Woman
·
3 November 2020 17:37

Nanaia Mahuta, Perempuan Keturunan Maori Pertama yang Jadi Menlu Selandia Baru

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Nanaia Mahuta, Perempuan Keturunan Maori Pertama yang Jadi Menlu Selandia Baru (110637)
Nanaia Mahuta. Foto: AAP / Ben McKay / via REUTERS
Seorang perempuan keturunan suku Maori bernama Nanaia Mahuta belum lama ini menjadi sorotan lantaran memiliki pencapaian yang luar biasa. Mahuta baru saja diangkat menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu) Selandia Baru, pada Senin (2/11).
ADVERTISEMENT
Melansir SBS News, tugas barunya itu menjadikan Mahuta sebagai perempuan keturunan suku Maori pertama yang menjadi Menteri Luar Negeri. Di mana Menlu Selandia Baru sebelumnya adalah Winston Peters, yang sama-sama keturunan dari suku Maori.
Mahuta menyebut bahwa penunjukannya sebagai Menlu Selandia Baru adalah hak istimewa yang sangat besar.
“Kami adalah negara pertama yang memberi perempuan hak untuk memilih, negara pertama yang memastikan bahwa kami progresif dalam masalah yang berkaitan dengan perempuan,” kata Mahuta kepada SBS News.
“Jadi, saya berharap banyak perempuan lain dari keturunan Maori, dan keturunan campuran di seluruh Selandia Baru, bisa melihat ini sebagai sebuah peluang besar,” tambahnya.
Sebelum menjabat sebagai Menlu Selandia Baru, Mahuta merupakan anggota parlemen Selandia Baru. Mahuta pertama kali terpilih menjadi anggota parlemen pada 1996. Kabarnya, sebelum menduduki kursi parlemen, Mahuta pernah memegang sejumlah jabatan penting, termasuk pemerintahan daerah dan pembangunan Maori.
ADVERTISEMENT

Nanaia Mahuta dan tato tradisional di dagunya

Empat tahun lalu, tepatnya pada 2016, Mahuta pernah tercatat sebagai anggota parlemen perempuan pertama di Selandia Baru yang memakai moko kauae, atau tato tradisional di dagunya.
Bagi perempuan suku Maori, moko kauae dianggap sebagai manifestasi fisik dari jati diri yang sebenarnya, demikian ditulis Vice. Selain itu, moko juga sangat sakral dan berisi informasi tentang leluhur, sejarah, dan status sosial pemakaiannya.
Menurut catatan sejarawan asal Selandia Baru, Michael King dalam bukunya berjudul 'Moko', moko adalah ritual peralihan yang menandai perjalanan gadis dan masa dewasa. Bahkan disebutkan bahwa pengaplikasian moko juga tak boleh sembarangan, sebab ada aturan sakral saat diterapkan pada seorang perempuan.
Saat diwawancarai Broadly, Mahuta menyebut bahwa keputusannya untuk memakai moko kauae pada 2016 silam adalah momen kebangkitan dirinya sebagai perempuan Maori ‘yang menerima tinta tradisional’.
ADVERTISEMENT
“Ada sejumlah pencapaian dalam hidup saya, dan rasanya tepat untuk menandainya dengan cara yang positif tentang identitas saya. Siapa saya, dari mana saya berasal, dan kontribusi yang ingin terus saya berikan,” kata Mahuta kepada Broadly.
Selain itu, Mahuta juga menyebut bahwa moko miliknya adalah sebagai bentuk peringatan akan kematian ayahnya. Di mana desain moko-nya menggabungkan pola ukiran tradisional, bernama Ngati Maniapoto. Bukan cuma itu saja, Mahuta juga menyebut bahwa ia mengaplikasikan moko tersebut untuk menginspirasi putrinya yang berusia tiga tahun.
“Sebagai seorang perempuan muda Maori, saya ingin putri saya tahu bahwa segala sesuatu ada di ujung jarinya, karena itu dia hanya perlu meraihnya,” tutup Mahuta.
----
ADVERTISEMENT
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)