Cerita Lari Namira Adjani, dari Eating Disorder hingga Raih Rekor MURI
·waktu baca 5 menit

Memulai olahraga lari tak selalu berawal dari ambisi besar untuk menjadi juara. Bagi sebagian orang, langkah kecil itu justru dimulai demi memperbaiki hubungan dengan diri sendiri dan tubuhnya seperti pengalaman Namira Adjani.
Saat duduk di bangku SMA, Namira mengaku mengalami eating disorder atau gangguan makan karena rasa takut berlebihan terhadap kenaikan berat badan. Kondisi tersebut membuatnya mencari bantuan profesional agar dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan tubuh dan makanan.
“Dulu tuh aku punya semacam bad relationship dengan makanan atau eating disorder. Aku seek professional help ke psikolog, lalu disarankan untuk mencari olahraga yang bisa dilakukan secara rutin. Supaya mindset aku berubah, dari nggak bisa makan karena takut gendut menjadi harus makan supaya aku punya energi buat olahraga,” ujar Namira kepada kumparanWOMAN saat melakukan sesi wawancara untuk program She Inspires.
Namira pun memutuskan untuk mengikuti jejak ibunya, Alya Rohali, yang gemar berlari. Menurutnya, lari adalah olahraga yang cukup simpel dan fleksibel. Ia lalu mencoba lari secara bertahap dan konsisten pada 2017.
“Prosesnya pelan-pelan. Awalnya aku mulai jogging 3 kilometer, setelah itu lanjut ke 5 kilometer, 10 kilometer, lalu ke half marathon dan full marathon”, cerita Namira.
Perjalanan itu memakan waktu lima tahun hingga akhirnya Namira menuntaskan maraton pertamanya di London Marathon pada 2022. Setahun kemudian, ia menaklukkan tantangan maraton di Tokyo dan Berlin.
Terus berlanjut, pada 2024 Namira berpartisipasi dalam Chicago Marathon, sebelum akhirnya menuntaskan dua maraton terakhirnya di Boston dan New York pada 2025. Dari hobi itu, ia berhasil menuntaskan maraton di enam negara lewat ajang bergengsi alias World Marathon Majors.
Tak menyangka bakal jadi pelari berprestasi
Langkah kaki Namira yang konsisten membawanya jauh melampaui tujuan awal berlari—untuk sehat secara fisik dan mental. Ia pun menjadi perempuan Indonesia termuda yang mendapat predikat Six Star Finisher di ajang World Marathon Majors tersebut.
“Awalnya aku tak ada intention untuk menjadi ‘The Young Woman Six Finisher’ karena basically aku memang cuma mau sehat secara mental dan fisik. Namun setelah dijalani, ternyata aku suka banget sama lari,” ucap Namira.
Gayung bersambut, Namira pun meraih rekor MURI pada Januari 2026 sebagai perempuan Indonesia termuda yang berhasil menjadi Six Star Finisher di ajang World Major Marathon.
“I was really happy karena hobiku yang dimulai untuk kesehatan, pada akhirnya bisa membuat aku menjadi the youngest Six Star Finisher di Indonesia,” tutur Namira dengan nada gembira.
Nilai tambahnya, lari juga memiliki manfaat yang jauh lebih banyak bagi perempuan berusia 26 tahun ini. Sebagai seorang introvert, Namira merasa lari menjadi waktu me time untuk dirinya. Ia juga mengaku merasa lebih tenang dan bahagia setelah berlari. Tak hanya itu, ia mengatakan kondisi tubuhnya kini jauh lebih fit dan siklus menstruasi membaik setelah rutin berlari.
“The most important thing untuk perempuan, dari pengalaman aku—menstruasi aku jadi lebih tertarur. Karena dulu saat bad relationship sama makanan, menstruasi aku sering bolong-bolong. Bahkan pernah hampir dua bulan tidak kunjung menstruasi,” ujar Namira.
Tantangan perempuan dalam berolahraga menurut Namira Adjani
Melalui pengalamannya, Namira mengatakan masih banyak perempuan yang kesulitan menemukan tempat aman untuk menjalani gaya hidup aktif. Salah satunya, tidak semua perempuan tinggal dekat dengan kawasan seperti Gelora Bung Karno (GBK) yang menjadi sarana untuk berolahraga.
"Jadi itu mungkin salah satu tantangan yang dialami perempuan, tidak ada tempat khusus bagi kita yang ingin melakukan gaya hidup aktif,” ungkap Namira.
Tak hanya itu, fase menstruasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan. Sebab, pada fase tersebut beberapa perempuan kerap mengalami nyeri hingga penurunan energi. Kondisi itu membuat mereka membutuhkan usaha lebih besar untuk bangun dan berlari.
Belum lagi adanya standar body image yang hingga kini masih jadi momok bagi perempuan. "Para perempuan jadi merasa tidak percaya diri atau minder untuk berolahraga karena ada beberapa standar body image yang kerap ditekankan kepada perempuan," jelasnya.
Pentingnya miliki good relationship dengan tubuh bagi perempuan
Melihat sejumlah tantangan tersebut, Namira mengingatkan pentingnya memiliki hubungan yang baik dengan tubuh sendiri bagi perempuan. Sebab, hanya diri sendiri yang benar-benar memahami kondisi tubuh, pikiran, hingga kesehatan mental.
“Aku merasa cuma kita yang benar-benar tahu kondisi badan kita. Apakah lagi fit atau sedang capek, dan kita juga yang tahu apa saja yang dibutuhkan tubuh kita sendiri,” jelasnya.
Bercermin dari pengalamannya yang pernah mengalami eating disorder akibat citra tubuh yang kurang baik terhadap dirinya sendiri, Namira menegaskan pentingnya membangun hubungan sehat dengan tubuh agar hidup terasa lebih menyenangkan.
Namira pun mengingatkan perempuan untuk 'mulai aja dulu' dalam berolahraga tanpa merasa terlambat untuk memulai. Sebab, menurutnya, tidak ada kata terlambat untuk menjalani gaya hidup aktif.
“Perjalanan kalian bisa dimulai dari yang sedikit-sedikit dulu, pelan-pelan. Mungkin bisa mulai dari jalan santai, lanjut jogging 1 kilometer, 2 kilometer, 3 kilometer, dan seterusnya. Atau mungkin bisa mulai dari stretching dulu di rumah, yang penting dilakukan secara rutin,” pesannya.
Terakhir, ia mengingatkan perempuan untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain dalam menjalani gaya hidup aktif. Lantaran tujuan utamanya adalah menjaga kesehatan dan perkembangan diri sendiri.
“So, it’s good to just focus on yourself, to live a healthier life, with a healthier physique and a healthier mindset,” tutup Namira.
