Kumparan Logo

Kisah Sedih di Balik Penanaman Pohon untuk Rayakan Bayi Perempuan di India

kumparanWOMANverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ritual penanaman pohon di Desa Piplantri, India, untuk merayakan kelahiran bayi perempuan. Foto: dok. Facebook/ Piplantri
zoom-in-whitePerbesar
Ritual penanaman pohon di Desa Piplantri, India, untuk merayakan kelahiran bayi perempuan. Foto: dok. Facebook/ Piplantri

Sejak dulu, India memang terkenal menjadi salah satu negara yang tidak ramah perempuan. Ada tiga hal yang membuat India dikategorikan sebagai negara yang paling berbahaya untuk perempuan, yaitu risiko kekerasan dan pelecehan seksual, perdagangan manusia (termasuk kerja paksa, perbudakan seks, dan perbudakan dalam negeri), serta praktik kebudayaan tradisional.

Di India, perempuan dianggap menjadi beban keluarga. Sebab setiap keluarga yang memiliki anak perempuan memiliki tanggung jawab besar untuk menikahkan mereka dengan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, perempuan di India sering dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Mereka banyak dinikahkan sebelum memasuki usia 18 tahun dengan alasan untuk memperbaiki ekonomi keluarga melalui mas kawin yang diterima keluarga perempuan.

Ritual penanaman pohon di Desa Piplantri, India, untuk merayakan kelahiran bayi perempuan. Foto: dok. Facebook/ Piplantri

Tak hanya itu, salah satu desa di India, yaitu Desa Piplantri bahkan memiliki tradisi bayi perempuan akan sengaja dibuat sakit supaya meninggal karena alasan yang sama, yaitu dianggap akan jadi beban keluarga.

Menurut The Guardian, saat bayi perempuan lahir, salah seorang anggota keluarga akan sengaja memasukkan biji-bijian yang keras dan bergerigi ke dalam mulut sang bayi. Sebuah upaya yang bisa menyebabkan infeksi dan membuat bayi tersebut meninggal.

embed from external kumparan

Namun tradisi tersebut sudah lama berakhir. Terutama sejak seorang kepala desa dari Piplantri kehilangan anak perempuannya. Di tahun 2006, Shyam Sundar Paliwal, pria sekaligus kepala keluarga yang saat itu dicalonkan untuk menjadi kepala desa kehilangan anak gadisnya yang berusia 16 tahun. Paliwal merasakan duka yang sangat mendalam dan memutuskan untuk menanam pohon bulflower atau di India dikenal sebagai pohon kadam. Menurut masyarakat India, pohon tersebut melambangkan cinta.

Ritual penanaman pohon di Desa Piplantri, India, untuk merayakan kelahiran bayi perempuan. Foto: dok. Facebook/ Piplantri

“Dia sangat berarti bagi saya. Bagaimana bisa orang tua membunuh anaknya saat masih ada dalam rahim?” ungkap Paliwal seperti dikutip dari The Guardian. Sejak menanam pohon tersebut, Paliwal rutin setiap sore pergi ke lokasi penanaman dan memeluk pohon bulflower miliknya sambil berkata bahwa itu adalah anak perempuan yang paling ia cintai.

Setelah ia terpilih menjadi kepala desa, Paliwal berjanji bahwa tidak akan ada lagi ratapan menyedihkan ketika seorang anak perempuan lahir. Sebaliknya, kelahiran bayi perempuan akan dirayakan dengan penanaman pohon.

Ritual penanaman pohon di Desa Piplantri, India, untuk merayakan kelahiran bayi perempuan. Foto: dok. Facebook/ Piplantri

Keinginan Paliwal itupun disetujui oleh warganya. Jadi pada waktu yang sudah ditentukan, setiap musim hujan, ibu yang baru melahirkan akan menggelar kain merah sebagai alas keranjang dan meletakkan bayi perempuannya di sana. Kemudian sang bayi akan diajak menuju tempat di mana pohon untuknya akan ditanam.

Sejak saat itu, 111 pohon sudah ditanam untuk menyambut setiap bayi perempuan yang baru lahir. Lebih dari itu, Desa Piplantri juga memiliki tradisi lain untuk menghormati anak-anak perempuan. Pihak keluarga yang melahirkan bayi perempuan diwajibkan memberi dana 500 dolar AS atau sekitar Rp 7 juta kepada pihak desa.

Ritual penanaman pohon di Desa Piplantri, India, untuk merayakan kelahiran bayi perempuan. Foto: dok. Facebook/ Piplantri

Hal ini dilakukan sebagai dana jaminan untuk masa depan sang bayi perempuan mereka. Uang tersebut dianggap sebagai simbol bahwa bayi itu bukanlah sebuah beban bagi keluarga. Tak hanya itu, pihak keluarga akan menandatangani perjanjian resmi yang menyatakan bahwa orang tua tidak akan menikahkan anak perempuannya sebelum mereka berusia 18 tahun dan sudah mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka juga harus berjanji untuk merawat dengan baik 111 pohon yang sudah ditanam.

Kini, tradisi tersebut telah membuat wilayah Desa Piplantri memiliki hutan luas karena setiap tahunnya bayi perempuan pasti lahir di desa tersebut. Bahkan, kabarnya, setiap tahunnya 60 lebih bayi perempuan lahir di desa tersebut. Artinya, desa tersebut telah menanam hampir 7.000 pohon sebagai bentuk perayaan atas lahirnya bayi perempuan. Sebuah langkah yang baik tak hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk lingkungan.

-----

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.

*****

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.