Kumparan Logo

Kumpulan Puisi RA Kartini, Sang Pejuang Kesetaraan Gender di Indonesia

kumparanWOMANverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Perjuangan RA Kartini dalam membawa perempuan mencapai kesetaraan gender akan selalu terkenang sepanjang masa. Terbukti, hari lahir Kartini pada 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Tujuannya untuk mengenang jasa-jasa Kartini ketika memperjuangkan perempuan memperoleh kebebasan dalam mengenyam pendidikan.

Bahkan pada tanggal 2 Mei 1964, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional karena jasa-jasanya membawa derajat perempuan menjadi lebih tinggi dan setara dengan laki-laki. Semenjak itu, banyak sekali cara-cara untuk merayakan Hari Kartini seperti mengadakan lomba fashion show di tingkat sekolah hingga membuat puisi untuknya.

Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Menulis dan membaca puisi itu sendiri merupakan salah satu cara untuk mengingat kembali hobi Kartini yang gemar menulis surat, majalah, dan lainnya. Bahkan beberapa tahun terakhir sudah banyak puisi-puisi ciptaan masyarakat Indonesia yang ditujukan untuk merayakan Hari Kartini di setiap tanggal 21 April.

Nah, mengutip buku 'Puisi untuk Ibu Kartini: Puisi Pilihan Event 2nd Anniversary' karya Clarissa, dkk di tahun 2018, berikut kumparanWOMAN telah merangkumnya untuk kamu.

R.A. Kartini

Oleh: Ahmad Maulana

Engkau adalah putri yang berjiwa pahlawan

Rela mengorbankan jiwa, serta ragamu

Tak gentar melawan takdirmu

Untuk memajukan negara ini

Engkau adalah sosok srikandi

Yang rela mengorbankan harta, dan bendamu

Tidak pernah merasa letih dalam

Memperjuangkan negara ini

Engkau adalah pahlawan dari kaummu

Cita-citamu amatlah mulia

Demi mewujudkan tunas bangsa

Kebanggaan agama serta negara.

Mengenang Kartiniku

Oleh: Alifia Intan Karima

Temgaung akan sebuah figur elok

Meraut nama dalam lintas sejarah

Tertutur indah santun dalam suatu pokok

Terajut keselarasan, membantang duka lara

Membungkam keselarasan sang ibunda

Mensakralkan kehangatan bunga negara

Terangi gelapnya isi bumi

Tentramkan hati, kaum insani

Bagai pendongkrak dunia

Runtuhkan ancaman kaum jahiliyah

Tegak kan kewajiban

Tuk hapus kemunafikan

Terlintas bayangan sosok Kartini

Menguras problematika negeri nan pilu

Robohkan fitur anarki

Goreskan sejarah bak harum mewangi di bumi pertiwi

Ibu Kartini…

Wanita Berkebaya

Oleh: Alfaro Mohammad Recoba

Dua puluh satu April Tahun 1879 ia dilahirkan.

Bocah kecil bermata bulat berbinar memancarkan

Cahaya cemerlang, seolah menatap masa depan yang

Penuh dengan tantangan. Trinil, si ayah beri ia julukan

Ia datang mempelopori kesetaraan derajat,

Menumpas ketidakadilan mengenai adat.

Dengan pemikiran cerdas penuh inisiatif,

Dia akhirnya menjadi wanita inspiratif.

Wanita berkebaya, Raden Ajeng Kartini namanya.

Sang sosok pahlawan emansipasi wanita Indonesia.

Habis gelap terbit terang, inspirasi dari suratnya,

Dibaca sebagai sebuah roman kehidupan wanita.

“Aku mau.” Motto hidupnya.

Di dalam hati wanita Indonesia,

Semangatmu masih tetap membara.

Walaupun memang engkau telah tiada.

Kesatria Wanita Indonesia

Oleh: Aisyah Nabilla

Ketika mereka menganggap wanita rendah

Di situlah kau memendam amarah

Ketika mereka berargumen wanita tak pantas sekolah

Kau datang berusaha mematahkannya

Kau datang menyelamatkan negeri ini

Dari tangisan wanita yang merindukan edukasi

Cita-citamu murni untuk negeri

Berjuang mengedepankan emansipasi

Kartini bagi perempuan laksana pahlawan

Kartini bagi perempuan laksana bintang

Kartini bagi perempuan laksana perwira

Kartini bagi perempuan laksana ksatria

Tak ada yang lebih berani darinya

Sang wanita perwira pahlawan Negara

Sang wanita yang pantang mundur sebelum setara

Memperjuangkan hak-nya dengan jiwa dan raga

Kasih Lembut Ibu Pertiwi

Oleh: Alif fia Wiraninda

Kartini…

Siapa yang tak mengenalmu, wahai Kartini.

Wanita yang tangguh , wanita yang tak pernah merasa takut

Untuk melawan kejinya dunia ini.

Lembut kasihmu

Ramah tutur katamu

Membuat dunia ini menangis bersimbah darah atas kepergianmu.

Kau adalah wanita terhebat bagiku

Kau adalah ibu dari milyaran wanita di dunia ini

Kau mampu mempertaruhkan nyawamu demi negeri ini

Demi wanita Indonesia

Juga demi Bangsa Indonesia

Terima kasih Kartini

Penyelamat Negeri dan Kaumku

Oleh: Alifiyah Nurrohcmani

Di kala bumi pertiwi tengah terombang ambing

Berporak poranda hancur tiada keping

Tembak, jerit, tangis bahkan darah telah beraduk

Beraduk meleleh dialas bumi pertiwi nan suci

Tatkala kaum adam dijunjung

Sedang kaum hawa ditindas tak berujung

Tiada lagi nilai diri yang tersisa

Hanyalah larutan duka yang bersemayam

Namun…

Secerca cahaya terang mulai menyeludup

Mengangkat puing-puing kehancuran

Pengobar kembali nilai diri kaum hawa

Dialah sang anugerah tuhan

Perempuan mulia tanpa tanda jasa

Sang pembangkit negeri di ambang musnah

Sang pembela nasib hawa tanpa kenal lelah

Terima kasih ibuku…

Ibu kartiniku…

Atas segala jerih payahmu

Sebagai penyelamat negeri dan kaumku.

Demi Aku, Kartinimu, dan Bianglala

Oleh: Ali Mufti

Nak, lawanlah tidurmu

Redup nyala lilin itu rayuan waktu,

agar lelapmu kian bersemayam

Mimpi-mimpi itu pun kebohongan,

darinya (waktu), si jahat yang mengincarmu

”Tak ada bedanya dengan apa yang ada di luar sana, begitu kejam,

biarkan saja, Bu!

Kupeluk waktu, dipapah Ibu.”

Jangan, Nak!

Ingatlah betapa ibu paksakan senyum dahulu,

dalam payah menyajikan riangmu

Karena aku Kartinimu

Lekaslah melompat,

langkahi sanubari yang merundung

Sambutlah doa-doaku yang dijawab-Nya

Lekaslah, Nak!

Demi aku, Kartinimu

Penulis: Johanna Aprillia