Cara Menjaga Kesehatan Mental Selama Social Distancing, Menurut Psikolog Klinis

Sejak pekan lalu, kita terus diimbau untuk menjalani social distancing atau menjaga jarak dengan orang lain. Meski bisa membuat kesepian, kita perlu melakukan ini, agar tidak terjangkit virus Corona dan tidak pula menyebarkannya kepada orang lain.
Namun, saat sedang melakukan social distancing dan bekerja di rumah, akan ada kalanya kita tidak merasa baik-baik saja. Setelah mengurung diri di selama beberapa hari, kita mungkin akan mengalami perubahan mood, menjadi stres, merasa bosan, maupun cemas.
Sebenarnya, ini adalah hal yang wajar terjadi. Tara de Thouars, seorang psikolog klinis yang bekerja di RSJ Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa ini terjadi karena perubahan yang ada dalam hidup. Sementara, perubahan, seperti apa pun itu, pasti akan membuat kita tidak nyaman.
Dibutuhkan waktu sampai kita bisa beradaptasi, mengubah rutinitas kantor menjadi gaya hidup di rumah bersama keluarga. Tidak hanya bekerja, kita kini juga akan memiliki tanggung jawab lain, seperti menghabiskan waktu bersama anak maupun memasak untuk keluarga.
"Perubahan itu enggak semuanya bisa diterima dengan baik. Dan, kita membutuhkan waktu sampai dapat beradaptasi lagi," ungkapnya kepada kumparanWOMAN ketika dihubungi via WhatsApp pada Kamis (26/3) malam.
Menurut Tara, di saat seperti ini, kita juga bisa merasa stres karena hal lain. Misalnya, karena kita mengalami penurunan produktivitas, juga menghabiskan waktu luang yang ada dengan bermain gadget dan terus mengupdate diri dengan berita Corona. Akhirnya, kita tidak bisa menikmati waktu di rumah. Bukan tak mungkin, kita akan berujung melakukan overthinking atau terlalu banyak memikirkan hal negatif yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Maka, untuk bisa mengatasi masalah-masalah ini, ada beberapa hal yang disarankan oleh Tara de Thouars. Pertama, kita perlu mencoba tetap berpikir positif selama menjalani social distancing. Sebisa mungkin, kita perlu mencoba untuk menikmati keseharian yang ada, terutama bersama orang yang tersayang.
"Meski situasi tidak nyaman, pikiran positif dibutuhkan untuk menyeimbangkan perasaan cemas. Coba untuk menikmati (momen yang ada) dan cari aktivitas apa pun yang menimbulkan rasa feel good," tuturnya.
Selain itu, Tara juga menyarankan agar kita berfokus pada usaha atau hal-hal yang bisa dilakukan, kemudian memasrahkan sisanya. "Karena, tidak semua hal bisa kita kendalikan," ujarnya menegaskan.
Meski begitu, bisa jadi, selama social distancing ini, akan ada beberapa di antara kita yang merasa tidak nyaman berada di rumah. Misalnya, karena kondisi rumah yang dirasa tidak kondusif dan keluarga yang toxic.
Untuk mereka yang berada dalam kategori ini, Tara menyarankan beberapa hal. Di antaranya, dengan membuat batasan dan aturan kepada anggota keluarga, melakukan aktivitas atau membuat ruang yang meningkatkan rasa aman, juga tetap berkomunikasi dengan orang yang dapat memberikan dukungan. Bila sudah merasa sangat tidak aman, kita bisa keluar dari rumah dan memprioritaskan keselamatan diri.
"Karena, kalau enggak, kesehatan mentalnya akan drop dan bahaya buat imun tubuh maupun jiwanya," sebut Tara.
Kemudian, bagi orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan mental tertentu, Tara menyarankan agar mereka juga tetap berusaha berpikir positif. Namun, dibarengi dengan tindakan lain yang bisa membuat merasa lebih baik.
Misalnya, orang yang mengidap depresi dianjurkan untuk berfokus pada penerimaan keadaan dan menimbulkan harapan dalam diri. Sementara, mereka yang mengalami gangguan cemas, perlu banyak berlatih meditasi dan relaksasi. Bila diperlukan, mereka juga dapat berkonsultasi dengan psikolog, maupun mengikuti kelas meditasi online.
-----
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran virus Corona. Yuk, bantu donasi sekarang!
