Emily in Paris Sedang Trending di Netflix, Ini Pendapat orang Prancis

Serial Netflix terbaru, Emily in Paris, tengah mendulang kepopuleran di seluruh dunia. Serial ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Emily (diperankan oleh Lily Collins) yang bekerja di sebuah agensi iklan di Chicago, Amerika Serikat, kemudian ditugaskan untuk bekerja di kantor agensi Savoir yang berada di Paris karena menggantikan bosnya yang ternyata tengah hamil.
Serial yang terdiri dari 10 episode ini banyak mengangkat adegan yang berlatar belakang kota Paris. Termasuk pula interaksi Emily dengan orang-orang Prancis yang menjadi rekan kerjanya, tetangga di apartemennya, hingga gaya hidup yang dijalankannya di Paris. Tak hanya itu, serial ini pun menyorot bagaimana menjadi seorang pekerja di Prancis, yang harus bekerja dengan keterbatasan bahasa karena Emily tak bisa berbahasa Prancis.
Ketika mayoritas penonton mengagumi akting Lily Collins dan jalan cerita yang sederhana namun menarik perhatian karena visualnya, sayangnya, orang Prancis sendiri memiliki pendapat berbeda tentang serial ini. Mengutip The Local, kritikus film Prancis dalam situs 20 Minutes mengatakan bahwa serial ini tidak menarik dan sama sekali tidak menggambarkan kehidupan orang-orang yang tinggal di Paris.
"Topi Baret, croissants, pelayan dan petugas resepsionis yang pemarah, flirting dan perempuan simpanan. Cari quote yang cliche tentang Prancis dan orang-orang, Anda akan menemukan semuanya di Emily in Paris," tulis kritikus tersebut.
Penasaran apa saja yang membuat orang Prancis menganggap serial Emily in Paris tidak menarik dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup di kota tersebut?
1. Apartemen yang terlalu besar
Apartemen Emily dideskripsikan sebagai chambre de bonne, yakni salah satu tipe apartemen terkecil di Paris yang terletak di lantai atas sebuah apartemen dengan bangunan tua. Dulunya, apartemen berjenis ini sering disebut-sebut sebagai 'apartemen yang menjadi tempat tinggal asisten rumah tangga'. Namun kini, apartemen tersebut banyak yang dijadikan apartemen studio.
Walau dideskripsikan sebagai chambre de bonner, namun dalam serial tersebut apartemen Emily dianggap terlalu mewah, dia memiliki kamar tidur dan ruang tamu yang terpisah. Menurut review dari Le Parisien, apartemen yang ditempati Emily setidaknya berukuran 20 meter persegi, terlalu besar untuk ukuran apartemen chambre de bonne yang hanya memiliki luas 10 hingga 15 meter persegi.
2. Orang-orang Prancis digambarkan kasar dan sombong
Majalah lokal Prancis, MadmoiZelle, mengkritik bahwa serial ini membuat image orang Paris terlihat kasar dan sombong. Benarkah demikian?
Menurut Le Parisien, orang-orang di Paris memang kerap dianggap sebagai orang yang sombong dan tidak sopan. Tak hanya kepada orang asing, tetapi juga sesama warga Prancis lainnya yang sering mengeluh bahwa penduduk Paris kasar dan sombong. Bahkan, ada ucapan yang mengatakan bahwa 'Parigot tête de veau', yang secara kasar diterjemahkan sebagai 'orang Paris menyebalkan'
Namun dalam serial tersebut, justru banyak orang-orang Prancis yang membantunya. Misalnya saja Gabriel, tetangga yang tinggal di lantai bawah apartemen Emily atau Camille, perempuan yang ditemui Emily saat ia kesulitan berkomunikasi dengan penjual bunga. Bahkan para rekan kerja Emily yang merupakan orang Prancis asli pun, masih membantunya dengan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
3. Orang Prancis dianggap pemalas
Ada salah satu adegan yang memperlihatkan Emily tiba di kantornya pukul 8.30 pagi. Namun saat itu, pintu kantornya masih dikunci dan ia harus menunggu hingga dua jam lamanya. Rupanya, kantor tempatnya bekerja baru beroperasi pukul 10.30 dan selesai bekerja sebelum matahari terbenam, bahkan atasan Emily yang bernama Sylvia baru datang ke kantor pukul 11 siang. Adegan ini mengisyaratkan bahwa orang-orang Prancis dianggap pemalas dalam bekerja.
Kenyataannya Prancis memang memiliki waktu bekerja yang lebih sebentar (dibandingkan dengan Amerika) dan banyak mendapatkan hari libur nasional sehingga banyak penduduknya yang bisa merencanakan liburan dalam jangka waktu lama. Tetapi, mereka lebih mengutamakan tingkat produktivitas daripada memikirkan waktu bekerja asalkan pekerjaan yang dilakukan selesai sebelum tenggat waktu.
Hal ini sesuai dengan filosofi masyarakat Prancis 'bekerja untuk hidup, daripada hidup untuk bekerja'. Persis seperti yang disampaikan Luc, salah satu rekan kerja Emily.
4. Menampilkan kota Paris terlalu bersih dan apik
Mayoritas kritik yang dilontarkan oleh masyarakat Paris saat menonton serial ini adalah latar belakang yang ditampilkan terlihat sangat bersih dan seolah tertata apik. Emily in Paris hanya melakukan syuting di lokasi-lokasi ikonis nan fotogenik di sudut kota Paris, sehingga 'wajah' Paris asli yang banyak grafiti jalanan, sampah berserakan di jalan hingga bangkai tikus tergeletak di jalan justru tidak ditampilkan.
"Dengan latar belakang kota Paris yang ditampilkan sebersih ini, penduduk Prancis akan sulit mencari kesamaan antara kehidupan nyata mereka dengan serial ini," kata seorang penyiar di stasiun radio Paris, RTL.
5. Menampilkan stereotip lelaki Prancis yang gemar selingkuh
Hal lainnya yang tak disukai orang-orang Prancis tentang serial ini adalah stereotip bahwa semua pria Prancis adalah 'hidung belang' dan suka selingkuh. Cerita ini tergambar oleh salah satu klien di kantor Emily yang bernama Antoine, merupakan seorang pengusaha brand mewah dan sudah beristri, namun rupanya malah berselingkuh dengan Sylvie, atasan Emily. Antoine pun juga berusaha mendekati Emily namun ia menolaknya dengan halus.
"Pria Prancis juga digambarkan sebagai kekasih yang tak pernah puas di ranjang. Bahkan semua pria yang mendekati Emily, selalu berusaha untuk merayunya. Ini memalukan dan sangat klise. Menjengkelkan," demikian tutur kritikus film Le Parisien.
Ladies, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?
