Kumparan Logo

Laki-laki yang Dukung Perempuan Mandiri Berefek ke Psikologisnya, Kenapa?

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan sukses mandiri berkarier karena dukungan laki-laki. Foto: mentatdgt/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan sukses mandiri berkarier karena dukungan laki-laki. Foto: mentatdgt/Shutterstock

Ladies, mungkin kamu sering mendengar istilah women supporting women atau lebih dipahami dengan makna perempuan saling dukung. Istilah ini sering jadi kekuatan perempuan. Sebab perempuan sering kali dihadapkan dengan berbagai tantangan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Bicara soal kehidupan profesional, ternyata nggak cuma butuh dukungan dari sesama perempuan saja, lho. Untuk bisa berkarier dan mandiri, perempuan juga perlu dukungan yang kuat dari laki-laki.

Karena itu, frasa man supporting woman juga perlu disuarakan. Ya, dukungan dari laki-laki terhadap perempuan bisa mewujudkan kesetaraan gender.

Selain itu, dari sisi psikologis laki-laki akan merasakan manfaat ketika mendukung perempuan untuk mandiri. Hal ini diungkapkan oleh Psikolog Gita Aulia Nurani, S.Psi., M.Psi.

Ilustrasi mendengarkan podcast Ramalan Zodiak di Spotify. Foto: Shutterstock

“Ketika laki-laki mendukung perempuan mendapatkan hak aktualisasi dirinya, maka pada dasarnya dia sendiri juga sedang mengembangkan diri terutama dari sisi pola pikir atau mindset dan emosi. Mindset-nya akan berkembang dan cara pandangnya terhadap perempuan juga menjadi lebih luas,” kata Gita kepada kumparanWOMAN.

“Secara emosi, laki-laki akan lebih memahami perempuan dengan segala kodratnya dan lebih berempati. Jadi yang mendapatkan keuntungan dalam proses kesetaraan ini bukan hanya perempuan, tapi juga laki-laki,” tambahnya lagi.

Penyebab masih banyak laki-laki tidak dukung perempuan mandiri

Sayangnya, sampai saat ini masih banyak laki-laki yang tidak memberikan dukungan pada perempuan. Hal ini bikin perempuan jadi merasa terkekang untuk menentukan jalan hidupnya.

Menurut Gita, hal ini didasari oleh beberapa faktor, di antaranya faktor agama dan budaya. Karena itu, laki-laki dituntut jadi ‘serba bisa’ dan harus menjadi provider (seseorang yang mampu menyediakan kebutuhan pasangannya).

“Budaya dan religi turut membentuk perilaku laki-laki terhadap perempuan. Dalam konteks budaya Indonesia yang mayoritas patriarki sangat kuat membentuk peran laki-laki sebagai kepala keluarga dan 'serba bisa',” papar Gita.

Ilustrasi pasangan sulit berdiskusi. Foto: Shutterstock

Maka dari itu, Gita menegaskan agar pasangan bisa saling diskusi. Meski terdengar sepele, tapi diskusi antar pasangan bisa wujudkan kesetaraan dalam hubungan.

“Ini penting agar tak ada pihak yang merasa aktualisasi dirinya direnggut. Jika sudah ada kesepakatan sejak awal, keinginan buat mandiri jadi jauh lebih mudah diwujudkan,” tutup Gita.