Dian Purba: Memimpin Bisnis dengan Rasa Hormat, Kejujuran, dan Otentisitas

Seorang pemimpin perempuan yang hebat tidak harus selalu datang dengan semua solusi dan inovasi. Bagi Dian Purba, founder sekaligus creative director Ella & Glo, leadership yang kuat kadangkala dimulai dari kemampuan menghargai orang lain, membangun kepercayaan, dan memberi ruang bagi setiap anggota tim untuk menjadi dirinya sendiri.
Ketiga hal tersebut terangkum dalam tiga kata yang menurut Dian menggambarkan gaya kepemimpinannya: respect, honesty, dan authenticity. Baginya, ketiganya tidak berdiri sendiri. Ketika sebuah bisnis memiliki visi yang sama, setiap orang di dalamnya perlu mengetahui peran masing-masing sekaligus percaya bahwa seluruh bagian bekerja menuju tujuan yang sama.
“Respect. Kenapa? Karena saya selalu ingin untuk menghormati semuanya. Jadi semua tim itu sama pentingnya, semua team members,” kata Dian kepada kumparanWOMAN.
Ia mengibaratkan sebuah tim dalam bisnis seperti rantai yang kekuatannya bergantung pada setiap mata rantai. Karena itu, tidak ada satu posisi yang bisa merasa paling penting dibandingkan yang lain. Setiap orang memiliki kontribusi masing-masing dan perlu mengerjakannya dengan sebaik mungkin.
“Karena memang kekuatan dari satu rantai itu tergantung dari kekuatan tiap-tiap mata rantainya. Sehingga satu tim itu perlu bekerja sama dengan baik untuk bisa menghasilkan satu yang baik. Tidak ada yang lebih penting atau kurang penting. Semua tim penting sehingga kita harus punya rasa hormat,” ujarnya.
Selain rasa hormat, Dian juga sangat menghargai kejujuran. Menurutnya, kejujuran menjadi fondasi penting dalam membangun trust di dalam tim. Dalam bisnis, ketika seluruh anggota bekerja menuju visi yang sama, kepercayaan dibutuhkan agar mereka dapat saling mengandalkan, termasuk ketika salah satu anggota tim sedang menghadapi kesulitan.
“Trust itu hanya bisa dibangun over time tentunya dengan kejujuran yang konsisten. Satu sama lain selalu menunjukkan kejujuran,” tutur Dian.
Sementara itu, authenticity mengingatkan Dian bahwa setiap orang membawa karakter dan talenta yang berbeda. Ia tidak melihat perbedaan tersebut sebagai hambatan, melainkan sebagai kekuatan yang dapat melengkapi satu sama lain.
“Untuk bisa sukses itu bukan berarti semuanya harus sama malah. Karena semuanya itu pasti membawa sesuatu yang berwarna, yang baik untuk usaha kita bersama-sama,” katanya.
Dian kemudian mengibaratkan tim seperti tubuh manusia. Setiap bagian memiliki fungsi berbeda, tetapi semuanya saling terhubung. Kaki tidak perlu menjadi tangan agar dapat berkontribusi. Begitu pula dengan anggota tim yang tidak harus memiliki karakter atau kemampuan yang sama.
“Just be authentic aja, kalau semua bagian tubuh kita mau jadi tangan nggak kebayang kan,” ujarnya.
Pemimpin perempuan dan tantangan bias gender dalam dunia bisnis
Bagi Dian, salah satu hal yang masih kerap disalahpahami tentang perempuan entrepreneur bukanlah kemampuan mereka untuk memimpin bisnis, melainkan seperti apa perempuan dianggap seharusnya memimpin dan mengembangkan bisnis.
“Orang paham sih kalau perempuan itu bisa memimpin bisnis. Tapi mungkin bisanya seperti apa? Itu yang masih sering ada sedikit pandangan yang mungkin kurang objektif. Atau yang bisa disebut bias,” katanya.
Dian mengaku ia mendengar pengalaman serupa dari banyak founder dan entrepreneur perempuan lain. Salah satu area yang menurutnya masih menjadi perhatian adalah akses terhadap pendanaan dari moda ventura hingga akses pinjaman dari perbankan.
“Contohnya ya mungkin investment misalnya dari venture capital atau loan dari bank, itu sepertinya saya gak ada angkanya, tapi memang in general sepertinya memang masih lebih banyak itu diberikan kepada male founders and entrepreneurs,” ujarnya.
