Cita Tenun Indonesia Gandeng Wilsen Willim hingga Moral di JFW 2026

11 November 2025 12:45 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cita Tenun Indonesia Gandeng Wilsen Willim hingga Moral di JFW 2026. Foto: Instagram @dannysatriadi_official
zoom-in-whitePerbesar
Cita Tenun Indonesia Gandeng Wilsen Willim hingga Moral di JFW 2026. Foto: Instagram @dannysatriadi_official
ADVERTISEMENT
Cita Tenun Indonesia (CTI) menghadirkan sebuah perayaan penuh makna lewat presentasi mode bertajuk Liminal di Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 pada Rabu (29/10). Liminal menjadi ruang di mana tradisi dan modernitas bertemu. Setiap helai tenun yang dipresentasikan menyimpan ingatan kolektif, spiritualitas, dan kisah tentang relasi manusia dengan alam yang melahirkannya.
ADVERTISEMENT
Kali ini, CTI menggandeng empat desainer dan brand untuk menafsirkan tenun dari berbagai daerah dengan pendekatan yang berbeda-beda. Dari Tenun Garut hingga Tenun Putussibau dari Kalimantan Barat, setiap karya menjadi bentuk percakapan antara warisan budaya dan interpretasi masa kini.
Beragam tenun ini diolah sesuai dengan identitas Wilsen Willim, Moral, The Rizkianto, dan Danny Satriadi. Seperti apa koleksi mereka? Simak selengkapnya di bawah ini.

The Rizkianto – “Casa”: Sentuhan Emas dari Milan

Melalui koleksi bertajuk Casa, desainer Dery Rizkianto menghadirkan perjalanan emosional yang menghubungkan dua negara, yaitu Italia dan Indonesia. Ia menafsirkan rumah bukan hanya sebagai tempat untuk kembali, tetapi sebagai ruang pertemuan antara budaya, teknik, dan perasaan yang membentuk dirinya sebagai desainer.
ADVERTISEMENT
Meski berasal dari Indonesia, namun Dery baru pertama kali melakukan show di tanah air. Jadi kehadirannya di JFW 2026 adalah debut The Rizkianto di panggung mode Indonesia. Selain itu, ini juga pertama kalinya Dery mengkreasikan wastra. Maka dari itu, Casa memadukan keanggunan gaya masyarakat di Milan dengan kehangatan tenun Indonesia. Deretan busananya didominasi warna hitam dan emas sebagai simbol kemewahan yang tenang sekaligus identitas yang tak terlupakan.
“Pertama kali ini saya membawakan tenun dari Garut. Dan saya bersyukur masih ada kesempatan untuk bekerja sama dengan perajin di Garut. Jadi kita custom kain hingga benangnya, hasil motifnya jadi salah satu yang belum pernah diproduksi di Garut,” ujar Dery Rizkianto dalam sesi konferensi pers sebelum show.
ADVERTISEMENT
The Rizkianto menghadirkan 12 tampilan busana bergaya feminin. Potongan gaun malam yang membentuk lekuk tubuh tampak begitu elegan berkat motif polkadot yang ditenun dari benang emas. Ada juga blus, rok, dan blazer yang juga di-styling dengan apik.

MORAL – “MORAL / tempo”: Pemberontakan Wastra dalam Ritme Urban

Di bawah arahan Andandika Surasetja dan Radhitio Anindhito, label Moral menghadirkan semangat perlawanan terhadap stagnansi mode konvensional lewat koleksi bertajuk “MORAL / tempo”. Koleksi ini menjadi manifesto visual tentang keberanian untuk keluar dari pakem dan memerdekakan tradisi, menempatkan tenun bukan sebagai benda masa lalu, melainkan simbol energi dan keteguhan masa kini.
Dalam 13 tampilan eksperimental yang sesuai dengan DNA Moral, wastra diolah menjadi gaun fit-to-body, mesh top, oversized dan cropped blazer, coat, hingga bralette. Beberapa dirancang menjadi apron asimetris dan di-styling dengan rok mini, studded jacket bergaya punk dan edgy khas Moral.
ADVERTISEMENT
Dengan struktur tajam, layering, dan perpaduan material denim, koleksi ini menciptakan dialog antara keras dan lembut, antara ritme jalanan dan disiplin tekstil. Di tangan MORAL, wastra menjadi tubuh yang bergerak dan bernapas, menolak dibekukan oleh waktu, sekaligus menegaskan bahwa keberanian bereksperimen adalah bentuk baru dari keindahan.

