Indah Shafira, Perempuan Lampung yang Punya Misi Majukan Akses Pendidikan Daerah

16 Agustus 2021 10:44
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Indah Shafira, perempuan Lampung yang punya misi majukan akses pendidikan daerah. Foto: Dok. Indah Shafira
zoom-in-whitePerbesar
Indah Shafira, perempuan Lampung yang punya misi majukan akses pendidikan daerah. Foto: Dok. Indah Shafira
ADVERTISEMENT
Kamu mungkin tidak mengenal nama Indah Shafira (25). Namun, bila mencari tips kuliah S2 di Harvard University di YouTube, kamu pasti akan menemukan videonya. Perempuan kelahiran Bandar Lampung ini memang aktif membagikan konten edukasi di media sosial.
ADVERTISEMENT
Indah telah menyelesaikan pendidikan S2 jurusan International Education Policy di Harvard University, Amerika Serikat (AS) pada Juni 2020. Sebelumnya ia juga menyelesaikan S1 nya di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) Beppu, Prefektur Oita, Jepang.
Bagi Indah, menyelesaikan sekolah di luar negeri menjadi impian besarnya sejak dulu. Indah terpacu lantaran melihat kakak-kakak kelasnya yang menjadi role model-nya. Di masa terakhir kuliah S1, Indah pun terinspirasi oleh salah satu tokoh politik perempuan muda di Amerika Serikat, yakni Alexandria Ocasio-Cortez.
“Aku banyak belajar dari dia, karena dia juga background-nya mungkin mirip-mirip. Aku jadi bisa relate, bahwa dia dari working group, pernah kerja part time di restoran, dia bukan orang mayoritas, sementara aku juga bukan dari Pulau Jawa. Tapi semangat dan usahanya untuk memperjuangkan hak-hak orang minoritas, hak perempuan itu luar biasa,” ujar Indah dalam wawancara dengan kumparanWOMAN.
ADVERTISEMENT
Kini, Indah bekerja di lembaga keuangan internasional World Bank atau Bank Dunia, sebagai research analyst. Bekerja di organisasi bergengsi sekelas Bank Dunia, Indah mengaku memiliki misi pribadi untuk bisa memberikan dampak besar Indonesia, khususnya dalam ranah pendidikan. Ini juga sejalan aspirasinya untuk bisa membantu menghapus kesenjangan akses pendidikan di tanah air. Inilah yang membuat Indah pun tak henti membagikan konten edukasi di berbagai platform media sosial.
Belum lama ini, ia juga hadir dalam sebagai pembicara di program Sister of Soul (SOS), yang digelar secara virtual lewat IG Live di platform Instagram kumparanWOMAN.
Di situ, ia bercerita tentang pengalamannya bersekolah di luar negeri, mulai dari S1 di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) Beppu, Prefektur Oita, Jepang, hingga S2 di Harvard University.
ADVERTISEMENT
Kepada kumparanWOMAN, Indah Shafira juga berbagi lebih jauh tentang tantangan di pekerjaan pertamanya dan misi pribadinya. Penasaran seperti apa? Mari simak penuturannya berikut ini.

Siapa yang menginspirasi atau menjadi role model Indah, sehingga bisa bekerja di Bank Dunia?

Sebenarnya role model saya ganti-ganti terus. Ketika SMP, saya punya role model orang yang lebih senior. Saat SMA, ada juga kakak kelas yang jadi role model saya. Pada saat kuliah, saya melihat banyak kakak kelas. Terakhir-terakhir ini, saya lebih banyak melihat tokoh-tokoh politisi perempuan. Salah satunya, Alexandria Ocasio-Cortez atau yang dikenal AOC, yang mungkin sangat vokal. Dia salah satu legislatif, kalau di Indonesia DPR mungkin, ya. Dia representatif dari New York.
Saya banyak belajar dari dia. Karena dia juga background-nya mungkin mirip-mirip, saya jadi bisa relate. Dia dari working class, pernah kerja part time di restoran, people of color, bukan orang mayoritas, sementara saya juga bukan dari Pulau Jawa. Saya tidak dibesarkan di kota besar seperti Jakarta. Tapi, semangat dan usahanya untuk memperjuangkan hak-hak orang minoritas, hak perempuan itu luar biasa. Jadi, saya banyak belajar dari tokoh-tokoh politisi perempuan seperti dia.
Indah Shafira, perempuan Lampung yang punya misi majukan akses pendidikan daerah. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Indah Shafira, perempuan Lampung yang punya misi majukan akses pendidikan daerah. Foto: Dok. Istimewa

Apa tantangan yang Indah hadapi saat memulai karier di Bank Dunia?

