Woman
·
6 Agustus 2020 20:29

Kisah Raja Afrika yang Dapat Warisan 72 Istri dan Punya 500 Anak

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Raja Afrika yang Dapat Warisan 72 Istri dan Punya 500 Anak (76534)
Kisah Raja Afrika yang Dapat Warisan 72 Istri dan Punya 500 Anak. Foto: Twitter/@G-Thibault-Fr
Jika bicara soal kehidupan anggota kerajaan, biasanya salah satu hal yang terpikirkan adalah warisan tahta atau harta yang akan diberikan pada keturunan mereka. Namun di Bafut, Kamerun, Afrika Tengah, terdapat tradisi unik di mana raja mereka mendapat warisan istri dan anak Tak hanya satu atau dua istri, Raja Abumbi II, Raja ke-11 Bafut-Kamerun misalnya mewarisi hampir 100 istri.
ADVERTISEMENT
Sebanyak 72 perempuan di antaranya merupakan 'warisan' dari sang ayah yang sebelumnya memimpin Kerajaan Bafut. Ayahnya meninggal pada tahun 1968, dan sejak saat itu, Raja Abumbi II tak hanya mewarisi tahta dan harta, tetapi ia juga harus menjadikan istri-istri ayahnya sebagai istrinya sendiri. Dan dari semua istrinya, kini Raja Abumbi II memiliki lebih dari 500 anak.
Hal ini terjadi lantaran Kerjaan Bafut di Kamerun, memiliki tradisi khusus. Melansir CNN, menurut tradisi lokal di Bafut, Kamerun, ketika seorang raja meninggal, maka penerusnya akan mewarisi semua istri raja sebelumnya dan kemudian menikah dengan istri pilihannya sendiri.
Meski begitu, para ratu ini tidak hanya sekadar menjadi istri. Mereka justru memiliki peran penting dalam kerajaan, yaitu membimbing para raja baru untuk memimpin dengan baik. Sebab dulunya mereka hanya pangeran, bukan seorang raja.
ADVERTISEMENT
"Di balik setiap pria sukses, pasti ada perempuan yang sukses dan kuat. Menurut tradisi kami, ketika seorang pria menjadi raja, istri yang lebih tua tetap mewariskan tradisi kepada istri yang lebih muda untuk mengajarkan tradisi kepada raja karena mereka belum berpengalaman menjadi raja," ungkap Ratu Constance, istri ketiga dari Raja Abumbi II.
Tak hanya itu, menurut Raja Abumbi II, para perempuan yang menjadi istri raja ini semuanya diperlakukan dengan adil. Bahkan mereka mendapatkan pendidikan yang layak dan memiliki kemampuan masing-masing. Mereka pintar berbahasa Inggris dan menguasai bahasa asing lainnya.

Polemik poligami dan kehidupan modern di Bafut, Kamerun

Uniknya, walaupun poligami dilegalkan di Kamerun, tetapi data menunjukkan bahwa jumlah pasangan yang melakukan poligami hanya sedikit di seluruh Afrika. Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, beberapa diantaranya adalah karena masyarakat Afrika sudah memiliki pandangan baru mengenai praktik poligami. Selain itu, semakin berkembangnya agama Kristen dan mahalnya biaya kehidupan keluarga juga menjadi pertimbangan bagi mereka yang ingin melakukan poligami.
Adanya perubahan tersebut menciptakan dilema tersendiri bagi penguasa kerajaan Kamerun karena harus berada di antara dua perbedaan, antara budaya dan sistem pemerintahan. "Selama kolonialisme, banyak nilai-nilai baru yang masuk, yaitu pemerintahan. Ini berbeda dengan nilai-nilai tradisi yang kita miliki. Oleh karena itu selalu ada konflik yang terjadi," ungkap Raja Abumbi II dari Bafut, kerajaan terbesar di Kamerun yang sudah memimpin selama 47 tahun seperti dikutip dari CNN.
ADVERTISEMENT
Sebagai pemimpin, Raja Abumbi II berusaha untuk menghilangkan perbedaan agar masyarakat tetap bisa merasakan perkembangan dan dunia modern tanpa merusak budaya sendiri.
"Tanpa budaya, kita bukan manusia, kita hewan. Oleh karena itu, kepala suku berperan sebagai penjaga budaya," jelaskan.
Untuk itu, sang raja tetap berusaha melestarikan budaya kerajaan dan memberikan contoh bahwa ia bisa memperlakukan istri dan anak-anaknya secara adil.