Woman
·
6 April 2021 10:31

Cerita Gitta Amelia soal Tantangan Jadi Investor Perempuan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Cerita Gitta Amelia soal Tantangan Jadi Investor Perempuan (490070)
searchPerbesar
The Future Makers, Gitta Amelia. Foto: Norman Fideli, Fashion Stylist: Anantama Putra, Bodysuit: H&M
Di saat perempuan lain tertarik dengan bidang fashion, kecantikan atau kuliner yang memang sering diidentikan dengan perempuan, Gitta Amelia justru memiliki ketertarikan di bidang investasi. Pengusaha perempuan muda yang juga seorang investor ini mendirikan perusahaan modal ventura (venture capital) bernama EverHaus pada 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
Perempuan 25 tahun ini tengah disibukkan mengelola sekitar 25 startup di bidang teknologi dan bercita-cita ingin memberdayakan wirausahawan yang berasal dari generasi muda. Sebagai seorang investor, Gitta berperan dalam menghubungkan start-up dengan para penanam modal.
Namun rupanya, hal ini tidaklah mudah baginya. Ada tantangan tersendiri yang sering dirasakan Gitta sebagai seorang investor perempuan. Apakah itu?
"Selama dua tahun bekerja di venture capital, semua orang yang saya temui mayoritas laki-laki. Meeting setiap hari juga dengan laki-laki. Bidang modal ventura memang sangat empowering, tapi ternyata kebanyakan startup masih didominasi laki-laki. Setiap tahunnya ada ratusan startup yang mendapatkan modal ventura tapi yang dipimpin oleh perempuan bisa dihitung dengan satu tangan. There’s a big problem there,” cerita Gitta saat berbincang dengan kumparanWOMAN untuk program spesial The Future Makers Women's Week 2021.
Cerita Gitta Amelia soal Tantangan Jadi Investor Perempuan (490071)
searchPerbesar
The Future Makers, Gitta Amelia. Foto: Norman Fideli, Fashion Stylist: Anantama Putra, Skirt: Massimo Dutti
Ia tak memungkiri, memang ada partisipasi perempuan di perusahaan modal ventura, tapi bukan berada di posisi strategis (C level) atau yang membuat keputusan. Para perempuan hanya bekerja sebagai associate, analis hingga VP. Namun untuk level Chief, masih terhitung sangat sedikit.
ADVERTISEMENT
Perempuan kelahiran 1995 ini kemudian teringat perkataan salah seorang koleganya yang sempat meragukan kemampuannya di bidang modal ventura hanya karena ia seorang perempuan. Ini adalah tantangan terbesar untuknya karena stigma yang sering didapatkan dari lawan jenis sebagai seorang perempuan yang berkarier di dunia investasi.
Hal ini mengisyaratkan seolah-olah kehadiran perempuan di dunia investasi dan finansial adalah hal yang aneh dan tak biasa. Justru dengan kehadirannya, Gitta ingin mengubah stigma terhadap perempuan yang memiliki ketertarikan di dunia investasi.
"Banyak orang bertanya, 'kamu kan perempuan. Kalau nanti kamu menikah dan punya anak, gimana nanti bisnismu? Siapa yang ngurusin?'. Lho, bukannya laki-laki juga akan menikah dan berkeluarga. Mengapa harus ada stigma yang double standard? Kadang aku merasa sakit hati mendapati hal itu," aku Gitta lagi.
ADVERTISEMENT
Memang benar, venture capital merupakan salah satu bidang pekerjaan yang diperlukan tingkat fokus tinggi untuk berbicara dan meyakinkan para penanam saham. Karena hal inilah, masih ada sebagian orang yang menyepelekan perempuan yang juga berkecimpung di bidang ini, terlebih lagi bagi mereka yang sudah menikah dan memiliki anak.
"Saya bukan orang yang terlalu idealis juga. Tapi saya tahu perempuan memiliki kemampuan yang bisa mengurusi berbagai macam hal dalam satu waktu. Memang di bidang saya ini masih ada kesenjangan gender dan sangat jauh dari kata inklusif. Stigma inilah yang ingin saya ubah," imbuhnya lagi.
Cerita Gitta Amelia soal Tantangan Jadi Investor Perempuan (490072)
searchPerbesar
The Future Makers, Gitta Amelia. Foto: Norman Fideli, Fashion Stylist: Anantama Putra, Bodysuit: H&M
Karena hal inilah, Gitta sangat semangat untuk mengajak perempuan agar lebih aktif lagi berperan dalam bidang modal ventura. Ia tak ingin ada kesenjangan gender antara perempuan dan laki-laki agar bidang yang digelutinya lebih inklusif dalam mengangkat kesetaraan.
ADVERTISEMENT
Gitta juga memiliki misi mulia untuk memberdayakan para perempuan, yakni mendirikan perusahaan investasi untuk memberikan sokongan dana kepada bisnis yang didirikan oleh perempuan.
My dream and my goal one day it’s to make an investment fund company that can support only women. Karena untuk saat ini, kami hanya melihat secara bisnis dan set up financial return tanpa melihat gender. Hopefully suatu saat saya bisa memiliki program pendanaan untuk perempuan,” demikian ujar perempuan lulusan The Wharton School of University of Pennsylvania Amerika Serikat ini.