Kisah Sukses Influencer Kania Dachlan yang Berhasil Turun Berat Badan 40 Kg

Menurunkan berat badan tentu bukan perkara yang mudah untuk dijalani. Selain karena sulit untuk berkonsisten, kondisi di lingkungan sekitar juga bisa menjadi pengaruh yang penting dari kesuksesan sebuah program diet.
Hal ini juga dirasakan oleh Kania Dachlan, seorang influencer, model plus size sekaligus blogger. Pada 2020 lalu, ia berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 40 kg. Hal ini pun tidak didapatkan dengan instan, mengingat ia harus mengorbankan banyak hal agar tujuannya tercapai.
Ladies, penasaran seperti apa kisah perempuan 28 tahun ini dalam menurunkan berat badannya? Simak kisah selengkapnya berikut ini.
Berawal dari gangguan hormon
Kania menjalankan program dietnya saat awal pandemi, tepatnya sekitar bulan Maret. Awalnya, ia mengalami gangguan hormon yang membuatnya tidak menstruasi selama tiga bulan.
"Jadi aku itu ada gangguan hormon, waktu itu aku gak menstruasi selama 3 bulan. Tapi gak cuman itu, jerawat aku juga keluar semua satu muka, terus badan terasa lebih capek," jelas Kania saat berbincang dengan kumparanWOMAN, Jumat (15/1).
Keputusannya untuk menjalankan program diet ini juga karena ia memikirkan lingkungan terdekatnya seperti, keluarga dan teman. Kania tidak ingin kondisi kesehatannya membuat orang-orang yang disayanginya menjadi repot untuk mengurusnya. Selain itu, dengan menjalankan hidup yang lebih sehat, Kania merasa bisa lebih mencintai dirinya sendiri.
Setelah konsisten menjalani diet, bobot tubuhnya perlahan mulai menyusut. Ia bahkan tak menyangka bisa turun sebanyak 30 kg, padahal tidak melakukan diet dengan ketat dan menyiksa diri.
"Aku mulai diet, olahraga teratur dan segala macamnya. Di bulan pertama diet, aku langsung menstruasi dan setelahnya menstruasi aku menjadi lebih lancar. Sebenarnya, turun berat badan itu hanya bonus saja. Intinya itu aku merasa jauh lebih sehat, fit, dan gak ada masalah kesehatan," tambahnya lagi.
Didukung oleh keluarga dan teman
Bagi Kania, support system termasuk hal yang penting dalam membantu menjalani diet yang dilakukannya. Keluarga dan teman-temannya pun turut mendukungnya dan membuat dirinya tidak merasa sendiri.
Saat di rumah, sang ibu memasak makanan yang tidak mengandung minyak, lebih banyak dikukus seperti pepes. Tetapi sebelum mendapatkan support sepenuhnya dari keluarga dan teman, Kania juga harus menunjukkan keseriusannya dalam menjalankan program diet ini.
"Kalau kitanya anxious, udah pasti dibilangnya cumang ngomong doang. Tapi kalau kita serius untuk diet, pasti teman-teman dan orangtua akan mendukung. Aku sebenarnya merasa bersyukur karena teman-teman di sekitarku sangat amat positif. Mereka cukup tahu kalau aku struggling dengan masalah berat badan jadi mereka tidak memberikan beban atau pressure apapun," ungkapnya.
Tidak menjadikan diet sebagai siksaan
Melakukan rutinitas yang itu-itu saja dalam menjalankan diet kemungkinan besar akan membuat capek, bosan, ataupun lelah. Tidak sedikit dari pejuang diet tersebut melakukan 'cheating day' atau mengkonsumsi makanan yang sudah dipantang selama sehari penuh.
"Aku tuh kan gak ada target diet ya, jadi aku benar-benar berpikir ini untuk merubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Aku concern kalau kesehatan itu forever. Kalau aku misal ingin makan pizza, yaudah aku makan dan bless full eating. Jadi aku gak pernah menganggap itu suatu kesalahan," jawab Kania.
Karena pikiran Kania yang menganggap diet ini untuk kesehatan dan harus dilakukan selamanya, perasaan seperti mengkonsumsi pizza atau bahkan ketupat saat lebaran bukan dijadikan sebuah kesalahan.
"Jangan jadikan diet itu siksaan. Soalnya kebanyakan diet gagal itu karena ketika kita mempunyai tujuan dan sudah mencapainya, perasaan malas bisa jadi bisa muncul kemudian balik lagi ke kebiasaan lama," tambahnya.
Sempat mengalami mental drop saat sukses menurunkan berat badan
Menjadi model plus size membuat Kania diikuti oleh banyak orang di Instagram yang juga memiliki bobot badan hampir sama dengannya. Lantas, ketika ia memberitahu kepada para pengikutnya tentang penurunan berat badannya yang cukup drastis, respon yang diberikan sangat beragam.
Ada yang mengikuti jejaknya untuk melakukan diet dan ada pula yang memberi tanggapan bahwa Kania sudah tidak sama lagi seperti pengikutnya, bahkan ada yang merasa insecure melihat keberhasilan dirinya dalam menurunkan berat badan.
"Aku merasa seperti I either too much or not enough for everyone gitu loh. Kayak saat aku gemuk, orang-orang minta aku kurus. Saat aku kurus, orang-orang jadi merasa aku gak seperti mereka lagi. Itu sempet bikin mental aku drop sih," ujar Kania.
Kania sempat bingung untuk berbuat apa. Namun ia kembali ingat pada tujuan awalnya untuk melakukan diet adalah untuk dirinya sendiri dan kesehatan. Mulai dari itu, Kania mulai mengingatkan kepada para pengikutnya bahwa pilihannya menjalankan diet bukan untuk merasa lebih cantik atau karena tidak percaya diri dengan bobot badannya.
Butuh sikap yang konsisten
Sikap konsisten sangat dibutuhkan ketika menjalankan diet agar kedepannya proses yang didapatkan adalah keberhasilan. Begitu juga yang dirasakan oleh Kania saat menjalani diet.
"Niat dan konsisten sama-sama dibutuhkan, tapi yang paling penting adalah konsisten. Makanya aku selalu bilang untuk jangan ngepush diri sendiri supaya bisa mendapatkan hasil saat itu juga," ungkap Kania.
Kania juga menyarankan untuk mencari metode diet yang sekiranya tidak akan membuat bosan dan tetap akan konsisten. Sama dengan diet, olahraga yang dilakukan setiap orang pasti berbeda-beda. Misalnya melakukan olahraga seperti muaythai akan memberi hasil yang cukup signifikan bagi orang lain, tetapi belum tentu hasil tersebut juga akan dirasakan oleh diri kita.
"Cari yang benar-benar cocok untuk kamu. Karena mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat itu untuk selamanya bukan sampai berat badan ideal saja," tutupnya.
Penulis: Johanna Aprilia
