Kumparan Logo

Mengenal Rufaida Al-Aslamia, Muslimah Pertama yang Jadi Perawat di Medan Perang

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sosok Rufaida Al-Aslamia. Grafis: kumparan/Daniella
zoom-in-whitePerbesar
Sosok Rufaida Al-Aslamia. Grafis: kumparan/Daniella

Namanya mungkin asing di telinga masyarakat, tapi dedikasinya di medan perang dalam membantu prajurit Muslim tercatat dalam sejarah dan beberapa hadis. Ya Ladies, dia adalah Rufaida Al-Aslamia.

Perempuan tersebut merupakan muslimah pertama yang jadi perawat dalam sejarah Islam. Selama hidup, Rufaida punya kontribusi besar dalam membantu Nabi Muhammad SAW saat perang.

Oleh karena itu, sosoknya dikenang dalam sejarah, meski mungkin masih banyak yang belum mengenalnya. Rufaida memiliki latar belakang keluarga yang menarik serta kisah hidup penuh dedikasi, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Berikut ulasan mengenai sosoknya.

Profil Rufaida Al-Aslamia

Ilustrasi perempuan muslim. Foto: Shutterstock

Rufaida lahir di Yatsrib (Madina), sekitar 597 Masehi. Ia berasal dari keluarga yang mengerti soal kesehatan. Dikutip dari The New Arab, ayahnya, Sa'ad Al-Aslami, merupakan seorang tabib terkenal di Arab.

Oleh karena itu, Rufaida memperoleh ilmu kesehatan dari ayahnya sejak masih kecil. Saat menginjak masa remaja, ia menjadi asisten ayahnya dalam mengobati pasien. Begitu tumbuh dewasa, ia dipercaya menjalani praktik kesehatan secara mandiri.

Sebelum masuk Islam, keduanya menggunakan jampi-jampi dan jimat untuk mengobati pasien. Namun, setelah memeluk Islam pada masa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah (sekitar 622 M), Rufaida dan ayahnya meninggalkan praktik tersebut dan menggantinya dengan doa serta salawat sesuai ajaran Nabi.

Rufaida Al-Aslamia bantu rawat prajurit perang

Rufaida memanfaatkan keahlian medisnya untuk merawat prajurit Islam di medan perang. Ia aktif berperan di balik perang Badr, Khaibat, Uhud, dan Khandaq dengan mendirikan sebuah posko kesehatan. Kontribusinya di medan perang ini dibuktikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

"Ketika pembuluh darah di lengan tengah Sa'd terluka pada hari Perang Khandaq dan menjadi parah, mereka memindahkannya ke seorang wanita bernama Rufaidah, yang biasa merawat orang-orang yang terluka,” hadis Mahmoud ibn Labid dalam "Al-Adab Al-Mufrad" (1129) dan Ibn Sa'd dalam "Al-Tabaqat".

Dedikasi Rufaida Al-Aslamia

Ilustrasi perempuan berhijab. Foto: Shutterstock

Setelah perang selesai, Rufaida terus memberikan manfaat untuk orang lain. Contohnya mendidik perempuan untuk menjadi perawat dan mengikuti jejaknya. Serta memberi fasilitas kesehatan untuk kaum miskin dan yatim piatu.

Sebuah penelitian oleh Suad Hussain menyebutkan bahwa Rufaida memiliki dedikasi dalam pengembangan dan peningkatan praktik keperawatan. Sang peneliti mengatakan kalau Rufaida menciptakan aturan serta tradisi yang mendorong praktik keperawatan menjadi lebih baik.

Setiap tahun, Universitas Bahrain memberi apresiasi kepada mahasiswa keperawatan yang unggul dengan Penghargaan Rufaida Al-Aslamiyah.