Apakah Skin Care Untuk Area Vagina Diperlukan? Ini Jawabannya
·waktu baca 3 menit

“Area vagina perlu pakai skin care atau tidak ya?” Pertanyaan tersebut pasti pernah terlintas di pikiran banyak perempuan. Ini karena tampilannya yang kerap menggelap atau adanya masalah lain di area kulit sekitar vagina.
Oleh karena itu, kini banyak produk yang dijual di pasaran untuk mencerahkan dan merawat area vagina. Namun, apakah sebenarnya hal itu diperlukan? Yuk simak jawaban selengkapnya karena berikut telah kumparanWOMAN rangkum jawaban selengkapnya dari Women’s Health Magazine.
Fakta skin care di area vagina
Ladies, apakah kamu memerlukan skin care di kulit sekitar organ intim? Jawaban singkatnya adalah tidak. Seorang dokter kandungan dari UCLA Health, Leena S. Nathan, MD, menjelaskan, “Kami tidak menganjurkan menggunakan produk khusus apa pun untuk membasuh vagina.”
Sebenarnya, membersihkan vagina dengan berbagai produk bahan kimia lain dapat mengubah bakteri alami di dalamnya. Akhirnya hal tersebut justru menyebabkan lebih banyak infeksi, Ladies.
Untuk jawaban lain yang lebih panjang, para ahli menjelaskan, karena tidak memerlukan rangkaian produk perawatan kulit khusus untuk vagina, sangat normal bila terjadi masalah yang mengganggu atau tidak nyaman di area intim. Sebut saja, iritasi, kering, berjerawat, gatal, ingrown hair, hingga kista.
Bila kamu mengalami masalah serupa, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan. Berikut perawatan kulit atau skin care di area vagina yang bisa kamu jadikan pertimbangan.
Perawatan vagina karena masalah eksternal
Salah satu masalah yang sering dihadapi di area intim adalah ingrown hair atau rambut yang tumbuh ke dalam, hiperpigmentasi, dan folikulitis atau folikel rambut yang mengalami iritasi.
Untuk mengatasi permasalahan ingrown hair yang sering menyebabkan rasa gatal, cobalah rutin melakukan eksfoliasi fisik atau physical exfoliation yang lembut.
Walaupun bahan asam ampuh untuk eksfoliasi kulit wajah kamu, tapi jangan digunakan untuk area vagina. Ini karena asam dari eksfoliasi kimia dapat menyebabkan iritasi. Sebab, karakteristik area vagina lebih banyak mengalami gesekan dan lembap tidak cocok untuk chemical exfoliation.
Selain itu, ada pula masalah hiperpigmentasi di area vagina yang membuat perempuan tidak percaya diri. Ya, sering terjadi, hal ini disebabkan oleh jaringan parut akibat proses mencukur rambut yang tidak benar, penggelapan akibat waxing, atau dari genetik.
Untuk hiperpigmentasi yang masih dalam tahap normal, sebaiknya tidak perlu diatasi. Bila ingin memudarkannya, kamu bisa mengaplikasikan krim yang lembut dengan kandungan niacinamide dan bahan alami lainnya.
Bila mengalami masalah benjolan, sebaiknya konsultasikan masalah tersebut ke dokter atau klinik khusus area intim.
Perawatan vagina karena iritasi internal
“Area vulva dapat dikatakan sebagai tirai sebelum masuk ke bagian dalam saluran vagina,” ujar Monica Grover, MD, ahli ginekologi di New York City. Kulit vagina sangat halus, sedangkan vulva memiliki rambut dan kulitnya lebih tebal. Namun, keduanya sama-sama sensitif.
Cara praktis yang bisa dilakukan untuk mencegah rasa tidak nyaman di area kewanitaan yaitu menghindari segala jenis dan bentuk pewangi atau pewarna buatan, baik itu pembalut, panty liner, dan tisu. Sebaiknya, gunakan pembalut yang bebas klorin, pewarna, pewangi tambahan. Pastikan juga tisu untuk membersihkan area intim bebas dari berbagai bahan kimia yang berbahaya.
Perawatan vagina yang sangat kering
Kurangnya hormon estrogen membuat vagina jadi lebih sering mengalami kekeringan, ini terjadi khususnya pada perempuan yang akan menopause dan telah menopause.
Selain itu, kekeringan di area vagina juga disebabkan oleh jenis kontrasepsi yang digunakan dan juga bagi perempuan yang sedang menyusui. Solusinya, cobalah meningkatkan dosis pil KB dengan estrogen untuk membantu melembapkan area vagina.
Sebagai pilihan, kamu bisa mencoba menggunakan pelembap atau pelumas sebelum berhubungan seksual. Namun, pastikan pelembap yang kamu pakai telah disetujui oleh dokter dan punya kandungan yang aman.
