Deretan Sosok Ibu Negara Prancis: dari Supermodel hingga Guru Bahasa
·waktu baca 7 menit

Kedatangan Brigitte Macron ke Indonesia pada akhir Mei lalu menjadi kunjungan ibu negara Prancis pertama dalam hampir empat dekade. Sebelumnya, sosok terakhir yang menginjakkan kaki di tanah air adalah Danielle Mitterrand pada 1986, saat mendampingi Presiden François Mitterrand dalam kunjungan kenegaraan.
Menjadi Ibu Negara di usia 64 tahun, Brigitte Macron adalah figur yang mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena penampilannya yang elegan dan latar belakangnya sebagai mantan guru, tetapi juga karena hubungan uniknya dengan Presiden Emmanuel Macron yang terpaut usia 24 tahun.
Namun, Brigitte bukan satu-satunya première dame yang menarik sorotan dunia. Dari era klasik hingga modern, para ibu negara Prancis kerap tampil di antara sorotan filantropi, kontroversi politik, dan deretan depan pagelaran Saint Laurent, Dior, hingga Chanel.
Siapa saja mereka? Inilah kilas balik para première dame Prancis—dari Danielle Mitterrand yang vokal memperjuangkan hak asasi manusia, Carla Bruni yang memadukan status supermodel dan penyanyi dengan peran kenegaraan, hingga Brigitte Macron yang kontroversial.
Claude Pompidou (istri dari Georges Pompidou, Presiden Prancis 1969-1974)
Perempuan kelahiran 13 November ini terkenal memiliki passion mendalam terhadap desain serta seni modern dan kontemporer. Apartemen pribadinya dipenuhi karya seni dari Bernard Buffet, Joan Miro, dan Nicky de Saint Phalle.
Masa tinggalnya di istana kepresidenan Palais de l’Èlysèe digunakannya untuk merombak total interior jadi tampil ultramodern untuk masa itu.
Satu jejak yang tersisa hingga kini adalah Le Salon Paulin karya desainer Pierre Paulin, ruang di mana terdapat chandelier dari 9000 batang dan manik kaca yang tertempel di langit-langit aluminium.
Claude yang merupakan putri seorang dokter, juga peduli pada isu kesehatan. Yayasan Claude Pompidou yang berkosentrasi pada kaum lansia, disabilitas, dan pasien Alzheimer, ia dirikan pada 1969.
Namun, jejak terbesarnya adalah museum seni modern dan kontemporer Centre Georges Pompidou karya duo arsitek Renzo Piano dan Richard Rogers yang dibangun pada 1971.
Desas-desusnya, Piano dan Rogers adalah pilihan pribadinya. Peran Claude terbukti krusial pada pembangunan museum sejak wafat suaminya pada 1974 hingga pembukaan resmi pada 1977.
Setelah diresmikan, deras kritik tentang tampilan belakang museum berupa barisan pipa gigantis berwarna menyolok. ‘Mencoreng’ cantiknya wajah kota ini, kata mereka. Terlepas dari kontroversi, tak ayal Centre Georges Pompidou adalah salah satu ikon Paris. “Menyerah, tidak pernah menjadi godaan bagi saya,” begitu Claude Pompidou pernah berkata.
Danielle Mitterand (istri dari François Mitterrand Presiden Prancis 1981-1995)
Ingatan utama masyarakat internasional akan perempuan ini pastilah terkait ketenangannya saat bersisian dengan selir sang suami dan anak dari sang selir saat pemakaman mantan presiden François Mitterand. Tapi, Danielle Mitterand lebih dari seorang ibu negara yang menoleransi kehadiran kekasih resmi selama lebih dari tiga dekade. Lahir dari keluarga pejuang Perang Dunia Kedua, Danielle bergabung dengan gerakan La Résistance saat menginjak usia 17 tahun.
Saat di gerakan inilah ia mendapat tugas untuk membebaskan seorang pemuda, yang tak lain adalah François. Keteguhannya akan ‘Nobody is Free Until Everybody is Free’ tak pudar saat ia jadi ibu negara. Tanpa ragu di hadapan puluhan kamera, ia saling kecup pipi dengan Fidel Castro saat Castro bertandang ke Paris pada 1995. “Dia bukan diktator,” tegasnya kepada para jurnalis.
Pada pertengahan 1980an, tak lama setelah insiden Soweto Uprising yang menelan korban ratusan anak dan remaja kulit hitam Afrika Selatan, Danielle terbang ke kota itu. Ia mendirikan Yayasan Danielle Mitterand pada 1986, yang bertujuan memastikan pelaksanaan bersih HAM dan pendirian demokrasi alternatif. Danielle meyakini bahwa istri presiden bukanlah aksesori, “Istri Presiden Prancis tidak (perlu) diberikan peran. Ia sudah memiliki peran yang ia berikan kepada dirinya sendiri.”
Bernadette Chirac (istri Jacques Chirac, Presiden Prancis 1995–2007)
Ibu dari dua anak perempuan ini lahir sebagai Parisienne dan berasal dari keluarga aristokrat Prancis Chodron de Courcel. Komitmen Bernadette kepada filantropi, berangkat dari alasan pribadi. Putri sulung Bernadette dan Jacques, Laurence, menderita anoreksia nervosa dan instabilitas mental akibat penyakit meningitis yang dideritanya sejak usia 15 tahun.
Melalui Yayasan Paris-Hospitals of France dan inisiasi pengumpulan dana tahunan Pièces Jaunes (koin kuning) yang dipimpinnya, dana sebesar 26,2 juta euro berhasil terkumpul untuk proyek La Maison Solenn, sebuah pusat pendampingan dan penyembuhan anoreksia serta kondisi mental remaja lainnya.
Tapi, bukan figur publik jika ia tanpa kontroversi. Namanya ramai sebagai tajuk berita di Prancis pada 2015 ketika ia dikabarkan menerima ‘gaji’ total sekitar 190 ribu euro sebagai salah satu direktur di grup LVMH selama empat tahun.
Bernadette yang kini berusia 92 tahun, tampil terakhir kali di muka umum pada akhir tahun lalu di acara pembukaan paska renovasi Gereja Notre-Dame de Paris. Kata-kata Bernadette tentang perempuan, mungkin bermula dari perjuangannya selama puluhan tahun mendampingi si sulung tanpa kehadiran maksimal Jacques Chirac: “Perempuan adalah setengah langit dan setengah bumi.”
Carla Bruni (istri Nicolas Sarkozy Presiden Prancis 2007-2012)
Model, penyanyi, ibu negara. Itulah curriculum vitae singkat Carla Bruni. Lahir dari pasangan pengusaha industri minyak dan pemusik, Carla bermigrasi dari Turin, Italia, ke Paris saat berusia 7 tahun. Perjumpaannya dengan Presiden Nicolas Sarkozy yang baru saja bercerai, terjadi pada akhir 2007 dan mereka menikah tiga bulan kemudian.
Karier modelling dan musiknya terhenti selama menjadi ibu negara Prancis dan ia terlihat sibuk dengan berbagai kegiatan kenegaraan dan filantropi, salah satunya pendirian Carla Bruni Foundation pada 2009. Namun pada pertengahan 2013, Nicolas Bousquet, seorang perancang situs, meluncurkan petisi agar Carla mengembalikan uang sebesar 410 ribu euro kepada negara.
Ia mengatakan, biaya pemeliharaan situs tersebut terlalu mengada-ngada dan parahnya, berasal dari uang pajak rakyat. Petisi tersebut ditandatangani oleh lebih dari 126 ribu orang, dan kini situs serta Carla Bruni Foundation tak lagi eksis.
Setelah tak lagi jadi ibu negara, Carla kembali jadi selebritas. Ia mengeluarkan empat album dan berjalan di show perayaan 10 tahun Olivier Rousteing sebagai direktur kreatif rumah mode Balmain, show Victoria’s Secret, dan di karpet merah festival Cannes bersama Chopard.
The First Girlfriend: Valérie Trierweiler (pendamping François Hollande, Presiden Prancis 1997-2008)
Jurnalis politik ini pernah menyandang status pendamping resmi mantan presiden François Hollande. Diberi sebutan The First Girlfriend oleh media-media berbahasa Inggris, Valerie tetap bekerja selama jadi penghuni Palais l’Elysées.
Lahir dari ayah mantan serdadu perang dan ibu seorang kasir, Valérie dipandang cantik dan cerdas sejak kecil. Karier jurnalismenya berjalan lumayan mulus di majalah Paris Match sebagai senior reporter dan pemandu acara bincang politik di C8. Valérie mulai menjalin hubungan dengan Hollande sejak 2006, saat ia masih berstatus suami politisi Ségolène Royal.
Hubungan Valérie dan sang presiden kandas pada 2014 - dua tahun setelah pelantikan - akibat perselingkuhan Hollande dengan aktris Julie Gayet. Ketegasan Valérie memutuskan Hollande sesuai ucapannya, “Saya bukan pajangan.”
Brigitte Macron (istri Emmanuel Macron, Presiden Prancis 2017-sekarang)
Ia seorang guru bahasa Prancis dan Latin serta ibu dari tiga anak. Ia seorang remaja berusia 15 tahun yang bergabung di ekstrakulikuler teater binaan ibu guru bahasa. Kisah cinta antara mereka, Brigitte dan Emmanuel Macron, adalah skandal (dan terancam hukuman penjara). Brigitte, bungsu dari enam bersaudara, lahir dari keluarga pengusaha coklat Trogneux yang terpandang di Amiens.
Menekuni sastra sejak studinya di universitas, karier Brigitte sebagai guru dimulai setelah anak ketiganya lahir. Lalu ia memutuskan berhenti mengajar saat Macron membentuk partai politik En Marche!
Dukungannya tak sia-sia, Macron dilantik sebagai presiden pada 2017. Seperti para pendahulunya, Brigitte pun menapakkan kaki di ladang filantropi. Ia ‘mewarisi’ kepemimpinan Yayasan Paris-Hospitals of France dan inisiasi amal Pièces Jaunes dari Bernadette Chirac pada 2019.
Melewati skandal dan berhasil jadi ibu negara, bukan berarti kontroversi berhenti bagi Brigitte. Seorang politisi garis kanan Amerika Serikat mengedarkan teori bahwa Brigitte adalah seorang transpuan. Lalu yang terbaru tentu ‘sapuan lembut’nya di wajah sang suami saat mereka mendarat di Hanoi beberapa hari lalu. Mungkin Brigitte harus membuat kutipan: “Controversy is my middle name.”
