Mitos atau Fakta: Pasangan Harus Punya Love Language yang Sama?
·waktu baca 2 menit

Ladies, kamu pasti sudah pernah dengar soal love language. Konsep yang dipopulerkan Gary Chapman ini membagi cara seseorang mengekspresikan cinta dalam lima bentuk: quality time, acts of service, words of affirmation, physical touch, dan receiving gifts.
Beberapa orang percaya, pasangan yang punya love language sama pasti lebih bahagia. Tapi, benarkah harus begitu?
Sebuah riset yang dipublikasikan di Jurnal Plos One menemukan bahwa pasangan yang berusaha menyesuaikan diri dengan love language pasangannya justru lebih puas dengan hubungan mereka. Temuan ini seolah mendukung anggapan bahwa matching love language bisa memperkuat hubungan.
Namun, hasil penelitian lain justru menunjukkan hal berbeda. Sebuah penelitian yang dipublikasikan Current Directions in Psychological Science menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa kesamaan love language adalah faktor penentu kebahagiaan pasangan.
Banyak orang ternyata tidak hanya punya satu bahasa cinta dominan, melainkan merasa dicintai lewat kombinasi dari beberapa cara. Jadi, punya bahasa cinta berbeda bukan berarti hubungan akan gagal.
Menurut Dr. Amie Gordon, psikolog sosial dari University of Michigan, konsep love language memang berguna sebagai metafora untuk memahami pasangan, tapi tidak perlu dijadikan kunci utama keberhasilan hubungan.
“Yang penting bukan apakah bahasa cinta kalian sama, tetapi apakah kalian berusaha memahami dan memenuhi kebutuhan emosional satu sama lain,” ujar Dr. Amie.
Jadi, jawaban dari pertanyaan “haruskah pasangan punya love language yang sama?” adalah: tidak.
Hal yang lebih penting adalah komunikasi, kesediaan untuk saling belajar, dan kemauan untuk menyesuaikan diri. Sebab cinta bukan hanya tentang berbicara dalam bahasa yang sama, tapi tentang dua orang yang saling mendengarkan dan memahami hati pasangan kita.
Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Pagi untuk Pacar LDR dalam Bahasa Indonesia dan Inggris
