Mengenal Fat Acceptance, Gerakan Melawan Diskriminasi Tubuh Plus Size
·waktu baca 3 menit

Ladies, apakah kamu sudah tahu tentang fat acceptance movement atau gerakan fat acceptance? Kalau dibandingkan dengan body positivity, gerakan fat acceptance mungkin memang jarang terdengar. Padahal, konsep dari gerakan ini hampir mirip dengan body positivity karena juga membicarakan seputar penerimaan bentuk tubuh.
Dikutip dari Verywell Mind, fat acceptance merupakan gerakan menerima berbagai jenis bentuk tubuh, termasuk tubuh plus size. Gerakan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka yang memiliki tubuh plus size dan melawan diskriminasi di berbagai aspek kehidupan.
Supaya tahu lebih lengkap mengenai fat acceptance movement, kumparanWOMAN telah merangkum beberapa hal mengenai sejarah. Tak cuma itu, ada juga perbedaan fat acceptance dan body positivity movement. Penasaran seperti apa? Simak selengkapnya berikut ini.
Sejarah
Ladies, gerakan fat acceptance sudah dilakukan sejak 1960-an oleh National Association to Advance Fat Acceptance (NAAFA). Saat ini, fat acceptance merupakan gerakan menuntut keadilan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah dengan segala bentuk.
NAAFA berharap gerakan ini bisa membuat mereka yang bertubuh plus size bisa merasa bebas, bangga dan terhindari dari segala bentuk penindasan. Sama seperti orang kulit hitam, komunitas LGBTQ+, orang berpenghasilan rendah, dan penyandang disabilitas menghadapi diskriminasi institusional, begitu pula dengan pemilik tubuh plus size yang bisa mendapatkan kenyamanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pasalnya, selama ini masih banyak pemilik tubuh plus size yang mendapat perlakuan kurang adil hingga mengalami bentuk diskriminasi. Oleh sebab itu, NAAFA berusaha untuk melindungi hak-hak mereka yang juga biasa disebut "people of size" (orang-orang bertubuh plus size).
Hambatan dan diskriminasi yang sering dialami pemilik tubuh plus size
Gerakan fat acceptance dilatarbelakangi karena pemilik tubuh plus size sering mengalami hambatan dan diskriminasi. Terlebih dengan adanya fatphobia atau orang-orang yang takut gemuk. Dikutip dari Verywell Mind, ini beberapa hambatan dan diskriminasi yang dialami oleh pemilik tubuh plus size di Amerika Serikat antara lain:
Perempuan gemuk menerima hukuman pidana yang lebih berat daripada perempuan yang lebih kurus
Memperoleh gaji yang lebih rendah
Asumsi bahwa orang gemuk terlalu malas atau terlalu manja dalam merawat kesehatan
Ketika sakit, banyak ahli kesehatan yang mencari tahu masalah sebenarnya dan hanya menyalahkan berat badan berlebih sehingga orang gemuk sering sulit mendapatkan penanganan yang tepat saat sakit
Orang gemuk menghadapi diskriminasi saat beraktivitas, misalnya saat mencoba berbelanja pakaian di tempat yang menjual produk dengan ukuran terbatas
Meskipun pasar pakaian ukuran plus telah berkembang, namun biasanya pakaian besar memiliki harga yang jauh lebih mahal
Orang gemuk juga cenderung lebih banyak membayar pajak, misalnya saat ingin bepergian dengan pesawat terbang yang mengharuskan mereka membayar lebih banyak dibandingkan orang kurus
Berbeda dengan body positivity
Meskipun fat acceptance sering dianggap mirip dengan gerakan body positivity, ternyata keduanya berbeda. Pasalnya dalam gerakan body positivity tidak secara gamblang melawan bias anti-gemuk di masyarakat. Body positivity hanya berusaha untuk mengajak orang untuk menghargai dan menghargai tubuh mereka meskipun memiliki bekas luka, selulit, stretch mark, dan tinggi badan. Sementara tidak ada karakteristik yang mengarah soal tubuh gemuk.
Selain itu, body positivity telah dikomersialkan secara terang-terangan oleh merek fashion dan kecantikan, dengan tagar #bopo yang sering digunakan di media sosial untuk merujuk pada gerakan tersebut. Sementara fat acceptance merupakan gerakan politik yang membuat para aktivis menghadapi tantangan hukum untuk memerangi bias anti-gemuk.
