Diet DEBM Lagi Tren, Ini Risiko Jika Menerapkan Pola Makan Rendah Karbohidrat

20 Oktober 2020 11:23 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan diet DEBM. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan diet DEBM. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Belum lama ini, diet DEBM (Diet Enak Bahagia Menyenangkan) tengah populer karena diklaim bisa menurunkan berat badan hingga 2 kilogram dalam seminggu. Menariknya, orang yang menjalani diet ini juga masih tetap bisa makan enak setiap saat tanpa harus olahraga apalagi minum obat.
ADVERTISEMENT
Diet yang dipopulerkan oleh Robert Hendrik Liembono ini memandang karbohidrat sebagai nutrisi yang harus dihindari. Pasalnya, karbohidrat dinilai sebagai penyumbang kalori terbesar yang bisa memicu berat badan.
Sebagai gantinya, pelaku DEBM diminta untuk mengonsumsi makanan yang tinggi protein hewani pada pagi dan malam hari. Selain itu, diet ini juga tidak melarang Anda untuk mengonsumsi makanan tinggi lemak serta penggunaan penyedap rasa seperti garam dan MSG. Dengan demikian, makanan yang digoreng sekalipun tetap bisa Anda konsumsi selama menjalani diet ini.

Potensi risiko jangka pendek & panjang menerapkan diet rendah karbohidrat

Meski digadang-gadang ampuh untuk menurunkan berat badan, ternyata DEBM juga sangat mungkin memunculkan beberapa efek samping dan potensi risiko bagi kesehatan. Pasalnya, tubuh hanya menerima asupan karbohidrat yang lebih sedikit ketimbang lemak dan protein.
ADVERTISEMENT
Dijelaskan oleh dr. Juwalita Surapsari, M. Gizi, Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik yang berpraktik di RS Pondok Indah - Pondok Indah, bahwa keamanan diet rendah karbohidrat tergantung pada seberapa ketat seseorang melakukan pembatasan asupan karbohidratnya.
“Kalo karbohidratnya sangat rendah sampai dia tidak makan sayur, buah, dan kacang-kacangan, bisa memicu efek jangka pendek yaitu keluhan sakit kepala. Sebab karbohidrat kan mengandung glukosa, dan glukosa merupakan sumber energi utama untuk otak,” kata dr. Juwalita dalam webinar Weight Loss Diet: Mana yang Terbaik, pada Rabu (14/10).
Ilustrasi sakit kepala Foto: Shutterstock
Selain sakit kepala, dr. Juwalita juga menyebut bahwa efek jangka pendek menerapkan diet rendah karbohidrat adalah memicu dehidrasi dan kesulitan buang air besar (BAB). “Karena tidak makan sayur, buah, kacang-kacangan, hingga whole grain, maka seseorang akan kekurangan serat. Efeknya apa? Salah satunya adalah susah BAB,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Selain beberapa efek samping di atas, ternyata dr. Juwalita juga menyebut bahwa efek jangka panjang jika seseorang menerapkan diet rendah karbohidrat adalah meningkatkan risiko kematian.
“Berdasarkan jurnal kesehatan tahun 2018 tentang studi rendah karbohidrat, disebutkan bahwa efek jangka panjang dari diet rendah karbohidrat bisa meningkatkan angka kematian lebih tinggi dibandingkan mereka yang melakukan diet seimbang,” papar dr. Juwalita.
Ilustrasi diet sehat Foto: Shutterstock
Nah Ladies, dibanding menghentikan konsumsi karbohidrat, dr. Juwalita justru menyarankan Anda untuk membatasi saja porsinya agar tidak menambah kalori pada tubuh. Selain itu, Anda juga bisa memilih jenis karbohidrat yang sehat (seperti beras merah, biji-bijian, dan lainnya) untuk mencegah berat badan naik sekaligus terhindari dari efek samping DEBM.
“Daripada menerapkan diet rendah karbohidrat, lebih baik menerapkan diet seimbang dengan mengonsumsi 50 persen karbohidrat. Diet seperti ini jauh lebih aman,” tutup dr. Juwalita.
ADVERTISEMENT
----
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)