Miris, Perempuan Gaza Minum Obat Penunda Menstruasi di Tengah Krisis Kemanusiaan
·waktu baca 4 menit

Situasi di Gaza saat ini sungguh memprihatinkan. Akibat serangan udara Israel yang sudah berlangsung sejak awal Oktober, rumah-rumah warga hingga sarana umum di Gaza rusak berat. Krisis kemanusiaan pun terjadi; 1,4 juta warga terusir dari rumah mereka, bantuan kemanusiaan terhambat, isu kekurangan pangan hingga air bersih pun merajalela.
Menurut laporan oleh Human Rights Watch, organisasi HAM yang berbasis di New York, Amerika Serikat, akses air dan listrik di Gaza diputus oleh Israel. Ini menyebabkan masalah kekurangan air bersih dan buruknya sanitasi. Pihak yang sangat terdampak oleh krisis air ini adalah perempuan dan anak-anak perempuan.
“Menurut PBB, hanya sedikit suplai air yang masuk ke Gaza dan hanya di area selatan Gaza. Warga hanya menerima sekitar tiga liter air setiap harinya, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan sekitar 50–100 liter,” ungkap Human Rights Watch.
Selain itu, suplai produk-produk menstruasi seperti pembalut dan tampon juga sangat minim, menurut laporan oleh Al-Jazeera.
Ini menjadi masalah besar bagi menstrual hygiene atau kebersihan menstruasi bagi perempuan. Selain memerlukan produk menstruasi buat menampung darah haid, perempuan dan anak-anak perempuan juga membutuhkan suplai air yang memadai demi menjaga kebersihan mereka selama menstruasi.
Ketika kekurangan air dan produk menstruasi menjadi hambatan, para perempuan pun mengambil langkah yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan, yaitu meminum obat untuk menunda menstruasi.
Dilansir Al-Jazeera, para perempuan meminum obat tablet norethisterone. Obat ini biasanya diresepkan untuk kondisi kesehatan, seperti pendarahan parah saat menstruasi, endometriosis, dan nyeri haid berlebih. Ini dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan dan rasa sakit.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Nasser Medical Complex di Khan Younis, Dr. Walid Abu Hatab, mengatakan obat tablet ini meningkatkan level hormon progesteron dalam tubuh perempuan. Dengan itu, rahim menangguhkan peluruhan dindingnya sehingga menstruasi pun tertunda.
Namun, obat tersebut datang dengan efek samping. Mereka yang mengonsumsi norethisterone bisa mengalami menstruasi yang tidak rutin, mual, perubahan siklus menstruasi, mood swing, hingga pusing.
Dikutip dari Al-Jazeera, perempuan Gaza bernama Salma Khaled berkisah soal kesulitan yang ia hadapi akibat menstruasi di tengah krisis kemanusiaan. Ia mengungkapkan, menstruasinya menjadi tidak rutin dan darah yang dikeluarkannya sangat banyak.
“Saya mengalami hari-hari terberat dalam hidup saya selama perang ini. Saya menstruasi dua kali di bulan ini—ini sangat tidak normal buat saya—dan pendarahannya cukup berat,” kata Salma.
Kemudian, ia mengatakan bahwa suplai pembalut di toko-toko dan apotek yang masih buka sangatlah sedikit. Krisis air dan banyaknya orang yang tinggal di rumahnya membuat mereka harus membatasi frekuensi mandi dan menggunakan kamar mandi.
Situasi ini membuat Salma memutuskan untuk menunda menstruasinya dengan cara meminum obat norethisterone. “Saya meminta anak perempuan saya untuk pergi ke apotek dan membeli obat untuk menunda menstruasi. Mungkin perang ini akan segera berakhir dan saya tidak perlu meminum obat ini lebih dari sekali,” ucap Salma.
Sulitnya menstruasi di tengah situasi perang
Dikutip dari Al-Jazeera, serangan Israel yang membabi buta tersebut menyebabkan warga harus mengungsi sementara di tempat pengungsian yang tersedia. Namun, kondisi di pengungsian sungguh padat dan tidak memberikan privasi yang cukup untuk para perempuan.
Menurut psikolog dan relawan di Gaza, Nevin Adnan, perempuan biasanya mengalami gejala-gejala fisik dan psikis ketika menstruasi. Mereka merasakan perubahan mood serta rasa nyeri di perut dan pinggang. Di tengah krisis kemanusiaan ini, gejala-gejala tersebut terasa semakin berat.
“Kondisi di mana mereka harus mengungsi ini menyebabkan stres yang ekstrem dan hal tersebut bisa berdampak buruk pada tubuh serta hormon perempuan,” ucap Nevin Adnan.
“Mereka juga bisa mengalami peningkatan gejala fisik yang berkaitan dengan menstruasi, seperti nyeri perut dan pinggang, konstipasi, hingga perut kembung,” lanjut Nevin.
Pengungsi Gaza bernama Ruba Seif turut mengalami stres akibat menstruasi. “Tidak ada privasi, tidak ada air di kamar mandi, dan kami tidak bisa dengan mudah keluar dari pengungsian untuk mencari kebutuhan kami. Saya tidak bisa menahan rasa kram menstruasi bersamaan dengan rasa takut yang selalu kami rasakan, kurang tidur, dan udara dingin karena tidak ada cukup selimut,” ucap Ruba.
Tekanan inilah yang juga membuat banyak perempuan memilih untuk meminum obat penunda menstruasi. Mereka ingin menghindari rasa malu yang disebabkan oleh kurangnya kebersihan, privasi, dan suplai produk-produk menstruasi.
“Dalam situasi perang, kami terpaksa melakukan apa pun yang kita bisa lakukan. Tidak ada pilihan lain,” tutup Salma Khaled.
Serangan Israel ke Gaza dimulai usai serangan yang diluncurkan Hamas, kelompok bersenjata Palestina, pada 7 Oktober lalu. Dilansir Human Rights Watch, serangan oleh Hamas menewaskan 1.400 orang di Israel.
Akibat serangan Hamas tersebut, Israel meluncurkan serangan balasan yang kini sudah menewaskan lebih dari 8.500 warga Palestina, dengan mayoritas korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak. Tak hanya membalas lewat serangan udara, Israel menahan suplai kebutuhan warga Gaza. Kondisi yang mencekam pun menyebabkan krisis pangan, kesehatan, kebersihan, hingga sanitasi di Gaza.
