Kumparan Logo

Bincang Karier: Kemala Fabrian, Asisten Eksekutif Menkes Budi Gunadi Sadikin

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 10 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kemala Fabrian, Asisten Eksekutif Menkes Budi Gunadi Sadikin. Foto: dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kemala Fabrian, Asisten Eksekutif Menkes Budi Gunadi Sadikin. Foto: dok. Istimewa

Ramah dan ceria adalah kesan pertama yang kami dapatkan saat berbincang dengan asisten eksekutif Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, Kemala Fabrian. Di tengah menjalani masa karantina setelah mendampingi Menteri Kesehatan melakukan kunjungan kerja ke Italia, ia menyempatkan waktu berbagi cerita tentang perjalanan kariernya yang dimulai di usia yang sangat muda, yaitu usia 19 tahun.

Perempuan 25 tahun yang akrab disapa Lala ini memang memulai karier profesional di usia 19 tahun. Kondisi ini terjadi karena ia lulus SMA lebih cepat karena kurikulum yang berbeda antara di India, tempat tinggalnya kala itu, dan di Indonesia. Ya, Lala memang siswi pindahan dari India karena ia ikut orang tua yang berprofesi sebagai diplomat.

Sebagai Asisten Eksekutif Menteri Kesehatan, tentu Lala memiliki banyak kesibukan. Tantangan kerja yang ia hadapi juga tak tanggung-tanggung. Ia harus membantu Menteri Budi Gunadi Sadikin mengatur jadwal, menyiapkan materi, dan mendampingi sang menteri di berbagai agenda.

Kemala Fabrian bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Foto: dok. Istimewa

“Setiap hari, Pak Menteri punya kurang lebih 10 agenda. Dan saya ikut mendampingi beliau dalam setiap kegiatan,” ungkap Lala kepada kumparanWOMAN.

Sebelum bekerja di kementerian, Lala telah terlebih dulu menjalani karier di BUMN maupun perusahaan swasta. Ia yang memulai karier di usia muda ini kerap menghadapi tantangan. Tak hanya diremehkan karena usia, ia juga punya pengalaman dinilai hanya dari segi penampilan. Kepada kumparanWOMAN ia banyak bercerita mengenai tantangan sebagai asisten eksekutif di kementerian dan cara menghadapinya.

Untuk tahu kisah lengkapnya, simak obrolan kami dengan Kemala Fabrian dalam rubrik Bincang Karier berikut ini.

embed from external kumparan

Sebagai asisten eksekutif kementerian, bagaimana Anda memulai hari?

Saya sejak pagi tidak pernah lepas dari ponsel dan laptop karena banyaknya hal yang harus dikerjakan.

Jadi bangun pagi langsung cek handphone. Bisa jadi saat itu sudah ada ratusan pesan yang masuk dan dilanjutkan dengan meeting. Biasanya orang-orang menghubungi untuk keperluan bermacam-macam, bisa soal undangan, meminta data seputar pandemi, dan koordinasi berbagai hal lain. Rata-rata itu semua didelegasikan ke saya.

Lalu apa saja kesibukan Anda saat ini? Adakah proyek tertentu yang sedang dijalani?

Saat ini jujur saya tidak sempat untuk melakukan kegiatan lain karena memang fokus dengan tugas saya di Kementerian Kesehatan. Seperti yang kita tahu, saat ini pandemi sedang genting-gentingnya, jadi pasti ada saja tugas-tugas yang harus ditangani segera.

Biasanya di waktu senggang saya suka menyanyi dan dulu cukup rajin bikin video cover lagu di YouTube, tapi sekarang sudah tidak bisa. I rarely have time for myself. Tapi karena aku suka menjalani pekerjaan ini, jadi tidak apa-apa yang lain ditunda dulu.

Sejak kecil Anda sering berpindah-pindah mengikuti orang tua, bagaimana hal ini mempengaruhi masa kecil Anda?

