Kumparan Logo

Hal yang Harus Dilakukan untuk Lindungi Diri dari Kekerasan terhadap Perempuan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi melindungi diri dari kekerasan pada perempuan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi melindungi diri dari kekerasan pada perempuan. Foto: Shutterstock

Kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di sekitar kita, Ladies. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga memaparkan bahwa satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan, non-pasangan, atau keduanya, setidaknya sekali dalam hidupnya. Serupa dengan kondisi global, satu dari tiga perempuan Indonesia berusia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dalam hidupnya.

Fakta tersebut disampaikan dalam diskusi yang digelar oleh Yayasan Care Peduli (YCP) dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, UN Women, beberapa waktu lalu.

Melihat fakta tersebut, kamu sebagai perempuan tentu ingin bisa melindungi diri dari berbagai tindak kekerasan. Namun, bagaimana caranya?

Dalam program Sister of Soul (SOS) kumparanWOMAN bertajuk Berani Sepak Up Soal Kekerasan terhadap Perempuan, Kalis Mardiasih, Penulis & Gender Equality Caimpaigner memaparkan cara melindungi diri dari tindak kekerasan.

Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan perempuan adalah memahami definisi kekerasan. “Karena kadang-kadang misalnya kamu dikata-katain orang, misalnya dikata-katain pacar gitu, misalnya dibilang tidak becus dan lainnya. Kalau kamu tidak memahami definisi apa itu kekerasan, biasanya kamu justru akan menginternalisasi (menghayati) itu. Merasa diri tidak becus, tidak berguna, dan lainnya,” ujarnya.

Bila sudah memahami definisi kekerasan, kamu akan menyadari tindak kekerasan yang dilakukan orang lain kepada kamu. “Kamu akan menyadari itu kekerasan dan aku adalah korban. Dia adalah pelaku kekerasan, diriku berharga, dan tidak ada seseorang pun yang boleh melakukan kekerasan kepadaku. Akan berbeda dampaknya ketika kamu mengetahui definisi kekerasan seksual,” tutur Kalis.

Lebih lanjut, ia pun menyatakan bahwa ada empat jenis kekerasan terhadap perempuan, yakni kekerasan verbal, kekerasan mental atau psikis, kekerasan ekonomi, dan kekerasan fisik. “Di dalam kekerasan fisik ada yang kita sebut sebagai kekerasan seksual yang akhir-akhir ini terus diperbincangkan oleh banyak orang,” ungkap Kalis.

Berlatih komunikasi asertif

Selain memahami definisi kekerasan, kamu juga perlu belajar komunikasi asertif. Menurut Kalis, komunikasi asertif adalah menyampaikan apa yang kamu butuhkan dan inginkan secara tegas.

Misalnya, ketika di jalan atau di transportasi umum, ada laki-laki di samping kamu laki-laki yang menggesekkan paha. Kamu tahu bahwa itu adalah pelecehan seksual dan merasa tidak nyaman.

“Kalau kamu punya skill komunikasi asertif itu, kamu langsung bisa bilang ke dia, ‘Mas/Pak mohon maaf, saya tidak nyaman dengan tindakan ini. Tolong berhenti kalau tidak saya teriak’,” ucap kalis.

Menurutnya, kemampuan komunikasi asertif sangat penting. Hal ini juga bisa diterapkan bila kamu mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau relasi romantis dengan pasangan.

Jika pasangan sudah mencaci maki, misalnya, kamu harus bisa menjawab dan jangan diam saja. Pasangan yang mencaci maki adalah pasangan yang sudah melakukan kekerasan verbal. Bila kamu diam saja atau menangis saat dicaci maki, orang tersebut justru akan merasa lebih berkuasa atas kamu.

Ia menegaskan, “Ketika dia mencaci maki, kamu harus bisa membalas. Karena pelaku kekerasan biasanya terus-menerus melakukan kekerasan karena dia merasa punya kuasa yang lebih. Tapi ketika kamu dicaci maki dan kamu bisa menjawab, kemampuan untuk mempertahankan harga diri dan membalas itu, itu meruntuhkan power yang merasa dia miliki.”