Kisah Perempuan Inggris dengan Kondisi Langka Punya 2 Rahim dan Vagina

Seorang perempuan asal Salisbury, Wiltshire, Inggris, bernama Andreea (26), baru-baru ini mengungkap kisahnya memiliki dua rahim dan vagina. Dalam istilah medis, kondisi tersebut disebut dengan uterus didelphys. Bisa dibilang uterus didelphys ini memang sesuatu yang cukup langka.
Uterus didelphys sendiri adalah kondisi dimana perempuan memiliki dua rongga bagian dalam, dua serviks atau leher rahim dan dua rahim. Tetapi, dari luar bibir vaginanya tetap sama dengan tampilan vagina perempuan pada umumnya. Menurut penuturan Dr Nick Raine-Fenning, juru bicara dari Royal College of Obstreticians and Gynecologist (RCOG) di Inggris, rahim terbentuk dari perpaduan dua tabung saat janin masih berada di dalam kandungan.
"Prosesnya, dinding bagian bawah di antara kedua tabung pecah dan menyisakan satu rahim dan satu leher rahim. Sementara bagian atasnya tetap terpisah dan membentuk dua tuba Fallopi. Nah, proses ini bisa salah dan membuat dua tabung jadi terpisah. Sehingga ada dua rahim dan dua serviks pada satu uterus yang dipisahkan oleh dinding otot," ungkap Dr Nick Raine-Fenning seperti dikutip dari Cosmopolitan.
Perempuan yang memiliki rahim ganda tetap bisa hamil dan melahirkan, tetapi kadang rentan mengalami ketidaksuburan, keguguran, melahirkan prematur, dan kelainan bentuk ginjal.
Andreea didiagnosa dengan uterus didelphys saat masih berusia 14 tahun. Perempuan yang berprofesi sebagai asisten manajer ini mengaku kondisi kesehatan organ intimnya itu tidak lagi dibahas setelah melakukan pemeriksaan. Menurut laporan Daily Mail, dokter kandungan yang menangani Andreea kala itu mengatakan agar ia tidak perlu khawatir dengan kondisi vagina dan rahimnya.
"Dia (dokternya) cukup terkejut saat melakukan pemeriksaan. Dia mengatakan kondisi saya ini cukup langka, namun hal itu bukan sesuatu yang perlu saya khawatirkan di usia saya yang masih remaja," ungkap Andreea seperti dikutip dari Daily Mail.
Andreea yang tak mau disebutkan nama lengkapnya itu juga mengaku bahwa saat diperiksa, ia merasa kesakitan parah dan meminta dokter untuk berhenti. "Saya tahu periksa kesehatan seksual memang tidak nyaman, tapi saat itu saya merasa kesakitan sekali jadi saya sampai meminta dokter untuk berhenti," jelasnya.
Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menunjukkan bahwa Andreea memiliki dua serviks dan dua rahim. Umumnya, perempuan memiliki sistem reproduksi yang simetris, dengan satu rahim yang menghubungkan dua ovarium dan dua saluran tuba. Dalam kondisi Andreea, ia memiliki dinding jaringan pemisah yang berukuran sekitar 2 cm di dalam vaginanya. Jaringan tersebut yang menandakan Andreea memiliki dua serviks dan dua rahim. Kondisi ini memang tidak tampak dari luar, diperlukan pemeriksaan mendalam untuk mengetahuinya.
Saat menjalani pemeriksaan, dokter menyebutkan bahwa kedua rahim Andreea dapat bekerja dengan baik, tetapi dokter mengatakan bahwa ia akan mengalami proses reproduksi yang rendah. Namun setelah menjalani pemeriksaan dan mengetahui kondisinya, Andreea tak pernah mendiskusikan hal itu lebih lanjut.
Menurut pengakuan Andreea, uterus didelphys tidak membuatnya merasa kesakitan setiap hari. Tetapi saat menstruasi, kram yang dirasakan oleh Andreea sakitnya bisa dua kali lipat dari perempuan pada umumnya.
Saya sering mengalami kram menstruasi yang sangat menyakitkan, bahkan ada juga masa-masa saya sampai tidak bisa bergerak karena saking sakitnya. Mungkin itu terjadi karena saya memiliki dua uterus," pungkasnya.
Selain itu, saat berusia 17, Andreea sempat mengalami kehamilan. Tapi setelah tiga bulan, bayinya tidak berkembang. Setelah menjalani pemeriksaan, ternyata ini juga menjadi salah satu dampak dari kondisi kesehatan vagina yang ia alami.
Andreea mengaku kali ini ia ingin berbagi kisah karena perempuan di seluruh dunia harus menyadari kemungkinan kondisi ini. Uterus didelphys ini bisa dialami oleh siapa saja dan sebagai perempuan, kita harus peduli dengan kesehatan reproduksi kita. Hal ini ia sadari ketika sudah menjalin hubungan serius dengan pasangannya. Meski kondisi dua vagina dan rahim tersebut tidak mempengaruhi kehidupan seksnya sama sekali, namun Andreea khawatir kondisinya tidak memungkinkannya untuk hamil.
"Saya tidak pernah yakin apakah saya bisa mengandung sebagaimana mestinya, jadi saya ingin tahu apakah sebenarnya saya bisa punya anak. Ada banyak pertanyaan yang ingin ajukan. Secara teori saya memiliki dua rahim, jadi harusnya saya bisa hamil, mungkin bisa hamil dua anak sekaligus. Tapi saya ingin tahu apakah kondisi rahim saya ini aman untuk mengandung bayi," tuturnya.
Pada dasarnya, Andreea tidak ingin perempuan acuh dengan kondisi kesehatan reproduksi mereka seperti dirinya. Jika terjadi sesuatu dengan vagina atau alat reproduksi lain, ia menyarankan perempuan harus segera melakukan pemeriksaan dan riset tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
"Perempuan muda harus mengenal tubuhnya sendiri, harus nyaman dengan dirinya sendiri dan berusaha mencari tahu apa yang menurut mereka normal untuk tubuhnya. Karena dulu saya tidak pernah mendiskusikan hal itu karena takut akan dinilai berbeda oleh orang lain," tutupnya.
