Kumparan Logo

Mengenal Belanja Impulsif dan Kompulsif, Cari Tahu Perbedaan Keduanya

kumparanWOMANverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung melihat barang di salah satu toko di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (28/12). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung melihat barang di salah satu toko di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (28/12). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Siapa yang tidak suka berbelanja? Setiap orang tentu gemar melakukan aktivitas yang satu ini, apalagi saat barang yang diincar sedang diskon besar-besaran. Bagi beberapa orang, berbelanja juga merupakan upaya untuk menghibur diri karena memang rasanya menyenangkan.

Namun, aktivitas ini pun bisa mendatangkan masalah dan kesulitan keuangan. Berbelanja secara impulsif dan kompulsif adalah penyebabnya. Ladies mungkin pernah mendengar kedua istilah tersebut, bukan?

Meski terdengar serupa, berbelanja impulsif dan kompulsif sebenarnya berbeda. Nah, artikel ini akan membahas lebih jauh soal kedua istilah itu dan tanda-tandanya. Untuk mengetahui selengkapnya, simak penjelasan berikut seperti kumparanWOMAN rangkum dari Verywell Mind.

Apa itu belanja impulsif?

Ilustrasi belanja impulsif. Foto: Getty Images

Apakah kamu pernah membeli barang-barang yang sebenarnya di luar perencanaan? Bila pernah atau sering melakukannya, kamu bisa jadi berbelanja secara impulsif.

Menurut Verywell Mind, belanja impulsif sering terjadi secara tidak terduga, misalnya saat diskon besar-besaran atau ketika kamu menemukan barang-barang yang terlalu menarik untuk dilewatkan.

Belanja impulsif bisa tidak berbahaya bila sesuai dengan anggaran pengeluaran kamu. Sayangnya, belanja impulsif juga dapat mengakibatkan pengeluaran yang mahal dan mendatangkan malapetaka pada keuangan kamu, Ladies. Adapun beberapa tanda belanja impulsif adalah:

  • Menghabiskan lebih banyak uang daripada yang direncanakan.

  • Pergi ke pusat perbelanjaan yang sering memicu belanja impulsif.

  • Muncul perasaan kepuasan instan setelah pembelian yang tidak direncanakan.

  • Sering menyesal usai belanja.

Apa itu belanja kompulsif?

Ilustrasi belanja impulsif. Foto: Shutterstock

Tidak seperti belanja impulsif, belanja kompulsif mengacu pada pembelian barang-barang yang tidak diperlukan. Belanja kompulsif biasanya dilakukan seseorang untuk memperbaiki suasana hati, meningkatkan citra diri, mendapatkan dukungan sosial, dan mengatasi stres.

Belanja kompulsif sering menyebabkan perasaan malu, bersalah, dan penyesalan yang kuat. Orang yang berbelanja secara kompulsif juga rentan mengalami masalah keuangan, hukum, dan hubungan karena pengeluaran mereka yang berlebihan.

Sebenarnya sulit untuk mengetahui kapan berbelanja telah melewati batas dan menjadi perilaku kompulsif. Namun, menurut Verywell Mind, ada beberapa tanda belanja kompulsif:

  • Kesehatan keuangan yang menurun atau jumlah utang kartu kredit yang tinggi.

  • Hubungan yang tertekan karena pengeluaran atau belanja terlalu banyak.

  • Menyembunyikan belanja atau jumlah yang dihabiskan dari pasangan.

  • Kehilangan kendali saat berbelanja.

  • Berbelanja untuk menghindari perasaan bersalah terhadap aktivitas belanja sebelumnya.

  • Berbelanja untuk menghilangkan perasaan tertekan secara emosional.

  • Menghabiskan uang lebih dari kemampuan.

Jadi, itu tadi definisi dan tanda berbelanja impulsif dan kompulsif. Dengan memahami perbedaan keduanya, Ladies harus bisa lebih bijak dalam mengeluarkan uang, ya.

Frequently Asked Question Section

Apa itu belanja impulsif?

chevron-down

belanja impulsif sering terjadi secara tidak terduga, misalnya saat diskon besar-besaran atau ketika kamu menemukan barang-barang yang terlalu menarik untuk dilewatkan.

Apa itu belanja kompulsif?

chevron-down

Tidak seperti belanja impulsif, belanja kompulsif mengacu pada pembelian barang-barang yang tidak diperlukan. Belanja kompulsif biasanya dilakukan seseorang untuk memperbaiki suasana hati, meningkatkan citra diri, mendapatkan dukungan sosial, dan mengatasi stres.