Herawati Supolo-Sudoyo Ungkap Kiat Jadi Perempuan Peneliti Besar
·waktu baca 2 menit

Ada begitu banyak pilihan profesi di dunia dan perempuan dapat berkiprah di bidang apa pun, termasuk bidang yang selama ini kerap diasosiasikan dengan laki-laki seperti sains. Perempuan juga memiliki potensi besar untuk berkontribusi di industri sains dan bisa menghasilkan inovasi baru.
Salah satu perempuan peneliti Indonesia yang namanya sudah sangat dikenal publik adalah Wakil Kepala Lembaga Eijkman, Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S, Ph.D. atau yang akrab disapa Hera.
Sebagai peneliti, Hera telah meraih sederet prestasi dan penghargaan, mulai dari Toray Foundation Research Awards (1991-1992), UNESCO/Third World Academy of Science (TWAS) fellowship on Human Genome Program (1992), Riset Unggulan Terpadu Grant (1993-1996), dan masih banyak lagi.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang memberikan terobosan besar dalam mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia pada tahun 2004. Ia memperkenalkan kepada masyarakat bahwa penelitian mendasar yang dilakukan di laboratorium dapat langsung digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dan kepentingan nasional. Atas kiprahnya itu, Hera mendapat penghargaan Wing Kehormatan POLRI pada tahun 2007.
Hera merupakan salah satu sosok ilmuwan perempuan yang memiliki peran penting di tengah pandemi ini. Sebagai Wakil Kepala Lembaga Eijkman, Hera memastikan bahwa laboratorium yang ia pimpin melakukan penelitian sejalan dengan penanganan pandemi.
Karena peran dan kontribusinya dalam penanganan COVID-19 di Indonesia khususnya terkait Health & Science, kumparanWOMAN memberikan penghargaan She Inspires Award kepada Hera pada Desember 2021.
Baginya, ada satu kunci agar peneliti, khususnya perempuan, bisa menjadi sosok yang besar. “Kunci dari menjadi peneliti besar adalah bahwa kamu tidak pernah berhenti. Sekali kita berhenti, kita akan ketinggalan, dan kita akan sulit untuk mengejar kembali,” ujar Hera saat ditemui kumparanWOMAN di Lembaga Eijkman, November lalu.
Menurutnya, terus berkarya adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh karena berkiprah di dunia sains membutuhkan komitmen. Tanpa komitmen, sains tidak akan berhasil. Ucapannya ini juga merujuk pada perempuan peneliti yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.
“Kalau kita berkomitmen, kita pasti bisa untuk membagi waktu kita seimbang. Karena itu memerlukan sesuatu kekuatan dan komitmen yang besar. Masalahnya, kelihatannya komitmen untuk mengembangkan karier itu yang tertahan. Tetapi bagaimanapun juga tetap membutuhkan dukungan dan dorongan dari keluarga,” ungkapnya.
