kumparan
10 Juli 2019 16:33

Bincang Karier: Amanda Septevani, Peneliti Kimia Pemenang Penghargaan

Anggota peneliti di LIPI, Amanda Septevani. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Dengan logat Jawa yang khas, Athanasia Amanda Septevani menyapa tim kumparanWOMAN dengan ramah. Hari itu kami bertemu untuk wawancara dan syuting video untuk salah satu program kumparanWOMAN. Ia mengaku merasa gugup karena tidak pernah syuting video sebelumnya.
ADVERTISEMENT
“Saya lebih baik disuruh meneliti seharian penuh daripada harus syuting dan berbicara depan kamera seperti ini,” ungkap Amanda sambil tertawa. Sebuah respon yang menunjukkan kecintaan yang besar terhadap dunia penelitian.
Ya, Athanasia Amanda Septevani, atau yang biasa disapa Amanda ini merupakan seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Akhir 2018 lalu, Amanda terpilih sebagai salah satu pemenang penghargaan L’Oreal-UNESCO for Women in Science, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh L’Oreal untuk mengapresiasi perempuan peneliti.
Bagi Amanda, menjadi peneliti sudah seperti panggilan jiwa. Ia merasa profesinya sebagai peneliti bisa memberikan kebahagiaan yang tidak akan pernah didapatkan dari pekerjaan lain yang memiliki gaji besar sekalipun.
Penghargaan L’Oreal Woman in Science 2018 Foto: Ratmia Dewi/kumparan
“Saya merasa ketika penelitian saya bisa bermanfaat bagi orang lain itu bisa memberikan kebahagiaan tersendiri, itu tandanya kita berhasil,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Saat ini Amanda masih terus menyempurnakan penelitiannya terkait selulosa, sebuah kandungan dalam tumbuhan yang bisa digunakan sebagai bahan pembuat layar ponsel ketika sudah disinari dengan teknologi nano. Materi itu disebut dengan nano-selulosa.
Penelitian yang dilakukan Amanda ini berupaya menjawab tantangan keterbatasan teknologi layar yang bahannya masih kaku, mudah retak, dan berasal dari sumber alam yang tidak dapat diperbaharui. Ia dan tim tengah berupaya membuat bahan nano-selulosa tersebut menjadi kuat, fleksibel, dan berkelanjutan dalam mendukung teknologi layar di masa depan.
Ingin tahu lebih lengkap soal pengalamannya sebagai seorang peneliti? Simak perbincangan singkat kami dengan Amanda Septevani berikut ini.
Sedang sibuk apa saat ini?
Sebagai peneliti, saat ini masih banyak melakukan penelitian, lalu menulis proposal untuk mencari pendanaan. Selain itu, ada kegiatan presentasi, sharing, dan melakukan kolaborasi dengan beberapa pihak yang mendukung penelitian-penelitian saya.
ADVERTISEMENT
Bicara soal peneliti, apakah profesi ini sudah menjadi impian dari dulu?
Sebenarnya profesi peneliti bukan cita-cita saya sejak kecil. Sebagai anak kecil saya dulu ingin jadi terkenal seperti artis, lalu saat melihat kinerja dokter, saya juga ingin jadi dokter.
Tai saat saya kuliah, akhirnya saya memilih jurusan teknik kimia. Saya sempat bekerja di perusahaan, namun di sana saya merasa ilmu yang saya pelajari tidak termanfaatkan dengan baik. Karena itu saya memilih untuk resign dan mengambil keputusan menjadi peneliti. Dan ternyata menjadi peneliti itu mengasyikan.
Anggota peneliti di LIPI, Amanda Septevani. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Apa yang membuat pekerjaan sebagai peneliti itu mengasyikkan?
Profesi ini sangat menarik bagi saya karena kerjanya tidak monoton, sangat variatif, dan memungkinkan kita berbagi dan berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai bidang dengan ilmu-ilmu yang bisa memperkaya pengetahuan kita. Kemudian sebagai peneliti saya merasa saya bekerja bukan hanya untuk digaji, tapi juga ingin menciptakan sesuatu yang nantinya bisa bermanfaat untuk orang lain.
ADVERTISEMENT
Dan ketika penelitian kita bermanfaat untuk orang lain, itu akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi kita. Itu tandanya penelitian saya berhasil.
Tantangan terbesarnya apa?
Tantangan terbesar tentunya dari dana. Karena itu merupakan salah satu tugas kami sebagai peneliti. Kami harus berusaha memperoleh dana baik dari nasional maupun internasional untuk bisa mencukupi biaya penelitian.
Selama ini kesulitan yang saya hadapi selalu berkaitan dengan dana karena kalau tidak ada dananya, penelitian bisa terhambat. Nah, tantangan dana ini bisa disiasati dengan adanya suatu koordinasi dan kolaborasi. Kolaborasi ini tidak menutup di internal LIPI saja, tapi juga dengan institusi lain, mulai dari universitas dari dalam atau luar negeri dan juga pihak-pihak lain. Karena itu, selain pandai di bidang sains, kami peneliti juga harus bisa berkolaborasi dan melakukan networking dengan baik agar mudah mencari partner kolaborasi kedepannya.
