kumparan
23 September 2019 18:28

Ini Hal Positif yang Terjadi pada Tubuh dan Pikiran saat Kita Menangis

Ilustrasi perempuan menangis
Ilustrasi perempuan menangis. Foto: Shutterstock
Menangis menjadi salah satu bentuk refleks tubuh yang terjadi kepada setiap orang. Alasan keluarnya air mata lewat tangisan pun beragam. Bisa karena alasan spontan seperti kelilipan, atau air mata yang lebih personal karena bentuk emosi diri.
ADVERTISEMENT
Air mata memang terbagi menjadi tiga macam. Ada air mata basal, yang membantu mata untuk tetap terhidrasi. Lalu ada air mata refleks, yang biasa muncul karena bentuk respons tubuh, seperti memotong bawang atau masuknya debu ke dalam mata. Dan yang terakhir, air mata emosional yang berhubungan erat dengan perasaan.
Air mata emosional ini adalah salah satu bentuk emosi manusia yang unik. Air mata merupakan bentuk fisik dalam memperlihatkan emosi kita, baik dalam keadaan senang atau sedih.
Ilustrasi perempuan menangis
Ilustrasi perempuan menangis. Foto: Shutterstock
Dikutip Byrdie, uniknya lagi, air mata emosional memiliki komposisi yang berbeda dibandingkan dengan air mata refleks. Ya, air mata emosional mengandung hormon yang secara natural disekresi oleh tubuh untuk menciptakan keseimbangan. Menarik, bukan?
Berikut kumparanWOMAN rangkumkan empat manfaat menangis yang baik untuk tubuh dan pikiran Anda. Apa saja?
ADVERTISEMENT
Menangis membantu Anda melepaskan hormon stres dari dalam tubuh
Saat kita menangis, di saat bersamaan, tubuh turut mengeluarkan hormon stres dan racun-racun lainnya dari dalam. Keluarnya hormon stres ini membuat kita merasa lebih tenang setelahnya.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa air mata emosional mengandung banyak hormon dan protein yang tidak ditemukan di jenis air mata lainnya.
"Air mata emosional membantu kita melepaskan hormon stres dari dalam tubuh saat kita sedih. Maka dari itu, setelah menangis, nafas dan detak jantung kita menjadi lebih stabil. Secara biologis, kita menjadi lebih tenang dan stabil," papar Judit Orloff, M.D., asisten professor psikiatri di University of California.
Menangis membantu kita untuk memproses emosi yang dimiliki
ADVERTISEMENT
"Kita menangis saat kita sedih karena itu adalah cara tubuh memproses dan melepaskan stres. Anda tentunya tidak ingin menampung emosi tidak baik seperti marah, depresi, dan sedih di dalam tubuh. Menangis membantu kita untuk sembuh," papar Judit.
Meski penyebab dari air mata emosional disebabkan oleh hal-hal yang tidak mengenakkan hati, namun respons tangisan ini bisa membuat hati semakin sembuh dan memahami emosi diri.
Ilustrasi perempuan menangis
Ilustrasi perempuan menangis. Foto: Shutterstock
Menangis bisa memunculkan hormon endorfin dalam tubuh
Saat tubuh melepaskan hormon stres dari tubuh, menangis bisa memproduksi hormon 'baik' untuk muncul di dalam tubuh. Hormon-hormon baik tersebut antara lain oksitosin, yang dikenal dengan hormon cinta, juga hormon endorfin yang merupakan hormon pereda nyeri natural.
Menurut American Academy of Opthalmology, air mata emosional juga mengandung kadar Leu-enkephalin yang lebih tinggi, sebuah hormon endorphin yang bisa membantu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan suasana hati.
ADVERTISEMENT
Menangis membantu kita menjalin ikatan lebih baik dengan orang lain
Para ahli mengatakan, bahwa fungsi menangis sebenarnya adalah untuk membuat manusia lebih dekat.
“Menangis membantu kita untuk menjalin hubungan secara lebih personal. Menangis juga jadi bentuk komunikasi secara non-verbal dengan orang lain,” jelas Ashley Brissette, ophthalmologist dari New York.
“Di antara semua teori tentang mengapa manusia menangis, yang paling banyak diterima adalah bahwa itu adalah cara untuk menambah kemampuan kita berkomunikasi di tingkat yang lebih tinggi. Menangis membantu kita mengkomunikasikan keinginan untuk meminta bantuan, menjalin hubungan, atau berbagi momen dengan orang lain. Baik itu dalam bentuk kesedihan atau kebahagiaan," tambahnya.
Jadi Ladies, jika Anda sedang merasa ingin menangis untuk meluapkan perasaan, jangan ragu untuk melakukannya ya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan