kumparan
Woman24 Mei 2019 15:30

Inspiring Hijaber: Khanaan Shamlan Sulap Batik Jadi Modest Wear Cantik

Konten Redaksi kumparan
Inspiring Hijaber Khanaan Shamlan
Khanaan Shamlan, desainer modest wear Indonesia. Foto: dok. Intan Kemala Sari/kumparan
Sepuluh tahun malang melintang di industri fashion Indonesia bukanlah waktu yang singkat bagi desainer Khanaan Shamlan. Tetapi bagi desainer 29 tahun ini, jangka waktu satu dekade rasanya belum cukup untuk terus berkarya dan mewujudkan misi mulianya, yakni mengangkat batik nusantara hingga dikenal di kancah internasional.
ADVERTISEMENT
Lahir dan besar di Pekalongan, Jawa Tengah, Khanaan sudah sangat akrab dengan batik dan seluk-beluknya. Inilah yang membuatnya mantap pindah ke Jakarta dan melanjutkan sekolah mode di ESMOD Jakarta dengan mengangkat batik sebagai materi desainnya.
Awalnya, perempuan yang debut sebagai desainer di usia 19 tahun ini mendesain batik dalam bentuk dress mewah atau adibusana (couture). Namun setelah mantap menggunakan hijab pada 2013 lalu, perlahan koleksi yang dihasilkan berubah menjadi modest wear namun tetap dengan ciri khas desain batik kontemporer.
Konsistensi Khanaan dalam mendesain batik menjadi busana hijab friendly membuatnya dikenal sebagai salah satu desainer modest wear Tanah Air yang patut diperhitungkan. Bahkan berkat koleksi batik kontemporernya ini, ibu tiga anak ini berkesempatan memamerkan karyanya pada pameran seni yang digelar oleh de Young Memorial Museum San Francisco.
ADVERTISEMENT
Dalam perbincangan bersama kumparanWOMAN, Khanaan berbagi cerita tentang perjalanannya di dunia fashion sekaligus keputusannya mengenakan hijab yang turut mempengaruhi desain busananya. Simak wawancara kami bersama Khanaan Shamlan di bawah ini.
Bisakah diceritakan awal mula terjun ke dunia fashion dan tertarik mendesain busana modest wear?
Saya pertama kali terjun ke dunia fashion di 2009. Saya selalu konsisten dengan batik dan ingin membuat bagaimana caranya tampilan batik tidak hanya diterima orang-orang Indonesia saja, tetapi juga di luar negeri. Kemudian tahun 2011, saya membuat busana couture. Saat itu masih busana biasa yang belum tertutup, namanya juga desainer baru lulus dari sekolah fashion, masih idealis dan masih ingin membuktikan diri. Segala macam mau dibuat.
ADVERTISEMENT
Di 2013, saya mulai berhijab tapi masih menerima klien yang ingin dibuatkan baju sleeveless dan mini dress. Tetapi ternyata, di tahun tersebut mulai banyak perempuan yang pakai hijab, mengerti pentingnya menutup aurat, termasuk saya salah satunya. Klien saya juga mulai banyak yang berhijab dan ingin menggunakan rancangan saya.
Inspiring Hijaber Khanaan Shamlan
Khanaan Shamlan memulai kariernya sebagai desainer di usia 19 tahun. Foto: dok. Intan Kemala Sari/kumparan
Padahal sebenarnya, setelah berhijab pun saya merasa tidak ingin pindah haluan merancang modest wear. Tetapi saya merasa ada beban moral. Saya sudah menutup diri, tetapi masih membuat baju yang terbuka. Akhirnya otomatis garis desain saya yang tadinya sleeveless tanpa lengan, berubah pelan-pelan menjadi lengan pendek dan lengan panjang.
Walaupun saya pribadi tidak pernah bilang kepada media kalau saya desainer modest wear, tetapi mereka yang menangkap sendiri. 'Oh ini Khanaan, modest wear designer'. Dua atau tiga tahun yang lalu, saya masih menggelar fashion show tanpa hijab, jadi lebih ke koleksi hijab friendly. Tetapi belakangan ini saya ada kerja sama dengan kosmetik halal, jadi mereka minta semua look-nya berhijab. Saya merasa digiring oleh Allah untuk menuju ke jalan yang lebih baik lagi.
