Kumparan Logo

Indonesia–Australia Dorong Kepemimpinan Perempuan dalam Sains lewat KONEKSI

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Panel diskusi antara Indonesia dan Australia soal partisipasi perempuan dalam sains, Selasa (20/2/2024). Foto: Kedutaan Besar Australia
zoom-in-whitePerbesar
Panel diskusi antara Indonesia dan Australia soal partisipasi perempuan dalam sains, Selasa (20/2/2024). Foto: Kedutaan Besar Australia

Indonesia dan Australia sudah lama menjalin kerja sama di berbagai bidang, salah satunya dalam pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Nah, baru-baru ini, kedua negara semakin memperkuat kemitraan dalam mendukung pemberdayaan perempuan di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (Science, Technology, Engineering, Mathematics/STEM).

Pada Selasa (20/2), Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia menggelar diskusi panel bertajuk “Mendobrak Batasan: Kepemimpinan Perempuan di Bidang Sains dan Penelitian”, sebagai bentuk perayaan International Day of Women and Girls in Science yang jatuh pada 11 Februari lalu.

Sesi diskusi tersebut merupakan bagian dari program inisiatif antara Indonesia dan Australia bernama Platform Kemitraan Pengetahuan (KONEKSI). Diskusi ini diselenggarakan bersama Kemitraan Indonesia–Australia untuk Infrastruktur (KIAT) dan Australia Awards Indonesia.

Panel diskusi antara Indonesia dan Australia soal partisipasi perempuan dalam sains, Selasa (20/2/2024). Foto: Kedutaan Besar Australia

KONEKSI merupakan program kolaboratif antara organisasi-organisasi di Australia dan Indonesia yang berpusat di sektor penelitian dan inovasi. Fokus dari program ini adalah mendorong kebijakan dan teknologi yang inklusif dan berkelanjutan.

Fokus dari acara ini adalah menekankan pentingnya kepemimpinan perempuan dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam bidang STEM demi mengatasi kesenjangan gender.

Wakil Duta Besar Australia, Steve Scott, menegaskan pentingnya kehadiran pemimpin perempuan di bidang STEM. Menurut Steve, pemimpin perempuan dalam sains dapat menjadi panutan yang nyata bagi para perempuan dan anak perempuan.

Panel diskusi antara Indonesia dan Australia soal partisipasi perempuan dalam sains, Selasa (20/2/2024). Foto: Kedutaan Besar Australia

“(Karena) kita tidak dapat menjadi sesuatu yang tidak bisa kita lihat,” ucap Steve, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Kedutaan Besar Australia.

Bidang STEM sendiri kerap kali dianggap sebagai “bidang yang maskulin” dan masih didominasi laki-laki. Menurut UN Women, partisipasi perempuan di STEM masih sangat rendah, yakni di angka 29,2 persen. Sementara itu, perempuan yang bekerja di bidang non-STEM mencapai 49,3 persen.

Menurut Steve, rendahnya partisipasi perempuan di bidang sains bisa berdampak buruk bagi kesetaraan gender. Kurangnya jumlah perempuan di STEM bisa menyebabkan kesenjangan pengetahuan hingga rendahnya tingkat kemampuan penelitian dan inovasi.

Panel diskusi tersebut dihadiri oleh sejumlah ahli, yakni CEO Science in Australia Gender Equality (SAGE), Dr Janin Bredehoeft; Sekretaris Jenderal Kemendikbud RI, Ir Suharti; Associate Professor Program Teknik Sipil dan Lingkungan UI, Cindy Priadi; dan Profesor Corina Riantoputra dari program KIAT.

Panel diskusi antara Indonesia dan Australia soal partisipasi perempuan dalam sains, Selasa (20/2/2024). Foto: Kedutaan Besar Australia

Kerja sama pemberdayaan perempuan antara Australia dan Indonesia

Beberapa waktu lalu, dalam wawancara eksklusif bersama kumparanWOMAN, Duta Besar Australia untuk Indonesia H.E Penny Williams menyebut bahwa Australia memiliki berbagai program kemitraan yang berlensa gender. Dalam kata lain, program-program Australia dan Indonesia ini turut memperhatikan pemberdayaan dan kesejahteraan perempuan yang terlibat.

“Kami memiliki kemitraan pembangunan bersama Indonesia senilai AUD 320 juta (Rp 3,2 triliun) setiap tahunnya. Kami berkontribusi kepada Indonesia sebagai bagian dari dukungan pembangunan kami. 80 persen dari program-program tersebut harus memiliki fokus gender. Kami memastikan bahwa seluruh program kemitraan itu mempertimbangkan gender,” ucap Penny Williams.

Tak hanya di bidang STEM, Penny mengatakan, Australia dan Indonesia memiliki program untuk memberdayakan perempuan di bidang ekonomi lewat pemberdayaan UMKM bernama Invest in Women.