Memang saya lahir di keluarga diplomat dan dari lahir pindah-pindah. Saya lahir di AS, lalu pindah ke Maroko, Yaman, India, dan kembali ke Indonesia untuk menetap di tahun terakhir SMA. Ini adalah waktu terlama saya menetap di satu negara.

embed from external kumparan

Kebetulan kondisi ini tidak mengganggu pendidikan atau masa kecil saya. Tapi tantangannya pasti ada. Bagi saya, semua tantangan yang dihadapi ketika berpindah-pindah ini justru mendorong saya untuk jadi lebih baik, terutama dalam menerima berbagai sudut pandang dan pengetahuan baru.

Keuntungan lainnya adalah saya bisa lebih mudah beradaptasi dalam hal apa pun. Kondisi tersebut juga membantu saya dalam pekerjaan. Saya jadi lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain dari berbagai macam latar belakang.

Bagaimana Anda memulai karier di usia yang sangat muda hingga sekarang? Pernahkah mengalami hal kurang menyenangkan karena usia yang sangat muda?

Tentu saja saya pernah mengalami hal-hal kurang menyenangkan di awal masa kerja. Saya dianggap masih terlalu muda. Saya sendiri menghadapinya dengan santai karena memang niat saya bekerja saat itu untuk belajar.

Pengalaman tersebut jadi tantangan tersendiri dan membuat saya jadi ingin membuktikan bahwa usia itu bukan hambatan. Dulu saya memang masih relatif sangat muda, tapi bukan berarti tidak bisa berkembang. Saya yakin pasti bisa memenuhi ekspektasi asalkan dikasih kesempatan dan waktu untuk belajar. Karena saya sendiri memang bertekad untuk bekerja keras.

Kemala Fabrian, Asisten Eksekutif Menkes Budi Gunadi Sadikin. Foto: dok. Istimewa

Saat ini Anda menjabat sebagai asisten eksekutif Menteri Kesehatan RI, boleh dijelaskan secara singkat mengenai peran Anda?

Saat ini saya menjabat sebagai assistant executive Menteri Kesehatan RI. Biasanya kalau di kementerian lain posisi tersebut namanya ADC atau ajudan. Tapi bedanya, di posisi ini saya merangkap tiga tugas sekaligus. Pertama pendampingan, kalau Pak Menteri berkegiatan kemana pun pasti saya ikut. Kedua adalah persidangan, ini tugasnya menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk menteri. Ketiga adalah penjadwalan Pak Menteri, dari meeting, komunikasi dengan pihak luar, dan lain sebagainya.

Bisa dibilang saat ini Pak Menteri sedang menjalani banyak sekali tugas sejak beliau dilantik pada Desember 2020. Ada banyak yang harus dikerjakan, seperti percepatan vaksinasi. Dalam sehari, kegiatan bapak mulai dari yang online maupun offline itu ada kurang lebih 10 agenda. Nah, dalam semua agenda ini saya terlibat, baik itu saat WFH atau WFO. Tapi di luar itu juga masih melakukan tugas-tugas lain, seperti menyiapkan materi, mengatur jadwal, dan lain sebagainya yang berurusan dengan hal-hal teknis. Misalnya seperti koordinasi dengan tim kementerian atau lembaga lain, dan bisa juga tim internal Kementerian Kesehatan.

Kemala Fabrian saat kunjungan kerja. Foto: dok. Istimewa

Menjalani karier sebagai asisten Menteri Budi Gunadi Sadikin di tengah pandemi ini tentu bukan hal yang mudah. Apa saja tantangan paling berat yang Anda hadapi?

Hal yang jadi tantangan terberat adalah mengikuti jadwal Pak Menteri yang begitu padat dan saya harus selalu siap siaga dalam kondisi apa pun. Selain itu, di tengah pandemi juga ada banyak hal yang harus dikerjakan oleh tim Kementerian Kesehatan. Mulai dari memastikan cukupnya tempat tidur pasien, kebutuhan oksigen, vaksinasi, hingga urusan pelacakan untuk aplikasi peduli lindungi yang saat ini digunakan semua masyarakat.