ADVERTISEMENT
Sebagai peneliti, pernah mengalami tantangan yang berkaitan dengan gender?
Kebetulan di tempat saya bekerja, di pusat penelitian kimia lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Jadi tidak banyak mengalami masalah yang berkaitan dengan gender.
Karena sebagai peneliti, kami tidak pernah mementingkan gender. Buat saya gender itu tidak menjadi hal utama dalam pekerjaan kita sebagai peneliti. Bahkan kita harus bisa bekerja dengan siapapun dalam profesi apapun yang nantinya bisa turut mendukung penelitian kita.
Pernah mendapat tanggapan atau komentar negatif terkait profesi sebagai peneliti?
Komentar negatif itu hampir tidak ada. Tetapi selama ini yang menjadi pe-er kami sebagai peneliti adalah belum bisa menunjukkan manfaat langsung dari penelitian kami untuk masyarakat. Kami tidak ingin penelitian kami hanya berhenti sampai batas publikasi saja. Tapi kami selalu ingin agar apa yang kita buat juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas.
Anggota peneliti di LIPI, Amanda Septevani. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Apa dukungan terpenting bagi Anda selama menjalani karier sebagai peneliti?
ADVERTISEMENT
Tentunya yang pertama adalah keluarga saya, tempat di mana saya berkeluh kesah dan berbagi. Kemudian saya juga memiliki keinginan besar untuk membahagiakan keluarga, membuat mereka bangga karena menjadi peneliti bukan hanya sebagai profesi tetapi juga bisa bermanfaat untuk orang lain.
Kemudian ada suami saya. Kebetulan suami saya juga seorang peneliti dan sekarang sedang melanjutkan S3 di Inggris. Meski kita berjauhan tapi buat saya pribadi, jarak itu bukan masalah karena kita masih bisa berkomunikasi dan tetap bisa saling mendukung satu sama lain lewat penelitian masing-masing.
Lalu yang ketiga adalah orang-orang di tempat saya bekerja. Saya memiliki tempat dan rekan kerja yang nyaman dan bisa saling mendukung. Jika salah satunya mengalami kegagalan, kami bersama-sama mencari cara untuk memperbaikinya.
ADVERTISEMENT
Suami Anda juga merupakan seorang peneliti, pernah berkompetisi dengan suami atau tidak?
Secara naluri, manusia itu memang memiliki sifat yang selalu ingin berkompetisi satu sama lain. Kebetulan suami saya ini merupakan laki-laki hebat di bidangnya sendiri, di bidang robotik. Sedangkan saya bidangnya kimia. Jadi bidangnya memang sangat berbeda. Sebenarnya kompetisi justru bisa memacu semangat kami dalam bekerja. Oleh karena itu kami saling mendukung. Tapi selama ini tidak ada kompetisi antara saya dan suami. Kalaupun ada, saya saya ambil sisi positifnya saja.
Menurut Amanda, seperti apa dukungan yang ideal untuk perempuan yang ingin mewujudkan aspirasinya?
Menurut saya, di balik perempuan-perempuan sukses pasti ada banyak sekali orang-orang yang mendukung mereka, baik secara moral maupun secara materi. Jadi perhatian dan motivasi itu sangat penting bagi seorang perempuan
ADVERTISEMENT
Selain itu, eksistensi juga penting bagi perempuan. Karena ketika masyarakat mulai memahami bahwa profesi yang kita jalani ini memiliki manfaat bagi orang banyak, pengakuan tersebut bisa menjadi sebuah penghargaan yang jauh lebih besar dibandingkan materi. Jadi hal-hal seperti itu yang mungkin dibutuhkan oleh seorang perempuan ya untuk tetap bekerja di bidangnya masing-masing.
Anggota peneliti di LIPI, Amanda Septevani. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Adakah pesan yang ingin disampaikan untuk perempuan peneliti lain?
Pertama, dunia penelitian ini memang cukup menantang. Sebagai perempuan, kita itu menjalankan peranan tidak hanya sebagai peneliti atau akademisi, tetapi juga punya peranan penting lain dalam keluarga masing-masing. Saya percaya bahwa perempuan itu diciptakan dengan kemampuan di mana mereka bisa bekerja secara efektif.
Pesan saya, terus memotivasi diri karena tidak semua pekerjaan tolok ukurnya selalu keberhasilan. Tapi yang dilihat harus proses untuk mencapai tujuan itu. Jangan pernah menyerah dengan segala kegagalan atau tantangan yang dihadapi. Saya yakin perempuan peneliti sudah memiliki tempat yang lebih dibanding laki-laki. Karena kita memiliki skill masing-masing untuk mencapai keberhasilan.
ADVERTISEMENT
Karena selalu sibuk dengan penelitian, benarkan seorang peneliti tidak memiliki waktu luang?
Kalau saya cukup memiliki waktu luang. Kadang saya masih menyempatkan untuk bertemu dengan teman-teman. Masih bisa enjoy. Saya di rumah juga punya taman yang cukup besar, jadi bisa berkebun kalau sedang luang. Kalau dengan teman-teman kantor biasanya kita jalan-jalan dan makan bersama.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan