Kumparan Logo

Mengenal 6 Warna Cairan Keputihan dan Artinya Bagi Kesehatan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi keputihan. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keputihan. Foto: Getty Images

Keputihan adalah kondisi yang paling sering dikeluhkan perempuan. Bukan tanpa alasan, keluarnya lendir atau cairan dari vagina ini kerap membuat keadaan vagina menjadi lembap dan terasa risih.

Dilansir dari Medical News Today, keputihan adalah cairan yang dikeluarkan dari kelenjar kecil di vagina dan leher rahim. Cairan ini keluar dari vagina setiap hari untuk menjaga vagina dan saluran reproduksi tetap bersih dan sehat.

Keluarnya cairan keputihan umumnya normal dialami perempuan. Akan tetapi, cairan keputihan yang muncul dengan warna berbeda bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan.

Untuk mewaspadainya, kamu perlu mengenal warna-warna cairan keputihan. Berikut enam warna cairan keputihan dan artinya bagi kesehatan yang telah dirangkum dari Healthline.

1. Merah

Keputihan pada vagina. Foto: Shutterstock

Keluarnya cairan keputihan dengan warna merah biasanya terjadi selama periode menstruasi. Warna ini mungkin berkisar dari merah ceri di awal periode hingga cokelat berkarat.

Jika masih dalam periode menstruasi, maka kondisi ini terbilang normal. Tetapi, jika kamu mengalaminya sepanjang bulan, ini bisa menjadi tanda masalah kesehatan seperti infeksi.

Di samping itu, keluarnya cairan keputihan dengan warna merah atau kecokelatan dapat disebabkan dengan siklus menstruasi yang tidak teratur atau bercak ovulasi di tengah siklus menstruasi.

2. Putih susu

Cairan keputihan dengan warna putih susu seperti kulit telur hingga krem umumnya normal. Kondisi ini dianggap alami jika jika cairan keputihan tidak disertai dengan tekstur atau bau tertentu.

Penyebab cairan keputihan dengan warna ini bisa terjadi karena pelumasan alami vagina.

Hal ini untuk menjaga jaringan vagina agar tetap sehat dan meminimalkan gesekan saat berhubungan seks.

Meski dianggap normal, cairan keputihan dengan warna putih susu atau krem bisa menjadi gejala infeksi jamur yang disebut Candida albicans.

3. Kuning hingga kehijauan

Ilustrasi keputihan. Foto: Shutterstock

Jika keluarnya cairan keputihan dengan warna kuning yang sangat terang, umumnya kondisi ini masih normal. Bisa jadi keluarnya keputihan dengan warna ini dihasilkan dari suplemen atau makanan tertentu yang kamu konsumsi.

Namun, kamu harus menaruh rasa khawatir apabila keluarnya cairan keputihan dengan warna kuning, hijau kekuningan, atau hijau yang lebih gelap. Warna ini biasanya menandakan infeksi bakteri atau infeksi menular seksual (IMS).

Jangan ragu untuk segera menemui dokter jika kamu melihat keluarnya cairan keputihan dengan warna ini mulai kental, menggumpal, atau memiliki bau yang tidak sedap.

4. Merah muda

Cairan keputihan dengan warna merah muda seringkali hanya merupakan tanda menstruasi akan segera datang. Keputihan dengan warna ini sering terjadi dengan bercak sebelum menstruasi. Namun, juga bisa menjadi tanda pendarahan implantasi pada awal kehamilan.

Beberapa perempuan mengalami sedikit bercak setelah ovulasi, yang juga dapat menyebabkan keputihan berwarna merah muda. Keputihan berwarna merah muda bisa disebabkan setelah melakukan hubungan seksual, penetrasi dengan jari, atau menggunakan mainan seks.

5. Bening atau putih telur

Ilustrasi keputihan Foto: Shutterstock

Keluarnya cairan keputihan dengan warna bening menandakan kondisi kesehatan yang baik-baik saja. Mungkin terasa licin atau memiliki konsistensi seperti putih telur.

Hal ini juga menandakan keluarnya cairan dari tubuh yang sehat untuk menyeimbangkan kembali tubuhnya sendiri–karena vagina adalah organ yang dapat membersihkan dirinya sendiri.

Perempuan cenderung mengalami keputihan dengan warna ini tepat sebelum mengalami ovulasi, selama gairah seksual, dan kehamilan.

6. Abu-abu

Ketika cairan keputihan berubah menjadi abu-abu seperti awan badai atau knalpot, segera konsultasikan dengan dokter atau profesional kesehatan lainnya. Sebab, kondisi ini bisa menjadi gejala vaginosis bakteri, yaitu pertumbuhan berlebih bakteri yang umum dialami perempuan.

Vaginosis bakteri biasanya menyebabkan vagina terasa gatal, iritasi, bau yang kuat, dan kemerahan di sekitar lubang vagina atau vulva.