Mengenal Estella dan Abendanon, Sahabat Pena Kartini

Tanggal 21 April setiap tahunnya selalu diperingati sebagai Hari Kartini. Hal ini dimulai saat Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.108 Tahun 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan sekaligus menetapkan hari lahirnya sebagai Hari Kartini.
Meninggal di usia 25 tahun saat melahirkan putra pertamanya, Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai sosok berjasa yang mempelopori emansipasi atau kebangkitan perempuan Indonesia.
Pemikiran-pemikiran brilian Kartini yang ingin memajukan perempuan Indonesia banyak terkuak melalui surat-surat yang ia kirim kepada dua sahabat penanya. Mereka adalah Estelle Zeehandelaar serta pasangan suami istri Jacques Henrij Abendanon dan Rosa Manuela Abendanon.
Mereka memiliki andil masing-masing dalam kehidupan Kartini. Kartini sendiri juga banyak belajar mengenai kehidupan yang lebih luas dan maju dari sahabat-sahabat penanya tersebut. Ia juga jadi lebih yakin bahwa perempuan Indonesia dapat memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki maupun dengan sesama perempuan di tempat lain.
Untuk mengenal mereka lebih dalam, siapa sebenarnya sosok sahabat-sahabat pena Kartini tersebut, semak selengkapnya dalam ulasan berikut ini.
Estella Zeehandelaar, Seorang Feminis Belanda
Estella atau yang lebih akrab disapa Stella oleh Kartini merupakan perempuan kelahiran Amsterdam. Dalam buku biografi Kartini yang berjudul ‘Kartini Sebuah Biografi’ tulisan Sitisoemandari Soeroto (1979), disebutkan bahwa Stella adalah seorang pejuang feminisme di Eropa yang sering terjun langsung memperjuangkan hak perempuan.
Ayah Stella adalah seorang dokter yang wafat ketika ia masih kecil. Ia pun kemudian dibesarkan oleh pamannya hingga ia selesai menyelesaikan sekolah di Hogere Burgerschool (HBS) di Belanda. Setelah lulus, Stella bekerja di Kantor Pos, Telepon, dan Telegram di Amsterdam.
Stella dan Kartini saling mengenal pada tahun 1899, saat Kartini masih berusia 20 tahun. Kala itu Kartini muda ingin mengetahui banyak hal tentang pergerakan perempuan di Eropa, terutama mengenai sikap dan gagasan-gagasan perempuan di sana. Oleh karena itu, ia memiliki ide untuk membuat iklan di majalah Belanda, De Hollandsche Lelie.
Dalam iklannya tersebut Kartini menyebutkan bahwa ia adalah anak perempuan seorang Bupati Jepara di Hindia Belanda (sebutan lama untuk Indonesia). Kartini mencari sosok teman perempuan untuk dapat saling surat menyurat. Teman yang dicarinya harus berasal dari Belanda dan sebaya dengannya. Selain itu, sosok yang ia cari juga harus mempunyai kepedulian terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Eropa. Iklannya tersebut kemudian mendapatkan respon dari Stella. Sejak saat itu, keduanya sering berkirim surat dan saling bertukar pikiran hingga akhir hayat Kartini.
Salah satu isi surat Kartini kepada Stella yang paling populer adalah berikut ini:
“Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri... yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.” (Surat Kartini kepada Stella H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).
Hingga saat ini tak diketahui secara pasti bagaimana nasib Stella setelah Kartini meninggal pada 17 September 1904. Namun menurut laman Wikipedia, Stella sendiri meninggal dunia di usia 61 pada 5 Maret 1936 di Merano, Italia.
Pasangan suami - Istri, Jacques Henrij Abendanon dan Rosa Manuela Abendanon
Pada 1900, Jacques Henrij Abendanon atau yang lebih dikenal dengan J. H. Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda (Indonesia) yang menjabat sampai tahun 1905.
Pria kelahiran Suriname 14 Oktober 1852 ini memiliki seorang istri bernama Rosa Manuela Abendanon. Pasangan suami istri ini bisa dibilang mempunyai andil yang cukup besar dalam kehidupan Kartini.
Awalnya, Abendanon ditugaskan Kerajaan Belanda dengan berbagai misi. Salah satu fokusnya saat itu adalah pendidikan perempuan. Lantaran tidak familiar dengan Hindia Belanda, Abendanon pun meminta bantuan temannya, Snouck Hurgronje, orientalis dan arsitek andalan Hindia Belanda pada Perang Aceh.
Snouck merupakan orang yang secara tidak langsung mengenalkan Kartini pada Abendanon. Temannya itu menyarankan jika Abendanon ingin membahas soal pendidikan perempuan, sebaiknya ia berkenalan dengan anak-anak Bupati Jepara. Mereka adalah Kartini dan kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah.
Pada film Kartini (2017) garapan Hanung Bramantyo, dalam sebuah adegan percakapan antara Kartini (yang diperankan Dian Sastrowardoyo) dan Abendanon, Kartini membeberkan apa yang ada dalam pikiran perempuan Jawa pada saat itu. Mereka hanya tahu bahwa tujuan hidup mereka hanyalah menikah dan melayani suami.
“Tahukah Anda apa yang ada di pikiran perempuan Jawa? Mereka hidup hanya untuk menikah. Tidak peduli menjadi istri ke berapa,” ungkap Kartini pada Abendanon. Dari situlah tampaknya Abenanon yakin bahwa Kartini adalah perempuan dengan pemikiran hebat.
Kartini pun rajin bersurat dengan Abendanon dan istrinya, Nyonya Abendanon untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, serta pendapat-pendapatnya mengenai perempuan di Tanah Jawa. Kartini bersama adik-adiknya juga rajin mengikuti bimbingan mengenai gagasan etis yang diberikan oleh Nyonya Abendanon di rumahnya.
Meski sempat kecewa dengan Nyonya Abendanon karena dinilai menghalangi mimpi Kartini dan adik-adiknya untuk sekolah ke Belanda, namun Kartini mendapatkan banyak pengetahuan baru yang bisa membuat pikirannya menjadi semakin maju dan berkembang.
Saat Kartini meninggal, J. H. Abendanon lah yang menerbitkan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat penanya di Eropa. Kumpulan surat tersebut dirangkum menjadi sebuah buku bertajuk ‘Door Duisternis tot Licht’ (1911), yang dalam bahasa Indonesia berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku inilah yang menjadi cikal bakal dari Habis Gelap Terbitlah Terang.
