Kumparan Logo

Menelusuri Sejarah Fashion Show yang Kini Jadi Ajang Bergengsi Bagi Rumah Mode

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang model memperagakan kreasi dari koleksi Michael Kors Musim Semi 2026 selama Pekan Mode New York di New York City, AS, Kamis (11/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang model memperagakan kreasi dari koleksi Michael Kors Musim Semi 2026 selama Pekan Mode New York di New York City, AS, Kamis (11/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP

Fashion show menjadi ajang bergengsi bagi rumah mode untuk menunjukkan koleksi mereka. Gemerlap lampu sorot, panggung runway yang megah, dan model terkenal telah menjadi ciri khas dalam memperagakan busana terbaru.

Namun, jauh sebelum kemewahan ini terbentuk, awalnya fashion show berangkat dari sebuah ide sederhana dari seorang desainer yang baru saja pindah ke Kota Paris.

Dalam artikel ini, kumparanWOMAN ingin mengajakmu menjelajahi lorong waktu dalam sebuah perjalanan menelusuri jejak revolusi fashion show. Sudah siap, Ladies? Mari simak pembahasannya!

Awalnya hanya untuk memperlihatkan ke customer

Sejarah fashion show. Foto: Anton Vierietin/Shutterstock

Dilansir Harpers Bazaar, pada 1860-an, seorang desainer asal Inggris yang pindah ke Paris, Charles Frederick Worth, memiliki sebuah ide untuk mempresentasikan desain bajunya ke customer dengan konsep yang berbeda. Awalnya para desainer hanya menggunakan manekin untuk memperlihatkan hasil karyanya.

Namun, Charles ingin desainnya tampak lebih hidup, sehingga ia mulai mempekerjakan perempuan muda sebagai model untuk mengenakan dan memperagakan pakaian. Model-model ini disebut demoiselles de magasins dan memperlihatkan busana secara langsung kepada klien di butik. Konsepnya pun masih sederhana, yakni tanpa musik atau catwalk seperti pertunjukan modern.

Ide ini pun dianggap sebagai cikal bakal konsep fashion show yang kita lihat sekarang, Ladies. "Sebagian besar sejarawan mode menganggap Charles Frederick Worth sebagai pencetus penggunaan model," ungkap Maria Costantino, dosen studi budaya dan sejarah di London College of Fashion.

Tak heran ide itu lahir darinya. Dikutip dari British Vogue, Charles memang dikenal piawai merancang busana sehingga membuatnya dijuluki sebagai the father of haute couture.

Fashion show modern pertama di tahun 1901

Sejarah fashion show. Foto: Sergey Goryachev/Shutterstock

Beberapa dekade setelah penggunaan model manusia oleh Charles Frederick Worth, Lady Duff Gordon, desainer asal Inggris dari rumah mode Lucile, mulai memperkenalkan konsep fashion show modern.

Dilansir The Guardian, ia secara rutin memamerkan koleksinya di Hanover Street, London. Saat itu, Lady Duff membuat fashion show dengan konsep yang lebih tersusun dan lebih modern. Mulai dari penataan panggung, pencahayaan, serta musik untuk mengiringi model saat berjalan.

Selain itu, Lady juga menjadi pelopor pengaturan barisan front row, sebuah elemen penting dalam fashion show modern yang kini menjadi standar industri fesyen.

Fashion show dilakukan di luar zona nyaman

Sejarah Fashion show. Foto: CatwalkPhotos/Shutterstock

Pada 1960-an, beberapa desainer mulai keluar dari zona nyaman dengan memilih tempat yang lebih kreatif dan tidak konvensional untuk memamerkan koleksi mereka. Alih-alih hanya di butik, busana diperagakan di gudang anggur, tepi Sungai Seine, atau tempat hiburan, menjadikan pertunjukan busana lebih teatrikal dan berkesan.

"Balmain memamerkan koleksi tahun 1965 di gudang anggur, sementara Pierre Cardin menggelar pertunjukan di luar ruangan di tepi Sungai Seine di Paris, dan Paco Rabanne tampil di Crazy Horse Saloon," ujar Maria.

Fashion show menjadi ajang bergengsi

Anitta dalam peragaan busana bertajuk "Liberty. Equality. Sisterhood. Because You're Worth It", yang diselenggarakan oleh L'Oreal sebagai bagian dari Paris Fashion Week di depan Balai Kota Paris, Prancis, Senin (29/9/2025). Foto: Stephanie Lecocq/REUTERS

Dunia fashion terus bergerak, dan puncak perjalanan peragaan busana terjadi pada 1990-an. Rumah mode bisa menghabiskan jutaan dolar untuk memperagakan koleksi terbaru mereka, menciptakan pertunjukan yang megah, lengkap dengan panggung runway yang spektakuler, lampu sorot, dan model-model terkenal.

Pada saat itu peragaan busana hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu. Pertunjukan berlangsung secara tertutup bagi editor mode, pembeli, selebritas, dan klien pribadi, sehingga sebagian besar publik tidak dapat menyaksikannya. Namun, lambat laun publik mulai bisa mengaksesnya degan sistem pembelian tiket.

Waktu terus berlalu, dunia fashion mengalami kegoncangan saat pandemi COVID-19. Rumah mode harus menyesuaikan diri dengan kondisi global. Pertunjukan menjadi lebih kecil, virtual, dan desainer mengevaluasi kembali dampak serta efisiensi sebuah fashion show.

Setelah industri pulih, rumah mode kembali memperagakan koleksi terbaru dengan skala besar dan kreatif. Bahkan, fashion show kini bisa dinikmati secara langsung melalui media sosial. Jutaan orang di seluruh dunia dapat kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan seakan berada di tengah runway. Kita bisa menonton fashion show dari Milan, Paris, atau New York langsung dari televisi, ponsel, atau laptop.

Menurut Steven Kolb, CEO Council of Fashion Designers of America, meskipun format dan aksesibilitas pertunjukan berubah, tujuan peragaan busana tetap sama. “Tujuannya selalu tentang menciptakan visibilitas dan eksposur bagi koleksi desainer dengan tujuan akhir menjual pakaian,” ungkapnya.

Baca juga: Sejarah Fashion Week Pertama dan Tertua di Dunia: New York Fashion Week