Kumparan Logo

Mengenal Smiling Depression, Cara Menutupi Depresi dengan Tersenyum

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Remaja Perempuan Depresi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Remaja Perempuan Depresi Foto: Shutterstock

Ladies, orang yang mengalami depresi biasanya akan terlihat dari raut mukanya yang sedih atau jarang tersenyum. Namun, tahukah kamu? Ternyata ada jenis depresi yang penderitanya terlihat baik-baik saja, bahkan mereka tersenyum ketika tampil di depan umum. Depresi semacam ini disebut dengan Smiling Depression.

Mengutip Medical News Today, Smiling Depression adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menutupi depresinya di balik senyuman. Penderitanya akan terlihat bahagia di depan, tetapi pada kenyataannya orang tersebut sedang berputus asa atau mengalami kesedihan internal. Mereka menggunakan senyuman ini untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka bahagia.

Akibatnya, jenis depresi ini sering tidak terdeteksi dan jarang mendapatkan penanganan yang sesuai. Jika dibiarkan akan menimbulkan dampak yang berbahaya bagi penderitanya, seperti ada risiko tinggi untuk melukai diri sendiri atau kematian karena bunuh diri.

Tanda-tanda penderita Smiling Depression

Orang dengan Smiling Depression biasanya dapat melakukan sebagian besar pekerjaan sehari-harinya dengan baik. Kehidupan sosialnya pun sering kali terlihat berjalan lancar, bahkan tampak ceria dan optimis. Meskipun tidak memiliki gejala secara nyata, ada beberapa hal yang bisa Ladies ketahui apakah orang lain sedang mengalami depresi atau tidak.

1. Perubahan nafsu makan

Ilustrasi tidak nafsu makan Foto: Shutter Stock

Dalam hal perubahan nafsu makan ini bisa terdapat dua kemungkinan. Pertama, beberapa orang menjadi makan berlebihan saat depresi atau yang kedua, beberapa orang kehilangan nafsu makan ketika depresi. Biasanya, perubahan berat badan menjadi tanda-tanda dari perubahan nafsu makan ini.

2. Perubahan kebiasaan tidur

Ilustrasi perempuan insomnia. Foto: Shutter Stock

Ada beberapa orang yang sulit bangun atau tidak ingin bangun tidur ketika mengalami depresi, karena tidak ingin memikirkan depresinya. Sementara, ada juga orang yang menjadi insomnia dan menunjukkan perubahan besar dalam kebiasaan tidurnya, seperti tetap terbangun di malam hari dan tidur di siang hari.

3. Perasaan putus asa

Ilustrasi perempuan sedih susah move on. Foto: Shutterstock

Hal ini memang tidak terlalu terlihat, tetapi biasanya orang dengan depresi ini menunjukkan rasa bersalah yang tinggi dan sering merasa tidak berharga.

4. Kehilangan minat dalam aktivitas

Ilustrasi pemalas. Foto: Shutter Stock

Seseorang dengan Smiling Depression mungkin tidak terlihat tertarik dengan aktivitas yang biasanya mereka sukai.

Alasan penderitanya menyembunyikan depresi

Sudah bukan rahasia jika ada seseorang yang tidak ingin mengungkapkan depresinya ke banyak orang. Ada berbagai alasan untuk menyembunyikannya, mulai dari melindungi privasinya, hingga takut dihakimi oleh orang lain. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut adalah beberapa kemungkinan alasan orang menyembunyikan depresinya, dikutip dari Verywell Mind.

1. Takut membebani orang lain

Ilustrasi perempuan menyendiri. Foto: Shutterstock

Biasanya, depresi dan rasa bersalah akan datang berbarengan. Akibatnya, banyak orang yang tidak ingin membebani orang lain dengan masalah yang sedang dihadapi. Biasanya, hal ini dialami oleh orang-orang yang terbiasa merawat dan mengayomi orang lain.

2. Perasaan malu

Ilustrasi perempuan. Foto: Shutterstock

Orang dengan depresi biasanya memiliki pemikiran bahwa depresi merupakan tanda-tanda kelemahan dan kecacatan karakter yang harus dilepaskan, sehingga ketika mereka tidak mampu melepasnya, akan timbul perasaan malu.

3. Ada penolakan

Ilustrasi Perempuan Foto: Freepik

Biasanya, orang berpikir dengan selalu tersenyum akan membuat orang lain melihat mereka terlihat baik-baik saja, sehingga lebih mudah diterima di lingkungannya. Ketika mereka menunjukkan rasa depresinya, orang itu akan merasa ada kekurangan dan akan mengalami penolakan.

4. Takut dihakimi

Ilustrasi pasangan bertengkar. Foto: Shutterstock

Kadang-kadang, penderita depresi khawatir atas konsekuensi secara pribadi dan profesionalnya jika mereka mengungkapkan perasaan. Misalnya, seseorang khawatir ditinggalkan oleh kekasihnya ketika kekasihnya tahu bahwa orang tersebut mengalami depresi.

5. Takut terlihat lemah

Ilustrasi perempuan marah-marah. Foto: Rachata Teyparsit/Shutterstock

Orang dengan Smiling Depression tidak hanya khawatir orang lain akan melihat mereka sebagai orang yang lemah dan rentan, tetapi juga khawatir bahwa orang lain akan mengambil keuntungan ketika mengetahui bahwa mereka mengalami depresi. Mereka lebih suka menunjukkan penampilan luar yang keras daripada mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan.

6. Pandangan kebahagiaan yang tidak realistis

Ilustrasi curhat masalah pribadi di media sosial Foto: Shutterstock

Untuk penyebab satu ini sering dipengaruhi oleh media sosial. Di media sosial, orang-orang menggambarkan kebahagiaan dengan cara yang tidak realistis, sehingga muncul perasaan bahwa penderita depresi adalah satu-satunya orang yang berjuang dengan kesehatan mental.

Cara mengatasi Smiling Depression

Ilustrasi perempuan curhat Foto: Shutterstock

Jika ada seseorang yang mengalami Smiling Depression, akan lebih baik jika mengunjungi profesional untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Biasanya, dokter akan memberikan penanganan berupa terapi atau obat-obatan. Namun, mengutip Healthline, hal terpenting dari pemulihan depresi ini adalah membuka diri terhadap orang-orang di sekitar, seperti keluarga atau teman.

Jika Ladies sebagai pendengar, akan sangat baik jika kamu mendengarkan perasaan orang lain tanpa menghakimi, sehingga mereka merasa memiliki tempat untuk bercerita dan tidak perlu menyembunyikan depresinya lagi.

Nah, dengan mengetahui tentang Smiling Depression, Ladies akan memahami orang-orang di sekitarmu yang mengalami depresi, sehingga dapat membantu kamu untuk melakukan tindakan positif dan membantu orang tersebut.