ADVERTISEMENT
Bisakah diceritakan, sejak kapan Khanaan mulai berhijab?
Sebenarnya dari SD sudah berhijab karena sekolah Islam. Kemudian masuk SMP dan SMA negeri. Tapi dari kecil, orang tua saya terutama bapak sudah mengajarkan perempuan itu harus berhijab karena menjadi tanggung jawab seorang laki-laki untuk mendidik anak perempuannya. Tetapi bapak tidak memaksa, dia hanya mengingatkan saya sudah dewasa dan berhijab itu kewajiban. Tetapi namanya perempuan, terkadang ingin tampil cantik, ingin dilihat dan diakui. Kalau pakai hijab, pilihan baju sangat terbatas hanya tunik atau dress.
Nah, sampai SMA saya pakai hijab di sekolah saja, dan di luar sekolah tidak pakai hijab. Pakai hijabnya sendiri sudah terbiasa, tapi belum dari hati. Saya menikah 2007 pun tidak berhijab. Dan akhirnya tahun 2013, setelah melahirkan anak ke-2, saya tidak berani pakai baju terbuka dan merasa kalau tidak berhijab yang kena dosanya bukan saya saja, tetapi laki-laki yang ada di dalam kehidupan si perempuan itu. Dari situlah, sejak lahiran anak ke-2, saya mulai konsisten pakai hijab.
ADVERTISEMENT
Salah satu ciri khas desain Khanaan adalah selalu menghadirkan motif batik yang kontemporer dalam setiap desain. Adakah cerita dan alasan di balik itu?
Mengapa harus batik? karena saya lahir di Pekalongan. Dari kecil saya sudah bersentuhan dengan batik. Lahir dan besar di sana sampai SMA, baru saya melanjutkan kuliah di ESMOD Jakarta. Sebenarnya saat SMP, belum tahu mau jadi desainer, tetapi pas SMA biasanya kita sudah tahu ingin pakai baju apa. Misalnya saya melihat ada batik bagus, tapi kok dibuatnya seperti itu saja, motifnya itu-itu saja.
Inspiring Hijaber Khanaan Shamlan
Besar di Pekalongan membuat Khanaan Shamlan akrab dengan batik. Foto: dok. Intan Kemala Sari/kumparan
Saya sendiri lihat batik bukan motif. Banyak orang lihat parang itu batik, kawung itu batik, kalau saya melihat batik itu tekniknya. Sebetulnya teknik pembuatan motif di kain dengan malam, itu adalah batik. Nah, batiknya sendiri sejarahnya dipengaruhi oleh bermacam-macam budaya, ada India, China dan Arab misalnya, jadi motif batik itu sebetulnya dinamis.
ADVERTISEMENT
Lalu saya berpikir, kenapa tidak membuat yang lebih kontemporer dan bisa diterima semua orang? Kalau lihat orang asing datang ke Pekalongan atau Jogja Malioboro, mereka lihat batik bagus dan lucu, tapi that's it. Saya membayangkannya mereka akan pakai baju batik di negaranya, saya ingin ke arah sana tapi belum sampai tahap itu. Saya ingin semua orang melihat batik tidak sebagai baju tradisional saja, tetapi sebagai bentuk seni juga.
Selama berbisnis modest wear yang konsisten menghadirkan motif-motif batik pada setiap koleksinya, apa tantangan yang dialami?
Saya dulunya adalah orang yang idealis sekali, sampai sekarang pun masih. Saya hanya membuat baju yang menurut saya baik, itu yang akan saya presentasikan. Tadinya saya lebih mendesain couture, saya tidak mengejar bisnisnya tetapi lebih ke karyanya. Tetapi ternyata, tidak bisa seperti itu. Apalagi sekarang melihat pasar perempuan Indonesia, maunya sesuatu yang serba ada dan cepat. Kalau mau beli baju, lihat di media sosial, maunya langsung ada. Tapi kalau couture dan batik saya membuatnya saja bisa sampai dua bulan lebih, tantangannya di situ.
