Kumparan Logo

Kisah Perempuan 'Kesal' Dapat Warisan Triliunan, Pilih Sumbangkan ke Badan Amal

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Marlene Engelhorn. Foto: Instagram/@marlene.engelhorn
zoom-in-whitePerbesar
Marlene Engelhorn. Foto: Instagram/@marlene.engelhorn

Ladies, apa yang akan kamu lakukan jika mendapatkan warisan dengan nilai miliaran rupiah? Mungkin ini menjadi hal yang menyenangkan. Uang warisan yang didapat bisa untuk membeli barang-barang yang diinginkan atau menjadi modal usaha.

Tapi, perempuan muda asal Jerman ini malah merasa “kesal” ketika mendapatkan warisan. Dia adalah Marlene Engelhorn, yang kini berusia 29 tahun.

Dikutip dari The Sun, Marlene merupakan pewaris sebagian dari kekayaan keluarga Engelhorn yang terkenal di Jerman. Nilai kekayaan yang diwariskan senilai USD 4,2 miliar atau lebih dari Rp 60 triliun.

Marlene mengaku bahwa dirinya tidak merasa senang ketika neneknya memberikan warisan dengan jumlah yang fantastis. Sebab, uang yang diberikan bukanlah hasil dari jerih payahnya.

embed from external kumparan

“Seharusnya saya tidak harus memutuskan bagaimana cara mengelola uang (warisan) keluarga saya karena saya tidak bekerja. Mengelola warisan itu membutuhkan banyak waktu. Itu bukan proyek hidup saya,” kata Marlene kepada Vice News.

Marlene mengaku membutuhkan waktu dua tahun untuk memikirkan apa yang akan dilakukan terkait uang warisan tersebut. Ia pun memutuskan untuk memberikan 90 hingga 95 persen uang tersebut ke badan amal.

“Ini bukan masalah kemauan, tapi keadilan. Saya tidak berkontribusi apa pun hingga menerima warisan ini. Ini murni keberuntungan dan kebetulan,” pungkas Marlene.

Perempuan yang saat ini tinggal di Wina Austria itu pun telah menyerukan perubahan struktural terkait pajak untuk golongan ultrarich (super kaya) dengan ikut mendirikan sebuah kelompok bernama Tax Me Now.

instagram embed

Kelompok tersebut telah mengampanyekan agar pemerintah mengambil bagian yang jauh lebih besar dari kekayaan warisan, dengan alasan bahwa kekayaan yang tidak diperoleh ini harus dialokasikan secara demokratis oleh negara.

“Redistribusi kekayaan yang lebih adil dan pajak yang lebih tinggi pada orang super kaya dapat membantu menyeimbangkan masyarakat,” papar Marlene.

Marlene adalah cucu dari Traudl Engelhorn-Vechiatto. Keluarganya mendirikan BASF, produsen bahan kimia terbesar di dunia, pada 1865.