Kumparan Logo

Cerita Label Mode Adrie Basuki, Usung Sustainability & Pemberdayaan Perempuan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Adrie Basuki, pendiri label fashion 'Adrie Basuki' yang berkonsep sustainability. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Adrie Basuki, pendiri label fashion 'Adrie Basuki' yang berkonsep sustainability. Foto: Dok. Pribadi

Ada banyak brand fashion yang mengedepankan rancangan busana indah dan berkualitas tinggi. Namun, itu semua bukanlah satu-satunya prioritas label busana Adrie Basuki. Brand fashion lokal yang didirikan oleh perancang mode Adrie Basuki ini turut memusatkan fokusnya pada sustainability–mulai dari konsep zero-waste, recycle, dan upcycle busana–hingga pemberdayaan perempuan.

Label fashion Adrie Basuki didirikan oleh Adrie pada 2018 dengan fokus awal pada pelestarian kain-kain Indonesia. Salah satu yang menjadi kecintaan Adrie adalah kain tenun Baduy, wastra khas suku di Provinsi Banten yang memakan waktu serta membutuhkan keterampilan para penenun dalam proses pembuatannya.

Sebagai seorang pencinta wastra Indonesia, Adrie tidak ingin sisa-sisa olahan kain tenun menjadi sampah belaka. Dari situlah, ia mulai mendalami seni mengolah kain tak terpakai menjadi bahan yang berdaya guna. Cerita mengenai awal sepak terjang konsep sustainability brand Adrie Basuki ini diungkapkan oleh Adrie dalam wawancara bersama kumparanWOMAN.

Busana oleh label fashion 'Adrie Basuki' yang berkonsep sustainability. Foto: Dok. Istimewa

“Kalau mengolah dari kain menjadi pakaian, pasti ada sisa-sisa kain yang tidak terpakai. Sementara, proses pembuatan kain tenun sepanjang satu meter saja bisa sampai dua minggu hingga satu bulan. Nah, dari sanalah terpikir, sayang sekali kalau kain-kain ini tidak terpakai, sementara proses pembuatan oleh ibu-ibu Baduy itu juga lama. Jadi, saya mulai cari referensi literatur, bagaimana cara mengolah kain tidak terpakai ke dalam bentuk baru,” ucap Adrie pada Minggu (23/10).

Ide-ide cemerlang Adrie itu justru terwujud pada masa-masa kelam dan sulit, yakni ketika pandemi COVID-19 merajalela. Fashion items brand Adrie Basuki yang tidak terjual pun diolah kembali; dari dibuat ulang, didaur naik atau upcycle, hingga recycle.

Kain perca marmer Adrie Basuki jadi signature label

Saat ini, brand yang pernah memenangi Lomba Perancang Mode (LPM) 2021 oleh Jakarta Fashion Week ini memiliki signature atau ciri khasnya sendiri, yakni marble patchwork atau perca marmer. Bahkan, karya ini berhasil mengantarkan brand Adrie Basuki pada kompetisi desainer bergengsi tersebut.

Perca marmer Adrie Basuki merupakan hasil daur ulang oleh tim Adrie Basuki dan perajin di Kampung Perca Sindangsari, Bogor. Pada dasarnya, marble patchwork dibuat dari baju-baju dan sisa-sisa kain yang bersumber baik di workshop Adrie Basuki maupun di berbagai garmen.

Busana oleh label fashion 'Adrie Basuki' yang berkonsep sustainability. Foto: Dok. Istimewa

Kemudian, kain akan dipilah dan dipisahkan sesuai dengan jenis atau warnanya, untuk nantinya bisa diolah menjadi kain baru dengan koordinasi warna yang memikat. Pengolahan pun melewati berbagai proses, dari pencacahan kain sisa ke dalam bentuk-bentuk kecil, hingga proses press dan jahit tindas (teknik quilting).

Kain perca marmer ini tidak sepenuhnya dijahit ke dalam satu busana penuh, melainkan sebagai detail pada rancangan Adrie. Sebut saja detail bagian tangan atau dada busana, hingga detail pada winter coat.

“Karena mungkin ketebalan [kain perca marmer] tidak terlalu tipis, jadi biasanya aku pakai itu untuk detail, mungkin buat tangan atau buat bagian dada saja. Yang banyak orang cari biasanya adalah untuk winter coat. Aku punya koleksi yang seperti winter coat, yang biasanya dibeli untuk jalan-jalan,” ucapnya.

Marble patchwork ini diperkenalkan Adrie pada LPM 2021. Hingga saat ini, koleksi yang keluarkan pada momen tersebut masih menjadi item-item fashion yang paling laku keras alias best-seller, menurut Adrie.

