Kumparan Logo

Kasus Alzheimer Nasional dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Perempuan Pendamping

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kasus Alzheimer nasional dan dampaknya terhadap kehidupan perempuan pendamping. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kasus Alzheimer nasional dan dampaknya terhadap kehidupan perempuan pendamping. Foto: Shutter Stock

Ladies, tahukah kamu bahwa setiap tanggal 21 September diperingati Hari Alzheimer Sedunia? Ya, Tahun 2021 sendiri merupakan peringatan Hari Alzheimer Sedunia ke-10. Alzheimer sendiri merupakan penyebab paling umum dari demensia atau pikun.

Sebagai informasi, demensia adalah penurunan fungsi otak yang mempengaruhi daya ingat, emosi, pengambilan keputusan serta fungsi otak lainnya serta merupakan suatu kondisi medis yang menyebabkan disabilitas pada sejumlah besar populasi global.

Dengan semakin meningkatnya penduduk usia lanjut di Indonesia, prevalensi demensia diperkirakan juga akan meningkat. Hal ini juga turut mempengaruhi kehidupan orang yang merawat penderita demensia, termasuk kehidupan perempuan.

kumparan post embed

Perempuan dengan orang tua demensia berpotensi rawan terhadap gangguan terhadap produktivitas kerja, stabilitas finansial, serta kesehatan fisik dan mental mereka.

Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut sederet fakta terkait demensia seperti diungkap Alzheimer’s Indonesia dalam konferensi pers bertajuk Kenali Demensia Alzheimer, Pentingnya Deteksi Dini, Jumat (24/9).

1. Prevalensi demensia di Indonesia diprediksi meningkat pada tahun 2050

Berdasarkan data Alzheimer’s Disease International (ADI), diperkirakan kasus demensia akan meningkat dari 55 juta menjadi 78 juta pada tahun 2030. Sementara itu, menurut data World Alzheimer's Report (2016), prevalensi demensia di Indonesia diprediksi mencapai empat juta jiwa di tahun 2050.

2. Biaya perawatan demensia mencapai Rp 12-120 juta per tahunnya

Survei Alzheimer Indonesia melaporkan bahwa biaya perawatan demensia dapat mencapai Rp 12-120 juta per tahunnya, yang merupakan jumlah yang sangat besar, mengingat pendapatan per kapita di Indonesia adalah sekitar Rp 59 juta per tahun.

kumparan post embed

3. Sebesar 377 dari 1000 perempuan mengeluhkan gangguan daya ingat

Menurut sensus penduduk 2020, populasi Indonesia kini telah mencapai lebih dari 270 juta penduduk, dengan hampir 10 persen (27 juta) adalah lansia (berusia 60 tahun atau lebih). Jumlah penduduk lansia ini mengalami peningkatan lebih dari 2 persen sejak 2010.

Dengan populasi lansia yang meningkat, prevalensi penyakit degeneratif pun terus meningkat. Salah satu jenis penyakit degeneratif yang umum dialami lansia dan menyebabkan disabilitas adalah demensia.

Studi di DI Yogyakarta dan Bali, dua provinsi dengan populasi lansia terbesar di dalam dan luar Pulau Jawa, menunjukkan bahwa 20-30 persen lansia mengalami gangguan daya ingat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Di samping itu, sebuah studi longitudinal oleh Balitbangkes Kementerian Kesehatan di Bogor, Jawa Barat (2019) menunjukkan insiden keluhan gangguan daya ingat sebesar 377 dari 1000 perempuan.

4. Berdampak pada kehidupan perempuan sebagai pendamping penderita demensia

Seiring berjalannya waktu, penurunan fungsi kognitif yang dialami orang dengan demensia (ODD) akan semakin memberat, sehingga pada suatu titik ia akan menjadi tergantung pada orang lain yang merawatnya (caregiver).

Di Indonesia, orang yang bertindak sebagai pendamping ini biasanya adalah anggota keluarga lain yang masih sehat dan dalam usia produktif. Oleh karenanya, diagnosis demensia pada satu orang dapat berdampak ke seluruh rumah tangga atau keluarganya.

kumparan post embed

Orang dewasa dalam kelompok usia produktif yang harus merawat dan menanggung biaya anak-anaknya sekaligus orang tuanya yang telah lansia sering dikenal dengan sandwich generation. Beban tanggung jawab ini terutama dipikul oleh perempuan.

Karena tanggung jawab yang harus mereka jalani, generasi ini rawan terhadap gangguan terhadap produktivitas kerja, stabilitas finansial, serta kesehatan fisik dan mental mereka.

Beban ini semakin meningkat ketika lansia yang dirawat mengalami demensia, sehingga banyak dari mereka yang harus berhenti bekerja untuk merawat keluarganya.