Cerita Nicole Kidman soal Isu Kesetaraan Gender di Industri Perfilman
·waktu baca 3 menit

Aktris senior Nicole Kidman ternyata punya keresahan mendalam soal kesetaraan gender yang masih menjadi isu di industri perfilman dunia. Baginya, selama ini perempuan masih sering dipinggirkan, terutama di balik layar baik sebagai sutradara, penulis, ataupun kru. Padahal perempuan juga punya bakat dan potensi besar.
Keresahan itu mendorong Nicole untuk tak hanya bicara, tapi juga berkomitmen memberi dukungan nyata bagi perempuan agar lebih banyak yang mendapat kesempatan memimpin proyek film. Untuk itu, Nicole pernah berjanji untuk bekerja dengan sutradara perempuan minimal setiap 18 bulan sekali.
Cerita ini ia bagikan dalam momen emosional saat menerima Women in Motion Award dari Kering, di ajang Festival Film Cannes 2025. Di hadapan deretan insan perfilman dunia, Nicole kembali menegaskan dukungannya terhadap suara perempuan, baik di layar maupun di balik layar.
“Saya senang bisa terus mendukung suara perempuan dalam dunia sinema,” kata Nicole di acara penghargaan tersebut seperti dilansir Variety. “Saya adalah seorang advokat dan komitmen ini belum selesai.”
Komitmen itu pertama kali ia ucapkan secara publik di Cannes pada 2017. Saat itu, Nicole berjanji akan bermain dalam film yang disutradarai perempuan setiap 18 bulan. Bukan janji kosong, selama 8 tahun terakhir Nicole telah mewujudkan proyek film dan televisi bersama 27 sutradara perempuan. Jumlah yang mengesankan di tengah industri yang masih timpang secara gender.
Dilansir dari Vulture, Nicole mengaku senang melihat peningkatan kesetaraan gender dalam industri film. Ia menyebut pada 2017 hanya 4 persen perempuan yang menyutradarai film-film besar di AS. Namun kini angkanya naik menjadi 13 persen. Meski begitu, menurutnya masih banyak yang perlu diperjuangkan.
“Aku melihat perubahan itu terjadi,” ujarnya. “Satu-satunya cara untuk mendorong perubahan adalah benar-benar turun tangan, hadir, dan bilang, ‘Ya, aku di sini. Aku akan main di filmmu. Aku tahu kita cuma punya dana USD 4 juta. Tapi kita bisa buat filmnya terwujud’,” ujar Nicole.
Ia mencontohkan pengalamannya bekerja bersama sutradara Karyn Kusama dalam film Destroyer. Di proyek itu mereka harus berjuang di jalanan Los Angeles dengan waktu yang sangat terbatas, namun tetap berhasil menyelesaikan film tersebut.
Meski banyak yang menanti-nanti debutnya sebagai sutradara, tapi Nicole mengatakan belum tertarik mengambil posisi itu. Ia lebih memilih menulis ide dan mencatat mimpi-mimpi yang datang di pagi buta, lalu membagikannya kepada sutradara lain. “Saya menikmati keintiman proses kerja kreatif itu. Mungkin itu yang terus menarik saya kembali. Itu semacam jalan keselamatan bagi saya,” katanya.
Berdasarkan data Women in Motion, persentase jumlah sutradara perempuan dalam 100 film box office teratas di Amerika Serikat meningkat dari 7,5% menjadi 13,6% dalam kurun waktu 2015 hingga 2024.
Tahun ini, tujuh dari 22 film yang berkompetisi di ajang utama Festival Film Cannes 2025 disutradarai oleh perempuan, termasuk film karya Julia Ducournau, salah satu dari hanya tiga sutradara perempuan yang pernah meraih penghargaan tertinggi Palme d'Or.
