Kumparan Logo

Cerita Marah Khaled al-Za'anin: Ubah Tenda Pengungsian Gaza Jadi Galeri Seni

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Marah Al-Za'anin melukis potret yang ia gantung di dalam tendanya di tempat penampungan sekolah Al-Rimal yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Jalur Gaza utara pada 28 Januari 2026. Foto: Omar AL-QATTAA / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Marah Al-Za'anin melukis potret yang ia gantung di dalam tendanya di tempat penampungan sekolah Al-Rimal yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Jalur Gaza utara pada 28 Januari 2026. Foto: Omar AL-QATTAA / AFP

Di belantara tenda pengungsian Gaza, ada salah satu yang berbeda dari yang lain. Dinding tenda yang biasanya polos, dihiasi oleh berbagai lukisan realistis bernuansa monokrom. Ini merupakan hasil karya seni dari seorang perempuan bernama Marah Khaled al-Za'anin.

Ia merupakan seorang seniman muda dari Beit Hanoun, Palestina, yang tengah mengungsi di Gaza bersama keluarganya. Marah merupakan salah satu dari banyak orang Palestina yang kehilangan rumah akibat serangan Israel, sehingga harus menetap sementara dalam sebuah tenda sederhana.

Meski tengah hidup di tempat pengungsian, perempuan berusia 18 tahun ini tetap menyalurkan bakat melukis dan menggambarnya. Dengan alat seadanya, Marah menciptakan berbagai karya seni yang memenuhi dinding hingga langit-langit tenda.

Marah Khaled al-Za'anin Hobi Melukis Sejak Kecil, Hasilkan Karya tentang Kehidupan Gaza

Marah Al-Za'anin melukis potret yang ia gantung di dalam tendanya di tempat penampungan sekolah Al-Rimal yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Jalur Gaza utara pada 28 Januari 2026. Foto: Omar AL-QATTAA / AFP

Bakat seni ini telah ia miliki sejak masih kecil. Saat beranjak dewasa, Marah terus melatih kepiawaiannya dalam menggambar dan melukis di tengah puing-puing bangunan yang runtuh. Dikutip dari Washington Post, Marah mengatakan kepada media bahwa menggambar merupakan wujud ekspresi dirinya.

Oleh karena itu, karya yang ia hasilkan kebanyakan berwarna hitam putih yang merepresentasikan realitas kehidupan di Gaza, seperti kelaparan hingga kehilangan. Ia juga kerap membagikan proses dan hasil karyanya melalui Instagram pribadinya, @marahza91.

Marah Al-Za'anin berjalan-jalan di tempat penampungan sekolah Al-Rimal yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Jalur Gaza utara pada 28 Januari 2026. Foto: Omar AL-QATTAA / AFP

Melalui situs Chuffed, platform penggalangan dana global, ia menuliskan perasaannya selama hidup di Gaza. “Aku tak akan pernah melupakan malam-malam yang kuhabiskan di bawah bombardir, gemetar ketakutan, melukis dengan perut kosong,” ceritanya.

Marah dibantu oleh temannya, Maria Magdalena Stoyanova, untuk menggalang donasi di situs tersebut. Ia meminta bantuan berupa uluran tangan untuk membantu dirinya dan keluarganya yang mengalami kelaparan.

“Kuas dan lukisan-lukisan saya bercerita tentang anak-anak Gaza yang hidup dalam kelaparan, ketakutan, kekurangan, kehilangan, kelelahan, dan ketidakpedulian dunia. Tolong kami, 10 anggota keluarga saya mengalami kelaparan. Dukung mereka, dukung karya seni saya,” tulis Marah.