Tapi di tengah krisis seperti sekarang ini, kita harus bisa membalikkan meja. Dalam artian bisa menjadikan krisis ini sebagai batu loncatan, sebagai kesempatan untuk bisa membalikkan situasi. Kita bisa memberikan respons yang maksimal. Tujuannya bukan hanya untuk pandemi COVID-19 ini saja, tapi apabila suatu saat nanti ada musibah yang sama, kami dan Indonesia sudah jauh lebih siap menghadapinya.

Selain itu, kami juga ingin sistem kesehatan di Indonesia berkembang lebih baik, membuat infrastruktur jadi lebih rapi, jadi kita bisa tinggal menjalani saja, siapa pun menteri atau stafnya nanti di masa depan.

Dengan banyak tantangan seperti itu, apakah pernah Anda mengalami stres atau burnout?

Tentu saja di tengah kondisi seperti ini saya sama dengan yang lain, pernah mengalami kondisi lelah. Sempat ada momen dulu sampai tidak ada waktu istirahat karena setiap hari harus full work from office (WFO) dari pagi hingga malam. Jadi ketika semua orang bekerja di rumah, kita jadi salah satu garda terdepan di pandemi ini. Kami di Kementerian Kesehatan memiliki inside joke, menyebut diri kami sebagai nakes alias tenaga menteri kesehatan. Meski bukan dokter atau tenaga medis, tapi kami dan tim adalah tenaga yang membantu Pak Menteri untuk menghadapi pandemi ini.

embed from external kumparan

Pada saat COVID-19 sedang tinggi-tingginya, kami bekerja semaksimal mungkin menangani pandemi sampai akhirnya saya merasa kelelahan.

Kalau sudah begitu, saya menghadapinya dengan menghibur diri. Ini biasanya saya lakukan malam setelah sampai rumah. Hal-hal yang saya lakukan biasanya menonton video-video ringan dan lucu di YouTube, misalnya video kucing atau hewan-hewan lucu lainnya. Saya juga membaca artikel atau buku-buku ringan yang menghibur.

Saya sengaja mencari topik-topik ringan dan mendengarkan musik untuk membantu meringankan stres. Sama saya juga kadang bikin cover lagu, tapi karena sekarang tidak punya waktu untuk bikin video YouTube yang proper, saya akhirnya nyanyi di Insta Story saja.

embed from external kumparan

Ayah Anda adalah seorang diplomat, adakah pesan beliau yang Anda ingat dari dulu sampai sekarang terkait berkarier di dunia pemerintahan?

Ayah adalah tipe orang yang memberi wejangan secara berkala. Tapi ada satu prinsip yang selalu diajarkan ayah sejak dulu dan masih saya terapkan sampai sekarang adalah jangan mengambil hak orang lain. Sekecil apa pun itu, jangan pernah diambil karena itu tidak ada untungnya buat saya. Just take what’s yours, itu akan menjadi rezeki saya sendiri.

Kalau kita mengambil hak orang lain, rasanya akan selalu terus kurang. Kita tidak akan pernah merasa puas, kita tidak bisa jadi lebih kaya juga dan tidak akan dapat manfaat baik. Itu prinsip nomor satu yang diajarkan oleh ayah.

Aku selalu berusaha sendiri, tanpa mengambil hak orang lain. Menurut saya itu penting, jadi kalau suatu saat nanti sukses, itu dari hasil kerja keras saya sendiri.

Dalam beberapa pemberitaan media, banyak yang fokus dengan penampilan Anda daripada tugas Anda sebenarnya sebagai asisten menteri. Bagaimana Anda memandang hal tersebut?

Waktu saya viral dan banyak yang menulis soal penampilan, saya cukup kaget dan merasa itu lucu karena seolah saya selebriti. Padahal yang tidak banyak orang tahu, saya sehari-hari kerja keras membantu mengurus pandemi. Terlepas dari itu, saya menganggap pemberitaan tersebut sebagai pujian. Karena itu juga yang bikin orang lebih tahu saya.