Pengalaman yang disampaikan Dian memiliki konteks yang sejalan dengan berbagai temuan mengenai kesenjangan gender dalam kewirausahaan. Laporan GEM 2024/2025 yang mengolah data 161.528 orang dewasa di 51 negara menunjukkan perempuan masih menghadapi sejumlah hambatan dalam membangun dan mempertahankan bisnis.
Salah satunya berkaitan dengan tanggung jawab keluarga: perempuan tercatat 47 persen lebih mungkin menutup bisnis karena alasan keluarga atau personal dibandingkan laki-laki.
Akses pendanaan juga masih menjadi persoalan. World Bank menyebut perempuan pemilik usaha menghadapi lebih banyak keterbatasan dalam mengakses pembiayaan, termasuk dengan persyaratan yang kurang menguntungkan.
Dalam konteks Indonesia, sekitar 60 persen UMKM dimiliki perempuan, tetapi sebagian besar berada pada skala mikro dan menghadapi akses kredit serta pasar yang lebih rendah dibandingkan bisnis milik laki-laki.
Kondisi tersebut dapat membuat sebagian perempuan harus membangun bisnis dengan modal sendiri atau melakukan bootstrapping lebih lama sebelum memperoleh pendanaan eksternal. Dampaknya, menurut Dian, pertumbuhan bisnis pun berpotensi berjalan lebih lambat.
“Sehingga ya cukup sering female founders atau entrepreneurs ini harus lebih lama bootstrapping ya. Jadi memakai modal sendiri sehingga growth juga mungkin jadi lebih lama,” kata Dian.
Di sisi lain, ada tantangan yang tidak selalu terlihat dalam laporan keuangan, yakni pembagian waktu antara bisnis dan keluarga. Menurut Dian, ekspektasi sosial terhadap perempuan untuk memegang tanggung jawab domestik masih cukup kuat.
“Memang expectation itu juga masih sangat kuat ya terhadap para perempuan. Bahwa ya kalau perempuan memang banyak sekali responsibility dan duty di keluarga, di rumah tangga. Sehingga mungkin dipertanyakan apakah bisa maksimal dalam bekerja,” ujarnya.
Hal ini sejalan dengan temuan GEM yang mencatat pada 2024, faktor keluarga atau personal menjadi alasan penutupan bisnis bagi 21 persen perempuan, dibandingkan 14,3 persen pada laki-laki.
World Bank juga menempatkan tanggung jawab pengasuhan, norma sosial, akses terhadap jaringan, teknologi, pasar, dan pembiayaan sebagai sejumlah faktor yang dapat membatasi pertumbuhan bisnis yang dipimpin perempuan.
Pentingnya ruang aman dan mentorship antarsesama perempuan
Bagi Dian, salah satu cara untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut adalah menciptakan lebih banyak ruang bagi perempuan untuk saling berbagi pengalaman. Ia melihat forum dalam kelompok kecil dapat memberikan manfaat yang berbeda dibandingkan seminar dengan pola satu pembicara dan audiens besar.
“Kalau seminar-seminar kayaknya sudah banyak di mana ada satu pembicara atau beberapa pembicara kemudian bicara dengan audiens yang besar. Tapi kalau untuk satu on one atau small group seperti ini saling berbagi, itu belum terlalu banyak,” ujarnya.
Menurut Dian, percakapan yang terbuka dapat membantu perempuan menyadari bahwa tantangan yang mereka hadapi bukan pengalaman yang berdiri sendiri. Dari sana, dukungan dan mentorship dapat terbentuk.
“Sehingga perempuan satu sama lain bisa mendukung dan bisa lebih ada role model yang bisa kita ikutin. Sehingga mentorship itu antara perempuan ke perempuan itu bisa lebih banyak terjadi,” katanya.
Pentingnya jaringan tersebut juga sejalan dengan rekomendasi World Bank. Jaringan dan kelompok usaha dapat membantu perempuan memperoleh akses terhadap pengetahuan, pasar, pembiayaan, hingga dukungan dari sesama pelaku usaha.
Bagi Dian sendiri, pengalaman berada di antara sesama perempuan entrepreneur membuatnya merasa tidak sendirian menghadapi tantangan dalam membangun bisnis.
“Saya betul-betul merasakan sekali kalau I'm in good company and yang pertama sekali we align well,” katanya.
