Kumparan Logo

Lagi Viral, Istilah Tone Deaf Ternyata Menyinggung Teman Disabilitas

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan sedih Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan sedih Foto: Shutterstock

Akhir-akhir ini di media sosial sedang ramai penggunaan istilah tone deaf. Istilah tone deaf ini biasanya digunakan netizen untuk mendefinisikan seseorang yang dianggap tidak peka terhadap situasi sosial atau mengeluarkan pernyataan di saat yang tidak tepat.

Namun tahukah kamu, Ladies, bahwa istilah ini sejatinya berintonasi sangat kasar dan menyinggung para penyandang disabilitas khususnya tunarungu?

The Seattle Times mendefinisikan istilah tone deaf ini sebagai ableist language yang merujuk pada ableism yaitu diskriminasi atau prasangka terhadap penyandang disabilitas. Tindakan ini dinilai merendahkan para penyandang disabilitas dan membatasi potensi mereka.

Mirisnya, banyak orang menggunakan ableist language seperti tone-deaf, dumb, blind eye bahkan crazy dengan maksud agar tidak menyakiti orang yang dituju. Sayangnya, tanpa disadari, istilah-istilah tersebut justru sangat menyakitkan bagi orang lain, Ladies.

Penggunaan istilah tone deaf bukan hal sepele

Ilustrasi Perempuan Menolak. Foto: Shutter Stock

Kalau kamu merasa bahwa penggunaan istilah tone deaf hanya masalah kecil, kamu keliru, Ladies.

BBC melaporkan, sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia merupakan penyandang disabilitas. Meskipun jumlahnya tidak sedikit, namun penyandang disabilitas masih mengalami diskriminasi yang meluas di hampir setiap lapisan masyarakat. Salah satu diskriminasi yang mereka terima berbentuk ableist language.

Istilah-istilah ableist language memang tidak terdengar seperti mencaci-maki atau melakukan kekerasan terhadap penyandang disabilitas secara langsung. Namun, ini adalah bentuk nyata dari agresi mikro linguistik, bersifat tidak langsung, bahkan tidak disengaja namun justru sangat offensive.

Dilansir dari BBC, Jamie Hale, CEO Pathfinders Neuromuscular Alliance mencatat bahwa ada potensi bahaya dari penggunaan istilah itu meskipun kata-kata tersebut tidak ditujukan secara khusus terhadap para penyandang disabilitas.

“Sering kali orang menggunakan istilah itu tidak untuk menyakiti penyandang disabilitas, tetapi secara tidak sadar, istilah-istilah itu bisa membangun pandangan dunia bahwa keberadaan penyandang disabilitas itu negatif,” ujarnya.

Contohnya istilah tone deaf kerap digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang dianggap tidak peka terhadap situasi sosial. Ini menjadikan penggunaan istilah "tone deaf" secara tidak langsung memperkuat stigma negatif terhadap orang-orang dengan disabilitas pendengaran. Atau dengan kata lain, istilah ini memberikan gambaran yang tidak akurat tentang apa sebenarnya arti disabilitas.

Hindari penggunaan istilah tone deaf dan jadi lebih inklusif

Ilustrasi belajar berempati. Foto: Shutter Stock

Rosa Lee Timm, kepala pemasaran organisasi nirlaba Communication Service for the Deaf seperti dilansir BBC mengatakan, penggunaan istilah tone deaf mendorong terciptanya budaya pemisahan dan menciptakan lingkungan yang menindas.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk mulai menghindari penggunaan istilah ini, Ladies. Alih-alih menyebut seseorang dengan label tone deaf, akan lebih baik apabila kita menjelaskan secara spesifik perilaku yang dianggap tidak tepat itu.

Dengan menghindari bahasa yang merendahkan, kita dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan saling menghormati.