Kumparan Logo

Mengenal Broken Heart Syndrome yang Dialami Banyak Perempuan Selama Pandemi

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi patah hati. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi patah hati. Foto: Shutterstock

Pandemi telah mengubah pandangan banyak orang tentang kesehatan. Masyarakat dunia kini menerapkan pola hidup sehat secara disiplin, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan rutin mencuci tangan.

Bila mengabaikan kebiasaan-kebiasaan tersebut, seseorang berisiko terkena virus dan kesehatan fisik rentan terganggu. Di samping itu, pandemi juga bisa berdampak pada kesehatan mental. Hal ini terbukti dari tingginya tingkat stres yang bisa berefek jangka panjang.

Mengutip InStyle, para peneliti di Cedars-Sinai Los Angeles, Johns Hopkins, dan Cleveland Clinic bahkan telah menemukan broken heart syndrome. Ini merupakan kondisi serius yang terjadi pada jantung akibat stres emosional. Kondisi ini dilaporkan telah meningkat selama pandemi.

Meski data masih terus dikumpulkan, studi dari Cleveland Clinic menemukan angka penderita broken heart syndrome meningkat dari 2 persen menjadi hampir 8 persen selama pandemi. Kondisi ini sangat umum di kalangan perempuan, baik sebelum maupun selama pandemi.

Apa itu broken heart syndrome

com-Ilustrasi patah hati Foto: Shutterstock

Dari namanya, kondisi ini mungkin tidak terdengar serius. Namun, broken heart syndrome dapat berdampak buruk bagi penderitanya. Mengutip Instyle, broken heart syndrome secara medis dikenal sebagai stress cardiomyopathy atau kelainan pada otot jantung. Kondisi ini juga disebut sejenis dengan serangan jantung.

Namun berbeda dengan jenis serangan jantung lainnya, sindrom ini dapat menyebabkan gejala seperti sesak napas, nyeri dada, dan irama jantung yang tidak normal dengan mekanisme sangat berbeda.

Mengutip Instyle, menurut ahli jantung sekaligus pendiri Women's Heart Clinic di Rochester, New York, Sharonne N. Hayes, M.D., serangan jantung umumnya terjadi karena penyumbatan di arteri jantung yang merusak otot jantung.

Sementara itu, stress cardiomyopathy tidak melibatkan arteri yang tersumbat. Ini bisa mengancam jiwa, tapi kondisi ini sulit dideteksi karena jantung penderita dapat terlihat baik-baik saja. Namun, risiko stress cardiomyopathy dapat bertahan lama pada penderitanya.

Kasus stress cardiomyopathy mungkin melonjak selama pandemi, tapi penyakit ini bukanlah hal baru. Menurut Sharonne, sindrom ini kali pertama dijelaskan pada tahun 1990.

Broken heart syndrome dan faktor risiko yang perlu diketahui

Ilustrasi perempuan sedih susah move on. Foto: Shutterstock

Serangan jantung yang disebabkan oleh stress cardiomyopathy dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Akan tetapi, menurut American College of Cardiology, perempuan pascamenopause 90 persen lebih berisiko mengalami stress cardiomyopathy.

Meski memiliki risiko yang mematikan, banyak orang masih belum sadar akan risiko sindrom ini dan meremehkannya. Hal ini juga disebabkan masih belum adanya kesetaraan bagi pelayanan kesehatan yang dihadapi perempuan di beberapa belahan dunia.

Dokter lebih sering mengabaikan nyeri dada atau sesak napas perempuan dan mendiagnosisnya sebagai psikosomatis atau kecemasan. Padahal mereka mengalami gejala kardio stress cardiomyopathy yang merupakan keadaan darurat medis.

Kenapa broken heart syndrome sering dialami perempuan?

Ilustrasi perempuan. Foto: Shutter Stock

Sharonne menekankan bahwa dalam beberapa situasi, stress cardiomyopathy bukan penyakit yang disebabkan karena perempuan tidak bisa mengontrol emosinya. "Secara fisiologis, respons perempuan terhadap stres berbeda dari pria," katanya.

Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa di bawah tekanan mental, pria dan perempuan dapat menyebabkan perubahan tekanan darah dan aliran darah yang sama sekali berbeda. Hal ini yang mungkin menjelaskan perbedaan tingkat stress cardiomyopathy yang tidak proporsional antara pria dan perempuan.

Beberapa perempuan dengan stress cardiomyopathy juga memiliki faktor risiko selain serangan jantung, seperti tekanan darah tinggi. Akan tetapi, menurut American Heart Association, faktor risiko serangan jantung tradisional tidak berlaku pada pasien perempuan.

Jadi, ada kemungkinan pemicu utama seorang perempuan mengalami stress cardiomyopathy adalah tekanan selama pandemi dan ketidakadilan gender sistemik. Sharonne mengatakan salah satu cara terpenting perempuan untuk mencegahnya adalah dengan mengelola stres.

Mengutip Instyle, Sharonne mengatakan, "Saya menyarankan untuk perempuan agar mengelola stres, kecemasan, dan mengobati depresi. Karena terkadang perempuan menyimpan semua itu dalam hati dan menjadi penyakit yang berisiko. Ada hubungan yang erat antara pikiran dan kesehatan jantung kita. Jika kita tidak bisa mengatasi stres dan kekhawatiran, kita tidak dapat menyembuhkan jantung kita.”

Jika stres, kecemasan, dan depresi yang kamu alami sudah tidak dapat tertangani, carilah bantuan tenaga ahli untuk mendapatkan perawatan yang maksimal.

Penulis: Adonia Bernike Anaya