Ini pertama kali saya bekerja full time, benar-benar 40 jam dalam waktu seminggu. Di awal, saya agak harus adapt banget, karena sebelum-sebelumnya saya kerja part time sehari cuma empat atau tiga jam. Tahun lalu juga lumayan challenging, karena dalam bekerja, saya lebih senang kenal sama orang-orangnya. Ada bonding dan trust yang terbangun antara saya dengan kolega.
ADVERTISEMENT
Cuma karena lagi pandemi, saya sama sekali tidak pernah ke kantor dan tidak pernah ketemu kolega. Kalau meeting kantor secara online, jarang sekali yang mengaktifkan kamera. Saya mengenal baik tim kecil saya saja dari suaranya. Jadi, tidak ada bonding yang terbangun, tidak ada lunch bareng, atau tidak ada basa-basi bertemu di hallway atau pantry.

Apa saja pekerjaan Indah setiap hari sebagai research analyst di Bank Dunia?

Pekerjaan saya riset. Jadi setiap hari, pagi-pagi suka ada meeting, terus nanti siang saya mulai baca data. Saat ini saya mengerjakan tiga riset, yang pertama riset tentang evaluasi dampak training guru online, terus kedua tentang school related gender based violence di Indonesia, dan yang baru saya join ini tentang madrasah reform. Saya sendiri lebih banyak menulis report, survei, baseline study, dan lain-lainnya, kemudian saya analisis datanya.
ADVERTISEMENT

Walaupun bekerja WFH selama pandemi, bagaimana cara Indah untuk terus meningkatkan performa?

Kita itu perlu sekali professional development. Walaupun sudah diterima di suatu perusahaan, kita tetap harus berkembang dan memperluas network. Nah, ini yang sangat sulit dilakukan saat pandemi.
Saya akhirnya belajar. Tahun lalu, saya mulai reach out orang-orang. Saya minta waktu mereka 10-15 menit untuk mengobrol, bertanya secara online, belajar dari mereka. Namun, jangan datang dengan tangan kosong. Saya biasanya riset dulu orangnya seperti apa. Nah, kebanyakan dari mereka menjawab boleh. Saya bilangnya ini virtual coffee time.
Jadi, kita tidak bisa jadikan pandemi sebagai alasan untuk bersantai dan tidak perlu networking. Salah. Teman-teman tetap fokus ke profesional growth-nya dan mencoba berkenalan dengan orang lain di luar tim.
ADVERTISEMENT

Indah kuliah S1 dan S2 di universitas luar negeri, bagaimana Ilmu yang Indah dapatkan bisa berkontribusi untuk pekerjaan di organisasi internasional?

Saya belajar untuk punya growth mindset. Saya jadi punya pemikiran yang terbuka terhadap saran atau kritik saat diskusi. Saat menempuh S2, saya lumayan shock. Ketika datang ke kelas kita diharapkan sudah menjadi gelas setengah penuh atau kadang gelas penuh, yang siap berbagi air ke teman-teman kita, bahkan ke profesor.
Jadi, memang saya belajar banget untuk selalu be prepare before you meet someone, before the meeting. Jadi ketika kuliah di Harvard, misalnya ada kelas dua jam, saya persiapannya bisa lima sampai enam jam. Saya harus belajar banyak sekali jurnal dan bikin artikel, sehingga saya sudah tahu mau diskusi apa di kelas.
ADVERTISEMENT
Itu jadi ada efeknya. Sekarang sebelum bertemu orang atau meeting, saya benar-benar harus siap dan belajar dulu. Nilai-nilai yang saya dapatkan pada saat saya kuliah, yaitu selalu terbuka saat diskusi, punya growth mindset, open minded, dan critical thinking itu sendiri.

