Industri Kreatif Jadi Sektor yang Tak Pandang Gender, Perempuan Bebas Berkarya
·waktu baca 4 menit

Di zaman yang serba digital, ekonomi dari kekayaan (intellectual property/IP) karya kreatif ikut tumbuh. Pemerintah pun turut mendorong laju ekonomi kreatif melalui film, animasi, dan video agar terus berkembang dan jadi alat pertumbuhan yang baru.
"Industri kreatif adalah sektor yang cukup menjanjikan. Secara historis, kita selalu melihat kekuatan dari sumber daya alam dan sumber daya manusia (SDM) namun tanpa kita sadari—kita memiliki kekuatan super di kreativitas,” ujar Irene Umar Wakil Menteri Ekonomi Kreatif saat talkshow IP Expo Indonesia 2026 pada Kamis (4/4) di Kempinski Grand Ballroom.
Ia menambahkan bahwa selama ini orang menganggap kreativitas merupakan sekadar hobi atau hal yang dilakukan untuk bersenang-senang. Padahal kreativitas dapat digabung dengan nilai ekonomi dan membuka peluang karier yang luas.
Melihat hal ini, Djarum Foundation pun turut membantu anak muda untuk memiliki talenta kreatif yang menjual di industri kerja. Caranya adalah bermitra dengan SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus yang fokus dengan dunia animasi dengan kurikulum berstandar industri.
“Dalam mengembangkan talenta kreatif, kualitas SDM menjadi kunci. Di tingkat pendidikan, yang berkualitas tak hanya murid, tapi juga guru dan kepala sekolah. Hal ini bertujuan agar guru dan kepala sekolah mengetahui nilai jual skill anak didiknya dan setelah lulus punya keterampilan yang mumpuni,” ujar Galuh Paskamagma Program Manager Djarum Foundation.
Oleh karena itu, Djarum Foundation akan melatih para guru dan kepala sekolah untuk memiliki pengetahuan soal industri kreatif. Nantinya ilmu yang didapat akan disalurkan ke para siswa.
Fasilitas yang disediakan oleh SMK RUS Kudus juga terbilang memadai, mulai dari ruang studio lengkap dengan perangkat komputer untuk proses produksi animasi. Selain itu, ada juga area istirahat yang didesain senyaman mungkin agar siswa dapat melepas penat dan menggali ide kreatif.
“Di sini (SMK RUS Kudus) juga sudah dilengkapi fasilitas untuk mereka berkumpul, seperti ruang istirahat yang nyaman dan area tribun untuk berdiskusi serta memancing ide-ide kreatif mereka sendiri,” ujar Imayase produser di SMK RUS Kudus saat ditemui oleh kumparanWOMAN.
Industri kreatif tak pandang gender, 70 persen siswa SMK RSU Kudus adalah perempuan
Irene mengatakan bahwa industri kreatif tidak memandang gender, sehingga perempuan memiliki kebebasan untuk berkarya di sektor ini. Sebab, penilaian diberikan berdasarkan kualitas karya yang dihasilkan, bukan latar belakang maupun gender seseorang.
“Industri ini terbuka dan semuanya bergantung pada karya yang kamu hasilkan, serta sejauh mana karya itu bisa menjangkau orang lain. Misalnya, ketika kami melihat karya baru, kami tidak pernah bertanya apakah karya itu dibuat oleh perempuan atau laki-laki. Kami hanya jatuh cinta pada karyanya,” ucap Irene.
Meski demikian, Galuh mengatakan bahwa masih ada stigma negatif yang menyelimuti perempuan untuk tidak bekerja. Padahal banyak perempuan di industri kreatif yang luar biasa menurut Galuh.
Kesempatannya sangat luas, tapi terkadang perempuan terhalang dengan stigma: ‘oh perempuan tidak usah bekerja, ‘perempuan tidak usah berotak-atik dengan komputer atau software’, ‘perempuan seharusnya di dapur’. Tapi justru sebenarnya banyak sekali yang bisa membuktikan bahwa perempuan punya kesempatan yang luas lagi dengan ide-ide mereka,” tandas Galuh.
Galuh menambahkan bahwa di SMK RUS Kudus, 70 persen siswanya adalah perempuan. Hal ini mencerminkan semangat perempuan yang tinggi untuk masuk di industri kreatif.
Seiring perkembangan zaman, kehadiran artificial intelligence (AI) turut menghadirkan tantangan baru di industri kreatif. Meski begitu, siswa di SMK RUS tidak menolak penggunaan AI, melainkan memanfaatkannya secara bijak sebagai alat pendukung tanpa menghilangkan kreativitas manusia.
“Siswa perlu mengikuti perkembangan yang terjadi di industri. Dengan itu, mereka dapat tetap relevan dan unggul, bahkan di tengah perkembangan digital, termasuk AI. Meski demikian, ada hal-hal seperti taste terkait seni maupun keterampilan spesifik, seperti membuat cerita yang emosional, yang belum dapat digantikan oleh AI,” tambah Galuh.
Saat ini, ada 10 karya yang dihasilkan oleh RUS Animation Studio yang telah membawa nilai ekonomi untuk sekolah mereka. Diantaranya: Nyla, Sabda Alam, Unstring Your Heart, dan animasi Waka Kibo.