ADVERTISEMENT
Dan pada 2016-2017, saya baru terjun ke ready-to-wear. Tadinya saya hanya buat sesuai pesanan saja sekaligus untuk stock. Jadi satu model baju hanya buat 2 sampai 3 potong. Tapi lagi-lagi, tidak bisa seperti itu. Dalam bisnisnya, kita tidak bisa ikuti maunya desainer saja, harus ikuti pula minat pasar. Dan sebetulnya, tidak gampang pula busana batik dibuat menjadi ready-to-wear, karena untuk satu model saja minimal kami harus siapkan 20 potong. Itu tantangan terberat saya, bagaimana caranya membawa batik agar bisa bersaing dengan brand lain tetapi tidak kehilangan unsur batiknya sendiri.
Begitupun ketika saya memutuskan kerja sama dengan buyer atau e-commerce, dari awal meeting saya kasih tahu mereka agar jangan disamakan dengan batik printing. Akan susah kalau kita membandingkan produk handmade dengan mesin. Misalnya, saya ingin bikin batik 20 potong warnanya biru semua, itu tidak akan bisa sama warnanya walaupun takarannya pencampur warnanya sudah sesuai, tapi cahaya mataharinya beda. Kita jemur kain batik jam 10 pagi dan jam 2 siang, hasil warnanya bisa berbeda, bisa naik atau turun satu dua tingkat.
ADVERTISEMENT
Belum lagi kalau saat ngebatik dan ada malam yang netes ke kain, itu juga tidak bisa diperbaiki karena memang di situ seninya. Sebisa mungkin saya edukasi pembeli, Alhamdulillah sejauh ini tidak ada masalah dan customer juga paham.
Darimana biasanya mendapat inspirasi dalam mendesain ? Koleksi mana yang menurut Khanaan paling sulit dikerjakan?
Banyak, biasanya saya dapat inspirasi dari arsitektur karena suami dan adik saya berkecimpung di bidang itu. Saya suka lihat bangunan-bangunan, lukisan dan film sejarah kolosal. Di film kolosal saya lihat kostumnya, sejarah fashionnya. Misalnya kostum di tahun '20-an dan tahun '30-an sangat berbeda, tahun '30-an jadi lebih sleek. Sebenarnya inspirasi bisa dari mana saja.
Semua koleksi saya melewati proses pembuatan yang sama. Tapi ada satu koleksi saya bertajuk 'Identity', di situ saya merasa diri saya sudah dewasa, itu menjadi titik balik saya sebagai seorang desainer. Inspirasi koleksi ini dari motif kawung, motif tradisional yang filosofinya agar tidak melupakan asal-usul kita. Saat mengolahnya, saya merasa ini sangat Indonesia sekali, dari segi cutting-nya juga saya terinspirasi dari perempuan Indonesia, tetapi look-nya tetap modern.
Inspiring Hijaber Khanaan Shamlan
Motif kawung yang telah dimodifikasi rancangan Khanaan Shamlan. Foto: dok. Intan Kemala Sari/kumparan
Kawung sepintas dilihat biasa saja, makanya saya buat dengan sedikit manipulasi agar menarik. Dan koleksi Identity ini juga menjadi salah satu koleksi yang diminta oleh de Young Memorial Museum San Francisco, salah satu museum fine art di Amerika Serikat, untuk ditampilkan di sana.
ADVERTISEMENT
Berkesempatan menampilkan karya di San Francisco, bagaimana ceritanya?
Tahun lalu saya dihubungi pihak de Young Memorial Museum San Francisco untuk berpartisipasi di acara Muslim Contemporary Fashion yang digelar di sana. Akhirnya September 2018 lalu saya berangkat ke San Francisco untuk menampilkan tiga koleksi yang semuanya batik, dua busana dari koleksi Identity dan satunya lagi dari koleksi sebelumnya.
Inspiring Hijaber Khanaan Shamlan
Koleksi Khanaan Shamlan bertajuk Identity yang ditampilkan di San Francisco. Foto: dok. Intan Kemala Sari/kumparan
Saat pameran di San Francisco, saya datang di hari pertama. Banyak media yang datang dan saya diwawancara. Mereka senang dengan karya saya, bahkan ada yang bilang 'I can imagine myself wearing that!' dan itu adalah cita-cita brand Khanaan, karya saya bukan sekadar seni yang dipajang, tetapi juga dipakai.