Apa prinsip Indah dalam membangun karier?

Menurut saya, perempuan mau berkarier, berkeluarga, atau fokus mendidik anak, itu hak perempuan untuk memilih. Banyak orang-orang yang saya kenal, yang sangat berprestasi dan berpendidikan tinggi, begitu menikah, memutuskan untuk fokus mendidik anak. Itu banyak dan jadi bagus banget. Jadi mama-mama pintar yang mengambil course montessori dan bikin anaknya jadi pintar banget.
Perempuan mau berkarier, berkeluarga, atau dua-duanya, asalkan itu sesuatu yang baik buat dirinya dan dia bahagia menjalankannya, menurut saya tidak masalah. Asalkan, jangan keputusan yang dia ambil itu disuruh society, atau untuk memenuhi apa yang orang-orang di sekeliling dia mau.
Banyak juga orang yang menyayangkan pilihan saya karena sudah kuliah S2 di Harvard, fokus berkarier dan belum menikah. Mereka bilang nanti susah (dapat jodoh). Saya sedang coba buktikan bahwa kita kadang tidak perlu mengikuti stereotip yang ada.
ADVERTISEMENT

Melihat pencapaian yang sudah Indah tempuh hingga saat ini, apakah Indah punya mimpi yang belum dan ingin dicapai?

Kalau menyesuaikan sama yang saya tulis buat esai LPDP, saya rencananya sih 10-15 tahun lagi mau jadi Menteri Pendidikan. Apa yang aku lakukan sekarang itu memang menuju ke sana.
Saya sekarang benar-benar jadi practitioner yang ke lapangan, paham bagaimana risetnya, sebelum saya siap di posisi mengambil keputusan untuk kebijakan tertentu, atau pada saat saya bekerja di Kemendikbud, atau lain-lain. Mungkin menuju ke sana.

Tapi ada target di usia berapa?

ADVERTISEMENT
Kalau mengikuti planning hidup yang suka dibikin, mau sebelum 40 tahun, 35 sampai 40 tahun.

Jadi Menteri Pendidikan?

Ini pressure nih, pressure (tertawa).
ADVERTISEMENT

Apa Indah punya mimpi lain yang ingin dicapai?

Menjadi Menteri Pendidikan sebenarnya bukan tujuan akhir. Itu mungkin salah satu cara. Tapi misi pribadi saya sendiri, saya sangat ingin close the gap untuk pendidikan. Gap pendidikan di antara anak-anak daerah dengan anak-anak kota itu sangat berbeda. Hal ini semakin diperparah oleh pandemi COVID-19.
Belum lagi the nature of geography. Sangat sulit untuk bisa memastikan anak-anak yang ada di daerah terisolasi untuk punya akses pendidikan yang sama. Jadi mimpi saya, yaitu ingin akses pendidikan di daerah-daerah terpencil, daerah 3T, di pulau terpencil ini bisa disamakan.
Salah satu caranya adalah dengan saya berada di posisi yang bisa punya power buat kebijakan, bisa jadi menteri, atau di posisi lainnya. Ada banyak posisi strategis untuk membangun kebijakan yang lebih baik buat Indonesia, terutama pendidikan.
ADVERTISEMENT

Indah punya pesan-pesan untuk perempuan lain yang mungkin memiliki mimpi yang sama, tapi takut untuk memulai dan takut tidak bisa berkembang?

Menurut saya, perempuan jangan takut bermimpi. Cita-cita itu setinggi-tingginya. Kedua, mimpi saja tidak cukup. Kamu perlu who, siapa. Ini yang penting. Jadi selain kamu tahu what do you wanna be, what do you want, kamu harus tahu who do you wanna be.
Jadi kamu harus punya role model. Misalnya, kamu mau jadi politisi, lihat politisi mana yang mau jadi role model kamu, bagaimana cara dia bisa jadi seperti itu, ikuti langkah-langkah yang dia lakukan, kalau bisa jadi lebih baik. Jadi, jangan takut bermimpi. Fight what do you want. Kedua, who do you wanna be.
ADVERTISEMENT