UNIQLO Gandeng Desainer Adrie Basuki Hadirkan 40 Pakaian Daur Ulang Foto: Dok. UNIQLO

Pemberdayaan perempuan dan masyarakat, ‘DNA’ dari label Adrie Basuki

Brand Adrie Basuki mempunyai beberapa ‘DNA’ alias inti yang menjadi pilar mereka; salah satunya adalah pemberdayaan perempuan. Saat ini, brand Adrie Basuki bermitra dengan Kampung Perca Sindangsari di Bogor, komunitas yang terdiri dari ibu-ibu korban pinjaman online.

Sebagai inisiator, Adrie jugalah yang membantu pembinaan ibu-ibu Kampung Perca, mulai dari memberikan pelatihan menjahit, pemilihan bahan, hingga koordinasi warna. Pada akhirnya, para anggota Kampung Perca pun kini mampu memiliki penghasilan sendiri.

“Pada 2020, kita dengan Pemerintah Kota Bogor menginisiasi sebuah kampung sustainability bernama Kampung Perca. Jadi, kami kerja sama dengan ibu-ibu daerah Sindangsari untuk mulai mengolah sisa-sisa kain, enggak cuma dari workshop tetapi juga dari garmen atau konveksi sekitar Bogor. Dari 2020 sampai sekarang, sekitar 30-40 persen koleksi Adrie Basuki tetap dibantu oleh ibu-ibu dari Kampung Perca,” ucapnya.

Adrie Basuki juga memiliki program Rumah Tangan Unik di workshop label tersebut. Pada program itu, para remaja yang belum bisa melanjutkan pendidikan tinggi diberikan pelatihan oleh tim Adrie Basuki. Mereka yang memiliki potensi besar akan bisa diundang untuk bergabung dengan tim Adrie Basuki, yang saat ini terdiri dari kurang lebih 23 orang.

Adrie Basuki, pendiri label fashion 'Adrie Basuki' yang berkonsep sustainability. Dok. Istimewa

Tantangan yang dihadapi brand Adrie Basuki

Sebagai brand yang berfokus pada sustainable fashion, Adrie Basuki menemui berbagai tantangan. Mulai dari pelatihan para anggota Kampung Perca dalam mengolah sisa-sisa kain, perjuangan untuk terus memperbarui teknik dan menciptakan bahan yang semakin bagus, hingga yang paling berat: meyakinkan masyarakat bahwa kain perca bukanlah bahan bekas.

“Tantangan yang dihadapi yang pasti adalah mengubah persepsi orang yang merasa bahwa recycle itu barang bekas. Padahal recycled fashion adalah cara kita menjaga lingkungan, membuat segala sesuatunya berdaya guna,” papar Adrie.

Tantangan tersebut ia hadapi lewat strategi pemasaran yang baik. Selain penjualan busana secara offline di Sarinah dan Central Department Store Jakarta, ia sangat mengandalkan internet untuk penjualan online, serta sebagai medianya untuk membangun awareness soal kain perca.

Beruntung, semakin banyak orang yang memahami keindahan dari seni kain perca ini. Contohnya, busana-busana Adrie Basuki berhasil laris manis ketika dibawa ke Kota Moskow, Rusia, atas undangan dari KBRI Moskow.

“Terakhir kita ke Moskow, undangan KBRI untuk Hari Kemerdekaan dan kolaborasi dengan International Women’s Community di sana. Di Moskow itu kita bawa 20 looks, satu look bisa terdiri dari dua atau tiga pieces. Pulang-pulang, jumlah pieces yang dibawa tinggal setengah; ternyata, banyak juga peminatnya,” jelas Adrie.

Yang beda dari brand Adrie Basuki

Adrie mengakui, saat ini sudah banyak brand fashion, baik lokal maupun internasional, yang mengusung konsep sustainability, zero-waste, dan pemberdayaan perempuan seperti Adrie Basuki. Namun, bagi Adrie, ada yang membedakan labelnya dari yang lain.

“Yang membedakan pasti adalah the spirit of the brand’s DNA. Yang membuat Adrie Basuki itu berbeda adalah gabungan dari tiga DNA brand: Kain Indonesia, sustainability, dan pemberdayaan perempuan. Kita berusaha ketiga hal tersebut selalu berjalan beriringan. Setiap aku mengeluarkan koleksi, tiga hal itu selalu ada,” ucap Adrie.

Adrie pun berharap, tiga DNA ini akan selalu dapat dibawa oleh Adrie Basuki ke depannya. Ia juga ingin kain perca, terutama marble patchwork, dikenal sebagai kreasi khas Indonesia.

“Saya ingin perca marble menjadi khasnya Indonesia. Impiannya adalah signature perca marble bisa menjadi salah satu yang bisa diingat orang, bahwa ini adalah karya anak Indonesia. Itu yang selalu saya bawa, impiannya itu,” tutup Adrie.

Pada Selasa (25/10), Adrie Basuki kembali memamerkan koleksinya di Jakarta Fashion Week 2023 dalam show bertajuk 'Re-Form'. Ia menampilkan rangkaian busana menswear bersama dengan koleksi dari 10 finalis Lomba Perancang Mode (LPM) Menswear 2022.