Mengenal Terapi Reiki dari Jepang dan Manfaatnya untuk Kesehatan Mental
·waktu baca 3 menit

Selain berkonsultasi dengan tenaga profesional, saat ini telah banyak pilihan terapi yang bisa membantu kamu untuk mengatasi masalah kesehatan mental. Di Jepang, ada satu terapi alternatif unik dan populer bernama Reiki.
Mungkin saja terapi ini masih asing kamu dengar, tapi ternyata Reiki pertama kali diciptakan dan dikembangkan sejak tahun 1922 di Jepang oleh Makao Usui. Spesialnya, terapi ini disebut-sebut sebagai sebuah terapi penyembuhan energi.
Terapi Reiki juga memiliki banyak manfaat, salah satunya dapat menjaga kesehatan mental pasiennya. Nah, buat kamu yang penasaran ingin mengenal lebih lanjut soal terapi Reiki, yuk simak artikel ini karena kumparanWOMAN telah merangkum informasinya.
Apa itu terapi Reiki dan bagaimana cara kerjanya?
Kata Reiki sendiri berasal dari bahasa Jepang, di mana “Rei” berarti semesta dan “Ki” berarti energi kehidupan. Menurut laman Forbes, terapi Reiki ini mirip seperti teknik akupuntur, hanya saja tidak membutuhkan jarum dalam praktiknya.
Saat terapi Reiki, pasien akan dibimbing oleh praktisi dan biasanya sesi akan berlangsung selama 30-90 menit. Pada awalnya, pasien akan diajak untuk duduk atau berbaring. Suasana dalam ruangan juga semaksimal mungkin dibuat tenang dengan iringan musik pelan.
Setelah itu, praktisi akan memulai terapi dengan meletakkan tangan ke beberapa bagian tubuh pasien. Jika ada keluhan penyakit tertentu dari pasien, maka praktisi akan lebih fokus untuk meletakkan tangan pada bagian tubuh tersebut.
Lewat tangan sang praktisi, diharapkan akan terjadi penyaluran energi ke tubuh pasien sehingga mampu menyembuhkan atau menyeimbangkan energi secara keseluruhan, mulai dari fisik, emosi, pikiran, dan jiwa.
Apa saja manfaat terapi Reiki?
Lewat terapi Reiki, pasien akan menerima sebuah energi, di mana energi tersebut mampu merangsang tubuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit secara alami. Tidak hanya fisik, tapi juga berbagai keluhan kesehatan mental, seperti gangguan cemas, trauma, hingga depresi.
Dr. Rachel Lampert, M.D., seorang profesor di Yale School of Medicine mengatakan kepada Forbes, kalau Reiki punya manfaat baik untuk melepas ketegangan sehingga bisa memberi rasa rileks bagi pasien. Hal ini tentunya bisa membantu membuat suasana hati pasien menjadi lebih baik dan damai.
Selain itu, penelitian Indian Journal of Positive Psychology pada tahun 2012 juga mengungkap bahwa ada perempuan dengan masalah depresi yang berhasil membaik kondisinya dan menunjukkan perubahan yang signifikan setelah rutin melakukan terapi Reiki selama 10 minggu.
Reiki juga bermanfaat untuk membantu pasien dalam memperbaiki pola tidur atau masalah insomnia. Dengan kualitas tidur yang lebih baik, diharapkan pasien bisa merasa lebih segar dan positif dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.
Dilansir dari Forbes, sejauh ini terapi Reiki tidak memiliki efek samping yang berbahaya. Sebab, Reiki merupakan prosedur non invasif sehingga dianggap aman. Selain merasa rileks, ada juga pasien yang justru jadi bersemangat setelah menjalani terapi ini.
Meski begitu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penyembuhan keluhan tertentu, para pasien disarankan untuk memadukan terapi Reiki dengan perawatan medis dengan pendampingan dokter.
