapat menggores permukaan kornea.

Jika mata terasa berdebu atau teriritasi setelah berada di luar, hindari menguceknya. Mata dapat dibilas dengan air, sementara kacamata atau pelindung mata dapat digunakan untuk mengurangi paparan ketika harus beraktivitas di area yang masih dipenuhi abu.

Pengguna lensa kontak juga sebaiknya menghindarinya selama terdapat abu di udara dan menggantinya dengan kacamata.

Kulit juga dapat mengalami iritasi akibat partikel abu yang menempel. Setelah terpapar, bersihkan tubuh dan rambut agar abu tidak menempel lebih lama. Setelah mandi, penggunaan pelembap dapat membantu menjaga kondisi kulit, terutama jika kulit terasa kering atau tidak nyaman.

Dampaknya Bisa Sampai ke Kesehatan Mental

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Shutterstock

Dampak erupsi gunung berapi juga dapat muncul dalam bentuk yang tidak langsung terlihat. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak harus menghadapi ketidakpastian, perubahan aktivitas sehari-hari, hingga kemungkinan kehilangan tempat tinggal atau sumber penghasilan. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan psikologis.

Sebuah systematic review pada 2024 berjudul Effects of volcanic eruptions on the mental health of exposed populations: a systematic review meninjau penelitian mengenai dampak erupsi gunung berapi terhadap kesehatan mental masyarakat yang terpapar.

Hasil tinjauan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara paparan erupsi gunung berapi dan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, psychological distress, stres, dan kecemasan. Dampak psikologis juga dapat bertahan dalam jangka panjang setelah bencana terjadi.

Menariknya, sejumlah penelitian yang masuk dalam tinjauan tersebut menemukan bahwa perempuan lebih rentan mengalami beberapa gangguan psikologis setelah erupsi, termasuk PTSD, depresi, psychological distress, stres, dan kecemasan.

Dukungan sosial juga menjadi salah satu faktor yang berperan. Perempuan yang memiliki dukungan sosial lebih baik dalam sejumlah penelitian cenderung mengalami tingkat psychological distress yang lebih rendah setelah bencana.

Artinya, perlindungan ketika terjadi hujan abu tidak hanya berkaitan dengan penggunaan masker atau menjaga mata dari paparan. Kondisi psikologis juga perlu diperhatikan, terutama ketika erupsi dan dampaknya mengganggu aktivitas sehari-hari dalam waktu yang cukup lama.

Jangan Abaikan Gejala Setelah Terpapar Abu

Sejumlah pengendara sepeda motor melintas di jalan utama kota Magelang yang diselimuti abu vulkanis gunung Merapi di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (11/3/2023). Foto: Anis Efizudin/ANTARA FOTO

Paparan abu vulkanik tidak selalu menimbulkan keluhan yang sama pada setiap orang. Ada yang hanya mengalami iritasi ringan, tetapi ada pula yang mengalami gangguan pernapasan atau iritasi mata yang lebih berat.

Jika muncul sesak napas, batuk yang terus-menerus, nyeri dada, atau keluhan pernapasan yang memburuk, segera cari pertolongan medis. Begitu pula jika mata terasa sangat sakit, mengalami gangguan penglihatan, atau iritasi tidak kunjung membaik.

Selama abu vulkanik masih berada di udara, mengurangi paparan tetap menjadi langkah utama. Gunakan perlindungan yang sesuai, batasi aktivitas di luar ruangan, dan jangan lupa memperhatikan kondisi tubuh serta kesehatan mental selama situasi bencana berlangsung.