Harusnya pameran ini selesai Januari 2019 lalu, tapi dari mereka bilang mau ada exhibition lagi di Jerman, dan sekarang karya saya ada di Jerman jadi senang sekali.
ADVERTISEMENT
Menurut Khanaan, adakah pakem atau patokan khusus dalam mendesain busana muslim? Bagaimana cara Anda mendesain sebuah modest wear yang modern dan fashionable?
Untuk desainer, hal itu agak tricky, seperti buah simalakama. Maksudnya, kalau dibilang baju muslim yang benar-benar syar'i itu belum. Kalau dibilang muslim wear, saya juga tidak bilang muslim wear, tapi modest wear yang juga bisa dipakai untuk yang tidak berhijab. Karena sejujurnya itu beban sekali untuk desainer, tidak semua desainer berpatokan dengan syar'i.
Dalam mendesain busana, tadinya saya membuat bagian tangannya agak ngatung, sekarang saya bikin yang tangan panjang. Desain saya ini seperti opsi untuk market, jadi saya membuat baju modest seperti ini agar mereka yang belum berhijab pun bisa pakai. Saya pun sebelum berhijab pakai lengan pendek, tapi lama-lama risih. Akhirnya pakai lengan panjang dan bajunya longgar. Saya merasa brand Khanaan sedang dalam tahapan seperti itu, dan tidak menutup kemungkinan di hari kedepannya saya bisa membuat koleksi syar'i.
ADVERTISEMENT
Untuk patokan khusus, tidak ada. Yang penting siluetnya lurus dan tidak menonjolkan bagian tubuh. Bikin potongan di pinggang juga tidak apa-apa, tetapi tetap loose. Saya juga mengurangi cutting bustier, saya pribadi sebagai desainer merasa tidak tepat jika kepalanya tertutup tapi bajunya masih ngepas. Saya ingin baju itu dipakai sebagai pelengkap tampilan seseorang, bukan sebaliknya.
Ada desainer yang menjadi role model Khanaan?
Dari segi bisnis, saya mengagumi Itang Yunasz. Dia sudah senior dan sudah lama sekali terjun di muslim wear. Saya masih merasa kurang dalam mengelola bisnis, sedangkan Mas Itang sudah ada dimana-mana dan demand-nya banyak. Dari yang harganya terjangkau, menengah ke atas, premium, semuanya ada. Dia ada beberapa brand, menguasai pasar dan bisa memenuhi demand pasar. Itu berat sekali.
ADVERTISEMENT
Bagaimana cara Khanaan memenuhi permintaan dari para pelanggan?
Untuk batik sendiri, agak berat untuk memenuhi permintaan pasar. Makanya di 2017 saya mulai belajar buat koleksi ready-to-wear dan di 2018 saya ada brand baru namanya Asa, ini daily wear yang memang saya buat untuk memenuhi permintaan. Saya sering di DM sama followers 'kak, bajunya bagus tapi mahal'. Ya sebenarnya kalau dilihat proses pembuatannya, tidak mahal. Kalau mau murah sekali, bagaimana caranya kita bisa menghargai si pengrajin?
Inspiring Hijaber Khanaan Shamlan
Koleksi ready-to-wear Khanaan Shamlan. Foto: dok. Intan Kemala Sari/kumparan
Untuk Khanaan ini range harganya mulai dari Rp 800 ribu untuk blouse. Untuk dress dan ready-to-wear di harga Rp 2 jutaan sampai Rp 3 jutaan. Untuk Asa, garis desainnya sama, tetap feminin tetapi saya hindari pemakaian batik. Range harga mulai dari Rp 600 ribu sampai Rp 1,8 jutaan.
ADVERTISEMENT
Sambil memasarkan produk baru, otomatis saya juga menambah tenaga di bagian produksi. Tim yang sekarang ada di Jakarta dan Pekalongan. Kalau di Jakarta saya ada sample room, itu khusus untuk menangani loyal klien Khanaan dan membuat sampling ready-to-wear. Pengrajinnya ada di Pekalongan, kurang lebih ada sekitar 30 orang mulai dari yang menggambar, nyole, sampai mewarnai dengan kuas.