Nasihat terbaik: bersabar karena bisnis butuh waktu
Dalam perjalanan membangun Ella & Glo, Dian juga pernah menerima berbagai nasihat. Salah satu yang paling membekas justru sederhana: sesuatu yang baik membutuhkan waktu untuk dibangun.
“Something yang baik, sesuatu yang besar itu memang tidak mudah untuk dilakukan dan dicapai dan perlu waktu. Jadi, bersabarlah,” ujarnya.
Nasihat tersebut terasa penting bagi Dian karena ia mengakui dirinya bukan orang yang secara alami mudah bersabar. Namun, perjalanan membangun bisnis membuatnya memahami bahwa proses yang panjang justru memberikan ruang untuk belajar.
Menurutnya, proses tersebut juga membantu seorang entrepreneur tetap rendah hati. Ketika bisnis belum berada di titik yang diinginkan, ada kesempatan untuk terus mendengarkan masukan, menerima komplain, dan memperbaiki kualitas produk.
“Dengan kerendahan hati itu jadi terus mau belajar dan terus mau memperbaiki diri, terus mau mendengarkan feedback, terus mau menerima komplain juga dengan baik dan menggunakan itu semua untuk improving quality dari produk saya,” katanya.
Tapi sayangnya, sebagai pebisnis, Dian tak selalu menerima nasihat baik. Menurutnya, ada juga pihak-pihak yang seringkali memberikan pernyataan negatif alias nasihat terburuk. “Ada yang pernah bilang, oh kalau brand lokal Indonesia jangan mahal-mahal karena kan nanti siapa yang mau beli,” tuturnya.
Pernyataan tersebut, menurut Dian, berangkat dari stereotip bahwa kualitas produk lokal masih berada di bawah produk luar negeri. Ia justru melihat perkembangan industri lokal menunjukkan hal sebaliknya.
“Karena bagi saya itu salah, karena seperti yang kita ketahui sekarang brand Indonesia itu sudah membuat produk-produk yang sangat-sangat bagus kualitasnya dan sangat bisa bersaing juga dengan brand-brand dari luar negeri,” katanya.
Alih-alih menjadikan komentar tersebut alasan untuk mundur, Dian memilih menjadikannya dorongan untuk terus meningkatkan kualitas. Ia juga menyampaikan pesan kepada para pemilik brand Indonesia agar tidak mudah mengecilkan diri ketika menghadapi pandangan serupa.
“Ayo maju terus, maju sama-sama. Karena kalau ada yang berbicara seperti itu ya sudah kita tidak perlu terlalu didengarkan sampai kecil hati, jadikan saja itu motivasi untuk lebih baik lagi,” ujarnya.
Jangan menunggu kondisi sempurna untuk memulai
Pada akhirnya, pesan Dian kepada perempuan yang sedang merintis bisnis berkaitan dengan keberanian mengambil langkah. Menurutnya, perencanaan tetap penting, tetapi seorang entrepreneur tidak mungkin menunggu seluruh kondisi menjadi sempurna sebelum mengambil keputusan.
“Jangan terlalu banyak menunggu malah ya sampai ada perfect condition karena menunggu itu sampai ada perfect condition itu tidak akan pernah terjadi,” kata Dian.
Ia tidak menganjurkan perempuan mengambil risiko secara gegabah. Sebaliknya, setiap keputusan tetap perlu dikalkulasi dengan matang dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya.
“Memang betul kita harus hati-hati semuanya mesti dikalkulasi dengan baik tapi tidak bisa memang sampai perfect semuanya kita tahu apa yang terjadi,” ujarnya.
Bagi Dian, titik pentingnya adalah mengetahui kapan persiapan sudah cukup untuk membuat langkah pertama. Ketika fondasi yang dibutuhkan telah tersedia dan manfaat potensial lebih besar daripada risikonya, keputusan untuk bergerak tidak perlu terus ditunda.
Ia merangkum prinsip tersebut dalam kalimat yang juga ia ajarkan kepada anak-anaknya: “Fail to plan is a plan to fail.”
Karena itu, perencanaan dan keberanian menurut Dian bukan dua hal yang bertentangan. Seorang perempuan dapat berhati-hati sekaligus berani mengambil keputusan. “Jadi tetap harus planning dengan baik tapi jangan takut melangkah,” katanya.
