Kumparan Logo

Mengenal Trauma Bonding, Hal yang Bikin Susah Keluar dari Hubungan Toxic

kumparanWOMANverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan terjebak hubungan toxic karena trauma bonding. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan terjebak hubungan toxic karena trauma bonding. Foto: Shutterstock

Ladies, apakah kamu punya teman atau orang terdekat yang kelihatannya tengah terjebak dalam hubungan toxic? Sebagai orang yang hanya memantau dari sudut pandang luar, mungkin saja kamu merasa heran dengan mereka yang menjalani hubungan tak sehat. Namun, bagi yang menjalaninya, bisa saja mereka benar-benar terperangkap karena mengalami trauma bonding.

Dilansir VeryWell Mind, trauma bonding adalah keterikatan yang dirasakan oleh korban kekerasan terhadap pelaku kekerasan. Fenomena ini banyak terjadi dalam hubungan yang memiliki pola kekerasan yang berputar atau berulang. Istilah trauma bonding pertama kali diperkenalkan oleh terapis bernama Patrick Carnes, Ph.D, CAS pada 1997 lalu.

Bond atau ikatan tersebut terbentuk akibat siklus kekerasan dan perilaku manis dalam hubungan. Jadi, usai pelaku melakukan kekerasan terhadap korban, ia akan memanipulasi korban dengan menunjukkan sikap penyesalan. Namun, setelahnya, pelaku akan kembali melakukan kekerasan dan mengulang pola yang sama. Pada akhirnya, pola ini bisa membingungkan korban dan membuat mereka bergantung pada pelaku.

Ilustrasi trauma bonding. Foto: aslysun/Shuttterstock

Dikutip dari Healthline, banyak hubungan tak sehat yang diawali dengan love-bombing atau tindakan menghujani seseorang dengan cinta berlebihan. Korban yang mengalami love-bombing dan trauma bonding kemudian akan selalu mengingat kebaikan pelaku setiap kali pelaku melakukan kekerasan. Korban biasanya akan meyakini bahwa pelaku bisa kembali menjadi sosok yang manis seperti di awal.

Tanda-tanda trauma bonding

Banyak tanda-tanda seseorang mengalami trauma bonding. Dikutip dari Healthline, trauma bonding bisa dilihat dari pola atau siklus yang terjadi. Jika pola kekerasan-penyesalan-kekerasan-penyesalan terus berulang, kemudian pola manipulasi tersebut mengaburkan pandangan soal kekerasan yang terjadi, trauma bonding bisa jadi dialami oleh korban.

Tak sedikit orang dalam hubungan toxic menyadari bahwa mereka terjebak dalam hubungan tidak sehat. Namun, mereka yang mengalami trauma bonding biasanya akan merasa kesulitan untuk bisa keluar dari hubungan tersebut. Ketika mencoba untuk keluar, ia kemungkinan besar akan merasa tertekan, baik secara fisik atau mental.

Ilustrasi trauma bonding. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Selain itu, orang yang mengalami trauma bonding biasanya akan membela diri dan pasangannya saat orang lain menyorot masalah dalam hubungan tersebut. Mereka juga akan melindungi pelaku dengan cara merahasiakan tindak kekerasan yang dilakukan.

Trauma bonding bisa terjadi karena respons freeze atau membeku ketika menghadapi masalah. Dikutip dari Healthline, ketika korban menghadapi kekerasan atau rasa takut akan kekerasan, otak akan mengenali tekanan tersebut dan memberikan sinyal pada tubuh.

Adrenalin dan hormon kortisol akan mengambil alih dan memulai insting bertahan pada korban. Kemudian, ketika pikiran soal kekerasan membuat korban kewalahan, korban akan memilih untuk fokus pada memori indah dan memblokir kenangan-kenangan buruk.

Apakah bisa keluar dari trauma bonding?

Beruntung, orang yang mengalami trauma bonding bisa menyelamatkan diri dari fenomena tersebut. Meskipun cukup sulit, korban bisa mencari pertolongan dari diri sendiri, orang terdekat, maupun tenaga profesional.

Ilustrasi trauma bonding. Foto: Shutter Stock

Korban bisa mulai dari menyadari apa yang terjadi pada diri sendiri dan hubungannya. Ini dapat dilakukan dengan mencatat pengalaman dan perasaan yang terjadi dalam jurnal. Kemudian, korban harus mencoba tidak menyalahkan diri sendiri.

Selanjutnya, korban bisa memutus kontak dengan pelaku sepenuhnya. Jika hal ini terlalu sulit untuk dilakukan, korban bisa meminta dukungan dari orang terdekat yang dipercaya.

Bantuan profesional, seperti psikolog, akan mampu membantu korban untuk mencari tahu faktor-faktor yang memperkuat trauma bonding, membantu korban dalam menetapkan batasan, hingga melatih korban dalam membangun hubungan yang sehat ke depannya.

Jika kamu memiliki orang terdekat yang mengalami trauma bonding, hal yang bisa dilakukan pertama kali adalah menjadi pendengar yang baik. Hindari menghakimi korban dan yakinkan dia bahwa dia tidak sendirian. Kamu juga bisa perlahan membujuk korban untuk mencari bantuan profesional serta meyakinkan korban bahwa kamu adalah ruang aman bagi dia.