Danny Satriadi – “Heavenly Creatures”: Harmoni Kosmik Tenun Songket dan Filosofi Tionghoa

Melalui koleksi bertajuk “Heavenly Creatures,” desainer Danny Satriadi mengajak audiens memasuki alam kosmik tempat spiritualitas, keindahan, dan budaya bertemu dalam harmoni. Terinspirasi dari 12 shio dalam budaya Tionghoa yang diterjemahkan ke dalam 12 tampilan, koleksi ini menafsirkan siklus kehidupan sebagai tarian abadi antara manusia dan semesta, yang menciptakan sebuah perjalanan visual lembut sekaligus megah.
ADVERTISEMENT
Songket Sambas diolah menjadi koleksi haute couture melalui siluet elegan dan teknik draping yang tetap menghormati keutuhan kain. Setiap lipatan dan jahitan dibuat seolah menjembatani antara tradisi dan inovasi. Warna emas dan benang merah yang mengalir di sepanjang koleksi menciptakan aura kemegahan, namun tetap memancarkan kehangatan spiritual khas Danny Satriadi.
Kehadiran Rinaldy Yunardi sebagai kolaborator memperkuat dimensi kosmik dalam koleksi ini. Aksesori rancangan Rinaldy yang memiliki struktur futuristik dan sentuhan dramatis, menjadi penegasan visual dari tema Heavenly Creatures, seolah menghadirkan makhluk langit dalam wujud mode.
“Jadi, dengan teknik dry brush, saya combine dengan ciri khas yang ada di Danny Satriadi, dengan teknik embroidery. Dibuat sedemikian rupa, sehingga kain itu utuh, tapi tetap menampilkan sisi keindahan dari kain tersebut,” ujar Danny Satriadi.
ADVERTISEMENT
Lewat Heavenly Creatures, Danny tak hanya menampilkan busana, tetapi juga menghidupkan dialog antara bumi dan langit, antara akar budaya dan mimpi tanpa batas.

Wilsen Willim – “The Heart of Borneo”: Napas Baru Tenun Dayak Iban

Sebagai penutup peragaan, Wilsen Willim menghadirkan koleksi bertajuk “The Heart of Borneo,” sebuah persembahan yang terasa seperti surat cinta untuk hutan, jiwa, dan manusia yang hidup di tanah Borneo. Melalui kolaborasi bersama Yayasan Kawan Lama dan Cita Tenun Indonesia (CTI), Wilsen menyoroti Tenun Dayak Iban sebagai simbol keberlanjutan dan bentuk perlawanan terhadap hilangnya ruang hidup perempuan penenun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
“Menurut saya, melalui pengelolaan kain tenun ini, kita bisa menghadirkan sebuah perubahan. Ini bisa jadi cara kita untuk membuat ekosistem di mana tenun-tenun ini bisa langsung dijual, sehingga juga bisa jadi cara untuk menghindari eksploitasi budaya," ungkap Wilsen Willim.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, Wilsen dan tim mengolah Tenun Iban dengan penuh kepekaan dan rasa hormat terhadap budaya. Tenun yang dikenal dengan teknik ikat tradisional dan pola spiritual yang berakar pada kepercayaan animisme Dayak tersebut diinterpretasikan ulang dengan sentuhan modern.
Lewat tailoring rapi, detail payet bernuansa tribal, serta sentuhan military yang tegas namun lembut, Wilsen Willim menciptakan harmoni antara tradisi dan gaya kontemporer. Dalam 12 tampilan yang memukau, The Heart of Borneo menjadi bukti bahwa tenun bukan sekadar kain, tetapi napas yang hidup dalam setiap perempuan penenun. Di tangan Wilsen, wastra berubah menjadi bentuk penghormatan, sebuah pengingat bahwa kemewahan sejati lahir dari akar budaya yang dijaga dengan hati.