Kumparan Logo

Cara Oscar Lawalata Lestarikan Wastra Tenun: Dirikan Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Asha Smara Darra, Founder Oscar Lawalata Culture & Umaratu Foundation bersama koleksi tenun sumba dalam rangka meperkenalkan rumah budaya  Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'. Foto: Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'
zoom-in-whitePerbesar
Asha Smara Darra, Founder Oscar Lawalata Culture & Umaratu Foundation bersama koleksi tenun sumba dalam rangka meperkenalkan rumah budaya Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'. Foto: Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'

Di era yang serba minimalis, kita terkadang luput dari budaya berharga yang dimiliki negeri sendiri. Salah satunya adalah wastra tenun. Namanya mungkin sudah tidak asing, tetapi mengenal tenun tentu bukan sekadar soal tahu motif atau asal daerahnya. Ada tradisi, nilai, dan cerita yang ikut hidup di balik setiap helainya.

Melihat hal tersebut, jenama Oscar Lawalata menghadirkan sebuah inisiatif baru untuk ikut menjaga keberlanjutan tenun. Upaya tersebut diwujudkan melalui pendirian pusat kebudayaan di Sumba bernama Umaratu - Rumah Ibu Bumi.

“Umaratu 'Rumah Ibu Bumi' lahir dari kerinduan spiritual untuk memeluk erat ekosistem ini, menyediakan ruang teduh di mana sandang, pangan, dan papan dapat kembali berakar pada tradisi leluhur,” ungkap Asha Smara Darra, Founder Oscar Lawalata Culture & Umaratu Foundation.

Menurut Asha, Umaratu hadir sebagai wadah untuk mengolah sekaligus mengembangkan warisan masa lalu agar tetap relevan untuk masa depan. Dalam mengawali perjalanan tersebut, ia memilih Sumba Timur sebagai titik awal.

Tenun Sumba. Foto: Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Meski sudah banyak pihak yang membawa tenun Sumba untuk semakin dikenal, Asha melihat masih ada proses yang perlu dikembangkan lebih jauh. Karena itu, ia ingin memulai perjalanan Umaratu dengan melihat langsung potensi budaya dan melibatkan para pelaku yang masih menjaga tradisi tersebut.

“Kenapa kami mengawali project ini dari Sumba Timur? Karena kita melihat potensinya sangat luar biasa. Budayanya masih berjalan dan pelaku (pengrajin tenun) masih ada. Jadi, kita pengin memulai semangat bersamanya,” ungkap Asha.

Tiga Pilar Umaratu: Sandang, Pangan, dan Papan

Asha bersama Jajang Agus Sonjaya, dosen, pengusaha, sekaligus ahli bambu dan Maria Stephanie, peneliti pangan lokal independen. Foto: Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'

Umaratu 'Rumah Ibu Bumi' berfokus pada tiga kebutuhan pokok dalam kehidupan, yakni sandang, pangan, dan papan. Ketiganya menjadi pilar yang saling melengkapi untuk membangun kehidupan yang berkelanjutan sekaligus menjaga warisan budaya agar terus mengakar.

Sandang menjadi salah satu hal yang lebih dulu diwujudkan Asha sebagai founder. Ia ingin membawa wastra tenun ke dalam berbagai produk fashion yang lebih dekat dengan keseharian, terutama agar dapat dinikmati oleh generasi muda.

Kemudian papan, yang diterjemahkan melalui penggunaan material bambu dalam pembangunan rumah budaya Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'. Dalam prosesnya, Umaratu 'Rumah Ibu Bumi' berkolaborasi dengan Jajang Agus Sonjaya, S.S., M.Hum., dosen, pengusaha, sekaligus ahli bambu.

“Kenapa bambu? Karena bambu adalah culture bagi orang Sumba,” jelas Jajang.

Bambu juga menjadi material yang dekat dengan kehidupan masyarakat Sumba. Karena itu, pemanfaatannya diharapkan dapat terus berkelanjutan sekaligus membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam proses produksi dan mendapatkan manfaat ekonomi dari sumber daya yang ada di sekitar mereka.

Terakhir, ada pangan. Untuk pilar ini, Umaratu 'Rumah Ibu Bumi' menggandeng Maria Stephanie, peneliti pangan lokal independen, untuk ikut melestarikan bahan pangan lokal sekaligus mengembangkan pilihan hidangan yang lebih beragam.

Menurut Maria, upaya tersebut juga dapat dilakukan dengan menghadirkan olahan yang lebih kekinian agar pangan lokal Sumba semakin dekat dengan generasi muda.

“Kita bisa menciptakan satu inovasi. Mungkin kita bisa membuat olahan makanan baru tetapi berangkat dari pangan lokal yang sudah ada di Sumba itu sendiri,” ujar Maria.

Saat ini, rumah budaya Umaratu 'Rumah Ibu Bumi' masih dalam tahap pembangunan. Pembukaannya direncanakan berlangsung pada April mendatang.

“Aku harap April sudah mulai bisa kita buka,” ujar Asha.

Asha pun berharap misi untuk melestarikan tenun ini mendapat dukungan dari banyak orang, salah satunya melalui donasi untuk mendukung pembangunan Umaratu 'Rumah Ibu Bumi'.