Kumparan Logo

Kisah Princess Latifa dari Dubai yang Berusaha Melarikan Diri dari Keluarganya

kumparanWOMANverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sheikha Latifa saat memegang medali di klub berkuda Doha selama Asian Games ke-15. Foto: AFP PHOTP/MARWAN NAAMANI
zoom-in-whitePerbesar
Sheikha Latifa saat memegang medali di klub berkuda Doha selama Asian Games ke-15. Foto: AFP PHOTP/MARWAN NAAMANI

Selama ini, kita mungkin menganggap bahwa kehidupan seorang putri kerajaan akan menyenangkan dan bergelimang harta. Padahal, tidak selamanya demikian. Walau dilahirkan di keluarga yang kaya raya, terkadang, ada di antara mereka yang tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun.

Ini dirasakan oleh Putri Latifa, anak dari Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, pemimpin Dubai sekaligus Wakil Presiden dan Perdana Menteri Uni Emirat Arab (UEA). Sejak dahulu, kebebasan Putri Latifa dikekang: ia tidak boleh bepergian ke luar Dubai, menjalani pendidikan, menjalin hubungan asmara, maupun menyetir mobil sendiri. Dalam laporan Marie Claire yang berjudul ‘The Great Escape’, Putri Latifa bahkan disebut pernah dipenjara dan disiksa oleh orang-orang suruhan Sheikh Mohammed pada 2002, lantaran ia berusaha kabur demi mencari bantuan bagi kakaknya, Putri Shamsa, yang ditangkap setelah berupaya kabur dari Dubai.

Namun, ini tak menyurutkan semangat Putri Latifa. Tak puas dengan kehidupannya, pada 2010, sang putri kembali membuat rencana untuk kabur dari Dubai. Ia menyusun rencana ini dengan rapi bersama Tiina Jauhiainen, seorang personal trainer berdarah Finlandia, yang juga merupakan teman baiknya.

Putri Latifa. Foto: AFP/MARWAN NAAMANI

Rencana itu baru diwujudkannya pada 24 Februari 2018, dengan detail yang rumit dan tak mudah. Ia dan Tiina harus melakukan penyamaran untuk bisa keluar dari Dubai menuju Oman, disambung dengan perjalanan menggunakan jet ski selama empat jam di tengah laut yang berbahaya. Mereka kemudian naik yacht bernama Nostromo, yang dinahkodai oleh seorang mantan mata-mata dari Prancis, sebelum menyeberang di laut hingga 10 hari menuju India.

Sebelum mengeksekusi rencana itu, Putri Latifa sempat merekam sebuah video untuk mengungkapkan buruknya kondisi kehidupan di istana. Ia menjadikan video itu sebagai bukti, seandainya ia “terbunuh atau tak bisa keluar dari sini hidup-hidup.”

“Tidak ada keadilan di sini,” ujarnya dalam video itu, dengan nada yang tenang.

“Terutama, jika Anda adalah perempuan. Nyawa Anda sangat tidak berarti,” ujarnya menambahkan.

video youtube embed

Sayangnya, ia benar-benar harus menggunakan video itu. Pada hari kedelapan, upaya kaburnya bersama Tiina digagalkan oleh sang ayah. Mereka dikepung oleh kelompok bersenjata yang mengejar hingga ke tengah laut, kemudian membawa pulang paksa Putri Latifa ke Dubai. Sementara, Tiina dan beberapa orang lainnya sempat ditahan selama dua minggu di sebuah penjara rahasia. Mereka baru dilepaskan, setelah sebuah lembaga hukum dari AS meneruskan video Putri Latifa ke organisasi HAM, Detained in Dubai.

Menurut Tiina yang kini tinggal di London, ia belum bisa bertemu maupun mengontak Putri Latifa sejak penangkapan itu. Sang putri terakhir terlihat pada penghujung 2018 bersama Mary Robinson, mantan presiden Irlandia. Walau sang putri diklaim telah aman di Dubai, Tiina yang melihat foto itu mengatakan, raut wajah sang putri tampak kosong, menderita, dan berada di bawah pengaruh obat.

instagram embed

Hingga kini, Tiina masih berusaha menggiatkan kampanye #FreeLatifa di media sosial, sekaligus bekerja sama dengan beberapa organisasi HAM untuk membebaskan Putri Latifa dari cengkraman sang ayah. Selain itu, ia dan Radha Stirling, pendiri organisasi HAM Detained in Dubai, juga membuat permintaan kepada United Nations Working Group on Enforced or Involuntary Disappearances, yang tengah melakukan pemeriksaan mengenai kasus ini. Meski mulai tampak ada harapan, usaha mereka belum membuahkan hasil hingga kini.

Bukan perempuan pertama yang berusaha melarikan diri

Putri Latifa bukanlah satu-satunya perempuan dari daerah Arab yang berusaha melarikan diri dari negara asalnya. Dalam dua tahun terakhir, ada cukup banyak perempuan yang berusaha lepas dari Arab Saudi maupun Dubai. Di antaranya, termasuk remaja bernama Rahaf Mohammed al-Qunun dari Arab, pasangan kakak-adik bernama Dala dan Dua al-Showaiki, juga Wafa dan Maha al-Subaie.

Tak cuma itu, di keluarga Putri Latifa sendiri, ada perempuan lain yang berusaha lepas dari Sheikh Mohammed. Pada awal musim panas 2019, Putri Haya bint al-Hussein--ibu tiri Putri Latifa sekaligus istri keenam dari Sheikh Mohammed--juga berusaha mencari suaka. Ia melarikan diri ke Inggris bersama kedua anaknya. Hingga kini, ia masih terus berusaha memperjuangkan hak untuk bisa mengasuh kedua anaknya, dalam pengadilan melawan Sheikh Mohammed di London, Inggris.

Penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid Al-Maktoum dan Istrinya, Princess Haya bint al-Hussein. Foto: AFP/KARIM SAHIB

Sekilas, kabar mengenai para perempuan yang berusaha kabur ini mungkin terasa bertolak belakang dengan imej Dubai, yang dinilai lebih bebas dan terbuka dibanding negara-negara Arab lainnya. Namun, menurut Julia Legne, co-founder dari organisasi kemanusiaan MENA Rights Group, ada sebuah realita kelam di balik imej glamor negara tersebut.

"Ada catatan mengenai pelanggaran HAM parah di UEA, termasuk penyiksaan, laporan orang hilang, hingga hukuman penjara bagi mereka yang hanya membuat cuitan untuk mengkritik pemerintahan," ungkapnya, seperti dikutip Marie Claire.

Sheikha Latifa saat mengikuti klub berkuda Doha selama Asian Games ke-15. Foto: AFP PHOTP/MARWAN NAAMANI

Berdasarkan penjelasan Julie, tergambar pula bahwa negara itu memiliki sistem hukum yang tidak menguntungkan perempuan. Sebab, para perempuan masih membutuhkan izin untuk melakukan berbagai hal dari pria yang berstatus sebagai pelindung mereka. Sementara, mereka akan kesulitan untuk melaporkan tindakan tidak menyenangkan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, karena hukum yang berlaku.

"Pria bisa melakukan hampir apa pun yang mereka inginkan, tapi para perempuan dikontrol dengan ketat. Sebab, kehormatan keluarga dianggap bergantung kepada cara mereka bertindak," ujarnya.