Dikenali karena cantik itu bukan hal yang buruk dan saya memahami itu lebih membuat orang tertarik. Saya mengapresiasi kalau banyak yang membahas soal penampilan saya, namun saya harap semua orang punya pemikiran bahwa beauty and brain itu bisa hadir secara bersamaan.

Menurut saya akan lebih menyenangkan kalau orang-orang bisa mengenal saya lebih jauh. Jadi tidak sekadar penampilan, namun juga sudut pandang dan minat lainnya.

Kemala Fabrian saat mendampingi Menkes Budi Gunadi Sadikin kunjungan kerja ke Italia. Foto: dok. Istimewa

Pernahkah hal tersebut membuat Anda merasa harus bekerja lebih keras berkali-kali lipat sebagai pembuktian seperti perempuan kebanyakan?

Kebetulan saya punya kepedulian yang cukup besar mengenai topik ini. Ada sebuah teori, namanya The Bimbo Effect yang pada dasarnya menyatakan bahwa dunia lebih baik pada orang yang punya penampilan menarik. Lalu teori itu juga menyatakan kalau ada pria berpenampilan menarik, mereka akan lebih mudah naik level dalam karier. Di sisi lain, kalau perempuan yang berpenampilan menarik, kualitas diri mereka yang lain akan tertutup oleh itu. Mereka bahkan lebih sulit untuk maju dalam berkarier.

embed from external kumparan

Saya pernah beberapa kali diskusi soal Bimbo Effect ini dengan teman-teman saya dan ada yang pernah mengalami juga. Kecerdasan perempuan bisa tertutupi atau dikesampingkan. Saya sendiri pernah mengalami hal tersebut.

Tidak sedikit yang menganggap saya diterima di sebuah pekerjaan atau mendapat posisi tertentu hanya karena saya berpenampilan menarik dan bisa menyanyi. Judgement tersebut itu jadi menutupi kemampuan lain saya, padahal I’m more than just my appearance. Ini menurut saya tidak adil bagi perempuan.

Untuk mengatasi hal ini, saya bekerja keras semaksimal mungkin, tanpa banyak mempedulikan omongan orang lain. Saya paham kalau orang hanya melihat yang di permukaan saja. Misalnya di media sosial, saya mengunggah kegiatan yang senang-senang saja. Karena tidak mungkin saya mengunggah soal meeting seharian sampai tengah malam. Saya merasa tidak perlu membuktikan kepada orang lain betapa keras saya bekerja, karena pada ujungnya hasil kerja saya akan terlihat dengan sendirinya. Saya hanya perlu bekerja dengan benar saja.

Apa rencana Anda di masa depan dalam hal karier? Adakah impian yang belum tercapai?

Saat ini saya masih mau melanjutkan S2. Selain itu, saya juga suka fashion. Jadi suatu saat nanti saya masih ingin punya kerja sampingan jadi fashion desainer dan punya label sendiri. Itu impian saya di masa depan. Tapi saya sendiri tidak punya target waktu spesifik untuk itu, yang penting dijalani saja. Semoga bisa tercapai suatu saat nanti.

embed from external kumparan

Terakhir, adakah pesan yang ingin disampaikan untuk perempuan lainnya yang sedang membangun karier di usia muda?

Percaya dengan kemampuan diri dan jangan pernah mendengarkan orang lain kecuali diri Anda sendiri. Dalam artian banyak stigma yang beredar seperti; Jangan terlalu pintar, nanti laki-laki takut atau minder sama perempuan. Bagi saya, I don’t need that kind of man. Saya butuh laki-laki yang setara, yang tidak takut dengan pencapaian perempuan.

Lagi pula apa yang menakutkan dari perempuan cerdas yang tahu apa keinginan mereka? Saya tidak mendedikasikan hidup saya untuk orang lain, apalagi untuk orang yang baru saya kenal. Jadi kurangi mendengar pendapat-pendapat orang yang seperti itu. As long as you are not worried about what people think, you can move mountains.