Kumparan Logo

Lebih dari 90% Penderita Melasma adalah Perempuan, Ini Penyebabnya

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lebih dari 90% penderita melasma adalah perempuan, ini penyebabnya. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Lebih dari 90% penderita melasma adalah perempuan, ini penyebabnya. Foto: Shutterstock

Bercak kecokelatan yang muncul di pipi, dahi, hidung, atau atas bibir sering kali dianggap sebagai flek biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa jadi merupakan melasma, gangguan hiperpigmentasi yang membutuhkan penanganan berbeda.

Melasma bukan hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga dapat berdampak pada rasa percaya diri hingga kualitas hidup penderitanya. Sayangnya, masih banyak orang yang belum menyadari bahwa tidak semua noda gelap di wajah memiliki penyebab yang sama.

Dalam rangka Melasma Awareness Month, PT Unison Medika Jaya pada Rabu (15/7), mengajak masyarakat untuk lebih memahami melasma melalui edukasi bersama dokter spesialis kulit, dokter estetika, dan penyintas melasma.

Lebih dari 90 Persen Penderita Melasma adalah Perempuan

Lebih dari 90 persen penderita melasma adalah perempuan. Foto: Sorn340 Studio Images/Shuttterstock

Melasma merupakan salah satu gangguan pigmentasi kulit yang paling sering ditemukan sekaligus cukup sulit diatasi. Kondisi ini ditandai dengan munculnya bercak berwarna cokelat muda hingga gelap pada area wajah yang sering terpapar sinar matahari.

Studi Global Epidemiology: Melasma International Journal of Pharmaceutical Sciences pada 2026 menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen penderita melasma adalah perempuan, terutama pada usia reproduktif.

Risiko tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan hormon selama kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, faktor genetik, paparan sinar ultraviolet (UV), paparan visible light, hingga proses peradangan pada kulit yang memicu produksi melanin berlebih.

Di Indonesia, risiko melasma juga tergolong lebih tinggi. Selain karena berada di wilayah tropis dengan intensitas sinar matahari tinggi sepanjang tahun, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki tipe kulit Fitzpatrick IV–V yang lebih rentan mengalami hiperpigmentasi akibat paparan sinar matahari.

Melasma Kerap Disangka Flek Biasa

Melasma Kerap Disangka Flek Biasa. Foto: Thinkstock

Pengalaman tersebut juga dirasakan Margaret Vivi, penyintas melasma. Awalnya ia mengira bercak di wajahnya hanyalah flek biasa. Namun, noda tersebut justru semakin sulit memudar dan mulai memengaruhi rasa percaya dirinya.

Setelah berkonsultasi dengan dokter, ia baru mengetahui bahwa melasma memerlukan penanganan yang tepat dan konsisten agar kondisinya dapat dikendalikan.

Penanganan Melasma Tidak Bisa Sembarangan

Penanganan melasma tidak bisa sembarangan. Foto: THICHA SATAPITANON/Shutterstock

Menurut dokter spesialis kulit dr. Stanley Setiawan, diagnosis yang tepat menjadi langkah pertama sebelum menentukan terapi.

“Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai. Di sisi lain, pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit. Salah satu terapi depigmentasi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari adalah redermalisasi menggunakan skin booster yang mengandung Hyaluronic Acid dan Succinic Acid,” jelas dr. Stanley.

Ia menjelaskan, terapi melasma tidak hanya berfokus pada memudarkan pigmentasi, tetapi juga memperbaiki kualitas kulit secara menyeluruh.

Salah satu pendekatan yang kini digunakan adalah redermalisasi menggunakan Xela Rederm, skin booster yang mengombinasikan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid untuk membantu mengurangi hiperpigmentasi sekaligus meningkatkan hidrasi kulit.

Terapi tersebut juga dapat dikombinasikan dengan AQ Serum yang mengandung Growth Factors guna mendukung regenerasi sel kulit, membantu meredakan proses inflamasi, dan mempercepat pemulihan kulit.

Meski demikian, perawatan di klinik saja tidak cukup. Penggunaan tabir surya berspektrum luas dengan SPF tinggi setiap hari tetap menjadi langkah penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari sekaligus membantu mengurangi risiko kekambuhan melasma.

Melalui kampanye Melasma Awareness Month, PT Unison Medika Jaya berharap masyarakat semakin memahami bahwa melasma bukan sekadar masalah kosmetik, melainkan kondisi kulit yang dapat dikendalikan melalui diagnosis yang tepat, terapi yang sesuai, serta perlindungan kulit secara konsisten.