Sibuk menjadi desainer, bagaimana cara Khanaan membagi waktu dengan keluarga?
Saya membuat workshop yang berdekatan dengan rumah agar tidak jauh dari anak-anak. Kembali lagi ke kodrat perempuan, mau menjadi pebisnis seperti apapun kalau di rumah tidak rapi atau bermasalah, itu yang akan menjadi tanggung jawab di akhirat. Bagaimana saya mendidik anak dan melayani suami, itu tetap nomor satu walaupun saya juga punya tanggung jawab dengan karyawan.
ADVERTISEMENT
Dulu, workshop saya hanya berjarak 50 meter dari rumah. Anak-anak sekolah, saya ke workshop. Anak-anak pulang sekolah, saya sudah di rumah. Kalau ada meeting atau wawancara, baru saya ke butik. Jadi sebisa mungkin saya tidak jauh dari anak-anak dan mengurangi acara yang tidak perlu. Karena di dunia fashion, banyak sekali acaranya. Undangan ini itu, gladi resik ini itu, kita harus lebih selektif dan buat prioritas. Kalau gladi resik, saya bisa tugaskan ke asisten, jadi saya bisa menonton anak saya tampil di sekolah.
Dan sekarang, workshop saya ada di sebelah rumah. Jadi anak saya pulang sekolah, saya masih bisa melihat dari kaca workshop. Karena terkadang, manusia ingin semuanya berjalan lancar, kembali lagi bagaimana kita bisa mengaturnya saja.
ADVERTISEMENT
Apa yang biasa Khanaan lakukan saat tidak ada kegiatan? Bagaimana cara Khanaan menghabiskan me-time?
Saya orang rumahan sekali. Tidak ada waktu khusus pergi ke salon. Salon paling dekat ada di depan butik, tapi saya juga tidak terlalu rajin ke sana. Di rumah saja mengurus anak-anak sudah happy. Lagipula anak-anak jam setengah sembilan malam juga sudah masuk kamar, setelah itu waktu saya me-time sendirian atau duduk mengobrol dengan suami.
Apa pelajaran hidup yang bisa diambil dalam perjalanan membangun karier dan bisnis di dunia fashion selama sepuluh tahun ini?
Banyak belajar tentang konsistensi. Biar bisnisnya selalu eksis di dunia fashion, harus ada konsistensi. Kembali lagi, kita harus belajar cara membangun brand yang baik seperti apa, lalu dari segi brand, DNA brand juga harus diperhatikan jadi pasar tahu brand Khanaan seperti apa tanpa harus dijelaskan ke orang-orang, mereka sudah tahu sendiri. Ketika sudah ada di tahap itu, kita sudah di jalur yang tepat.
ADVERTISEMENT
Terakhir, bisakah berikan pesan kepada para perempuan yang baru ingin memulai bisnis modest wear?
Inspiring Hijaber Khanaan Shamlan
Brand Khanaan milik desainer Khanaan Shamlan. Foto: dok. Intan Kemala Sari/kumparan
Harus bertanya kepada diri sendiri, niatnya seperti apa, goals-nya apa. Kalau tidak ada niat dan hanya iseng-iseng saja mengikuti hype, mungkin dalam waktu 6 bulan saja sudah selesai. Seperti menjelang Lebaran, banyak yang bikin kue kering untuk meraup keuntungan selama Lebaran, hasilnya akan berbeda dengan orang yang konsisten membuat kue kering di luar momen Lebaran.
Kalau ingin bersaing, seharusnya bersaing dengan brand-brand luar yang datang ke Indonesia. Saya merasa sebenarnya desainer dan pengrajin Indonesia bisa berkompetisi dengan mereka, caranya dengan mengangkat kekuatan lokal. Tidak harus batik atau tenun. Contohnya saja Biyan, tidak pure batik, tetapi inspirasinya dari Indonesia, Sumba. Jadi, apa yang kita punya di Indonesia, kita gali lagi dan kita kembangkan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan